Wednesday 18th September 2019,

222 Juta Penduduk Muslim, Kuantitas dan Kualitas yang Belum Seimbang

222 Juta Penduduk Muslim, Kuantitas dan Kualitas yang Belum Seimbang

ASWAJADEWATA.COM – Sekitar 87% (222jt) penduduk Indonesia adalah umat muslim, dan jumlah ini menempatkan Indonesia menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia saat ini mengalahkan Pakistan dan India di posisi kedua dan ketiga.

Realitas tersebut menjadikan Indonesia saat ini sebagai harapan dan tolak ukur perilaku kehidupan masyarakat Islam dunia, terlebih dengan adanya stigma negara-negara Islam yang kurang baik sekarang. Banyaknya negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas islam yang mengalami kemelut serta gagal merawat kehidupan berbangsanya menjadi sebab utama munculnya pandangan itu, entah karena masalah internal pemerintahannya atau karena sebab intervensi eksternal globalisasi dengan berbagai kepentingan yang sarat bermain di dalamnya.

Setiap konflik memang membutuhkan biaya tinggi, dan itu menjadi sebuah peluang bisnis yang menguntungkan bagi para pelakunya, apalagi konflik yang melibatkan sebuah negara, semakin luas dan panjang akan mendatangkan keuntungan yang semakin besar pula. Jadi sudah dapat dimengerti mengapa para pelaku bisnis trans nasional ini berkepentingan untuk menjaga keberlangsungan konflik ini dan memastikan agar kocek-kocek tetap mengalir ke kantong mereka bagaimanapun caranya.

Begitu pula yang sedang terjadi di Indonesia, gerakan untuk memelihara kondisi ini mendapatkan momentum yang tepat jelang pesta demokrasi akbar yaitu pilpres. Issue-issue sensitif terkait agama seperti syiah, liberal, menjadi modal efektif dan ekonomis yang semakin gencar diterapkan dalam melaksanakan gerakan ini, terutama ditujukan bagi pasar konsumen masyarakat awam yang sangat rentan terpengaruh oleh media seiring mudahnya akses informasi yang bisa didapat.

Indonesia sejak era pemerintahan sekarang telah menjadi salah satu negara Asia yang bersinar dan mengundang banyak perhatian negara lain, hal ini turut pula menarik tak hanya investor asing yang berminat untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi domestik, tapi juga investor konflik yang melihat bahwa peluang itu sangat terbuka.

Kondisi ini tak pelak menuntut kejernihan akal masyarakat dalam menyikapi situasi yang sedang terjadi dengan kearifan lokal untuk mengedepankan kepentingan bangsa secara umum yaitu persatuan, ketahanan ekonomi, dan budaya, karena di sektor inilah yang sekarang menjadi target utama gerakan itu. Keberagaman etnis, budaya, dan agama selain menjadi kekuatan bangsa ini sekaligus juga menjadi titik kelemahan seperti yang digunakan Belanda pada masa penjajahan kolonial dengan politik devide et impera nya.

Saat itu pemerintah kolonial Belanda mampu memelihara konflik berkepanjangan di Nusantara selama ratusan tahun hingga akhirnya terlahir formulasi ideologi kebangsaan oleh para pendiri bangsa yang dipelopori oleh tokoh-tokohnya seperti Soekarno, para pemuda dari berbagai daerah, dan ulama, melalui proses pemikiran panjang dan mendalam yaitu Pancasila.

Maka dapatlah disimpulkan jika belakangan ini muncul gerakan massa yang mengatasnamakan Islam dan mengklaim menjadi representasi umat Islam Indonesia secara keseluruhan itu adalah merupakan kekurangfahaman sebagian masyarakat muslim Indonesia dalam melihat akar permasalahan yang sedang terjadi di negeri ini, baik dalam proses politik, pemahaman keagamaan, begitu pula tentang sejarah latar belakang berdirinya NKRI.

Angka 7 juta sangatlah jauh kurang dari cukup jika dibandingkan dengan 222 juta jumlah penduduk muslim Indonesia untuk dapat disebut sebagai suara mayoritas, dan itu sangat mengecilkan arti Islam secara luas karena sisanya yang 195 juta tidak semua berpandangan sama.

Semoga kesimpulan ini benar adanya karena jika tidak, maka hanya ada kemungkinan kedua yaitu, bahwa gerakan ini adalah bagian dari gerakan yang bertujuan tetap memelihara instabilitas negeri ini dengan bungkus agama, serta memanfaatkannya secara politis guna memastikan terciptanya konflik horisontal berkepanjangan, seperti yang terjadi di negara-negara lain untuk menjadi pintu masuk negara-negara asing investor mereka agar dapat menikmatinya, dan hanya menyisakan puing-puing keruntuhan dari peradaban luhur sebuah bangsa besar yang pernah ada.

Wallahu a’lam

(dad)

thisisdadie

 

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »