Wednesday 16th October 2019,

Ainun dan Habibie, Perpisahan Singkat Itu Kini Berakhir Sudah

Ainun dan Habibie, Perpisahan Singkat Itu Kini Berakhir Sudah

ASWAJADEWATA.COM |

Primeval my love for the woman I love,
O bride! O wife! more resistless, more enduring than I can tell, the
thought of you!
Then separate, as disembodied, the purest born,
The ethereal, the last athletic reality, my consolation,
I ascend–I float in the regions of your love, O man,
O sharer of my roving life. – Walt Whitman

Mungkin puisi ini dapat menggambarkan kerinduan BJ Habibie akan Ainun belahan jiwanya setelah ditinggalkan menghadap Sang Khalik sembilan tahun silam.

Setidaknya itu tercermin di setiap ungkapan rindu BJ Habibie saat bercerita tentang istri tercintanya. Kepedihan ditinggal istri membuat Habibie menderita penyakit psikosomatis. Waktu itu dokter berkata, “Bila Habibie tidak melakukan apapun untuk tubuhnya, ia bisa menyusul Ainun dalam waktu tiga bulan”.

Perjumpaan mereka semasa kanak-kanak awalnya tak terlalu membekas di hati Habibie, namun takdir berkata lain sepulangnya dari luar negeri untuk menuntut ilmu. Saat beranjak dewasa, baru lah Habibie menyadari bahwa Ainun adalah sosok perempuan yang cantik dan mengagumkan. Saat berkunjung ke rumah Ainun, Habibie berseloroh bahwa ‘gula jawa’ telah berubah menjadi ‘gula aren’. Frasa itu merupakan analogi yang digunakan Habibie untuk menggambarkan perubahan Ainun yang kian cantik. Seperti yang tertuang dalam film box office nasional ‘Habibie & Ainun’.

Awal mahligai perkawinan mereka berdua tidak luput dari perjuangan layaknya yang lain, hanya saja mereka berdua melaluinya dengan sangat dewasa dan bijaksana, saling menjaga, menguatkan satu dengan yang lain.

“Pasangan ini bisa memberi nilai untuk satu sama lain. Pernikahan ialah kerja keras dan tidak semua berakhir baik. Ibu dan Bapak ialah dua orang cerdas dan dewasa sehingga mereka bisa melalui ini,” kata Gina S. Noer, penulis skenario film Habibie & Ainun.

Maka tak heran jika sepeninggal Ainun, Habibie sempat terpuruk dan kehilangan semangat menjalani kehidupan, sampai dokter yang merawatnya menyarankannya untuk membuat catatan pribadi. Selama dua bulan mengerjakannya, Habibie perlahan dapat merelakan kepergian Ainun, lalu berangsur bangkit dari kesedihan dan kembali mengerjakan aktifitas normal.

Hari-hari Habibie berikutnyanya dihabiskan dengan banyak kegiatan positif, sambil tetap rutin mengunjungi makam istrinya seminggu sekali untuk mendoakannya, mungkin juga untuk memenuhi panggilan rasa rindu akan sang belahan jiwa. Rutinitas ini selalu dilakukan Habibie jika sedang berada di Jakarta hingga jelang akhir hayatnya, saat tubuhnya melemah dan harus dirawat di rumah sakit.

Kini masa penantian itu telah berakhir. Pertemuan kembali dengan sang kekasih yang telah lama ditunggu pun tiba. Bagi Habibie, Ainun ialah cinta sejatinya. Sosok yang selalu ia doakan agar bisa kembali bertemu dalam kebersamaan yang abadi.

Semoga Allah SWT mengabulkan do’a yang setiap saat dipanjatkan Habibie di sisi makam istri tercintanya itu.

Selamat jalan Pak….

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »