Saturday 11th July 2020,

Al-harakah Barakah; Bergerak Kunci Raih Keberkahan (Bagian 1)

Al-harakah Barakah; Bergerak Kunci Raih Keberkahan (Bagian 1)
Share it

 ASWAJADEWATA.COM

Dalam kamus bahasa Arab, Almunawwir, lafadz al-harakah diartikan “gerakan”. Arti ini cukup sederhana dan sepertinya bisa dikatakan sepele. Namun, jika diimplementasikan pada sesuatu, maka akan sangat luar biasa atau super sekali. Semisal ketika ada orang sakit sampai pada kondisi kritis atau koma, semua orang yang menunggu di sampingnya sambil memperhatikan orang yang sakit tersebut. Maka akan sangat merasa lega dan bahagia bagi orang yang menunggu mana kala orang yang kritis itu tiba-tiba salah satu atau sebagian anggotanya bergerak.

Dalam kitab Mu’jam al-Mufashshal fi a-Nahwi al-‘Araby, karya Dr. Azizah, al-harakah menurut arti bahasa adalah tahawwul, taghayyur, dan intiqal. Sementara menurut arti istilah dalam kitab tersebut diartikan gerakan suara untuk mengucapkan huruf yang didhommahkan, dikasrahkan, atau difathahkan. Begitu juga al-harakah dalam istilah khaththathin atau ilmu imla’ (ilmu tentang cara menulis Arab) digunakan untuk menghidupkan huruf suatu lafadz agar bisa dibaca dan memiliki arti.

Ketika suatu susunan lafadz diberi harakah (harakat: bahasa Indonesi), tujuannya agar bisa dibaca. Karena huruf dalam suatu lafadz bergantung pada harakah. Oleh sebab itu, harakah dalam ilmu imla’ dan nahwu sangat penting untuk menentukan bacaan dan tentu arti dari lafadz itu sendiri. Ketika harakahnya berubah, maka arti dan maksudnya juga bisa berubah. Maksud berubah di sini adalah dari dhammah, kasrah, ke fathah. Ketika tidak diberi harakah, baik secara tulisan atau bacaan, maka lafadz tersebut tidak memiliki arti. Karena huruf Arab semuanya berstatus huruf mati, selalu bergantung pada harakah.

Berpijak pada pengertian di atas, jika al-harakah diimplimentasikan pada konteks kehidupan, akan memiliki arti yang sangat luar biasa. Semisal arti dari tahawwul dan taghayyur. Kedua lafadz ini memiliki arti perubahan, bergerak untuk berubah. Intiqal memiliki arti perpindahan, bergerak untuk berpindah. Tentu, arti dari semua ini jika dikaitkan pada konteks kehidupan, berkonotasi pada hal yang positif. Dari yang buruk berubah atau berpindah pada yang baik. Dari yang baik berubah atau berpindah pada yang lebih baik. Bergerak bisa diberi arti lebih luas lagi, semisal untuk beranjak, beralih, dan bergeser. Semua arti dari harakah ini, merupakan bentuk dari suatu aktifitas.

Oleh sebab itu, sangat pantas dan benar-benar luar biasa ketika lafadz al-harakah bergandeng dengan barakah. Al-harakah berstatus mubtada’ dan barakah berstatus khabar. Meminjam ungkapan Pak Mario Teguh, super sekali. Barakah diartikan bertambahnya kebaikan, ziyadatul khair. Ungkapan barakah tidak asing lagi, sudah menjadi istilah kehidupan kita yang kehadirannya sangat diharapkan. Dari setiap apa yang dilakukan atau diusahakan, harapannya adalah keberkahan.

Yang dimaksud bertambah pasti tidak lepas dari bergerak. Langkah seseorang tidak akan bertambah jauh jika kakinya tidak bergerak. Burung-burung tidak akan bisa terbang bertambah tinggi jika tidak menggerakkan kedua sayapnya. Artinya, untuk mendapatkan tambahan kebaikan harus bergerak dan terus bergerak. Barakah atau keberkahan hanya dapat diwujudkan dengan bergerak, atau siapa saja yang terus bergerak pasti akan mendapatkan barakah atau keberkahan.

Al-harakah dalam konteks alam semesta

Dalam konteks kehidupan alam kita, bergerak merupakan suatu aktifitas alamiah yang harus terjadi secara terus-menerus dan tidak boleh berhenti. Semua komponen alam ini pasti bergerak. Bumi bergerak mengelilingi matahari. Matahari bergerak berputar di porosnya, dan semua komponen lainnya di alam semesta ini bergerak sebagai bentuk aktifitas masing-masing sesuai sunnatullah.

Andai saja matahari tidak bergerak naik dari pengharibaannya, manusia tidak akan pernah melihat keindahan dan merasakan kehangatan mentari pagi. Andai saja matahari hanya bergerak sampai tepat di atas kepala manausia dan tidak bergerak lagi, maka betapa menderitanya anak-anak manusia karena menahan terik matahari di siang hari, dan tidak akan pernah melihat betapa indahnya senja di sore hari. Andai saja matahari berhenti di ujung senja, maka bulan yang memancarkan cahaya terangnya di malam gelap gulita tidak akan pernah terlihat oleh mata anak manusia.

Ombak yang menggulung menabrak karang-karang di lautan dan menggulung-gulung hingga ke tepi pantai. Betapa indahnya pemandangan itu. Tentu, keindahan ombak tidak akan pernah tercipta jika air di lautan hanya diam seperti air-air yang menggenang saja. Ombak merupakan hasil dorongan kekuatan angin yang bertiup kencang dan kuat, sehingga air di lautan tergerak saling menghantam dan mengarah ke pinggir menjadi gulungan yang indah dipandang.

Begitu juga, jika hari tidak bergerak-berganti menjadi hari yang lain, maka betapa perihnya penderitaan yang dirasakan oleh seseorang yang merasakan di hari itu, dan betapa waktu terasa sangat lama bagi orang yang merasakan kerinduan dan mungkin tidak akan bertemu lagi karena hari yang ditentukan tidak akan datang, karena hari tidak bergerak-berganti lagi.

Maka, al-harakah atau bergerak dalam kehidupan kita sehari-sehari harus terus terjadi, sebagaimana yang terjadi pada alam semesta. Jika kita mampu memahami dan merasakan dari setiap gerakan komponen alam semesta, maka kita akan terus bergerak dengan cara melakukan serangkaian aktifitas.

Al-harakah dalam konteks diri manusia

Sebagaimana penjelasan di atas, al-harakah atau bergerak merupakan sendi suatu aktifitas. Hanya dengan bergerak alam semesta akan tetap bertahan dalam kehidupan ini. Andai saja komponen alam semesta ini tidak bergerak, maka kehidupan di dunia ini akan berakhir. Begitu juga dengan diri seorang manusia. Di diri manusia terdapat komponen yang begitu kompleks, mulai dari sisi fisik yang tampak sampai pada sesuatu yang diluar penglihatan mata.

Fisik adalah komponen utama bagi diri seorang manusia. Dalam fisik manusia menyimpan kekuatan yang harus dijaga dan diperhatikan. Kekuatan tersebut sangat bergantung pada seberapa banyak fisik tersebut bergerak atau beraktifitas. Menurut ilmu kedokteran, orang yang kurang menggerakkan tubuhnya dalam sehari dan semalam, fisiknya akan lemas dan loyo, bahkan rawan terserang penyakit. Anjuran olah raga merupakan bentuk harakah yang akan membuat tubuh bertambah segar dan sehat.

Mungkin tidak perlu ke dokter untuk mengetahui tubuh kita tidak sehat ketika kita tidak banyak bergerak. Semisal, saat kita tidur dalam waktu yang cukup lama, maka sangat terasa tubuh kita menjadi lemas, loyo, dan bawaannya tidak semangat. Bedakan saja, orang yang suka tidur dan yang tidak, pasti dari sisi fisik dan spirit berbeda.

Jadi, Al-harakah atau bergerak bagi fisik harus dilakukan sesering mungkin dengan cara beraktifitas. Dengan beraktifitas –secara fisik- kesehatan anggota tubuh terjaga dari serangan penyakit. Sudah dimaklumi dan dirasakan sendiri, orang yang sering diserang penyakit karena salah satu alasan yang tepat adalah kurang bergerak atau beraktifits.

Selain dari sisi fisik, dalam diri manusia terdapat potensi. Setiap diri manusia pasti memiliki potensi. Potensi tersebut tidak serta merta muncul dan berkembang dengan sendirinya, harus diasah. Dari sekian potensi atau bakat yang diberikan oleh Allah, ada potensi atau bakat yang sudah tampak sejak dini dan gampang dikembangkan, dan ada potensi atau bakat yang harus diupayakan atau diasah agar dapat berkembang.

Potensi atau bakat yang ada dalam diri manusia, baik yang memang tampak sejak dini atau yang harus diupayakan, perlu diasah terus menerus. Potensi atau bakat merupakan mutiara yang harus digosok. Maksud digosok adalah upaya mengembangkan potensi yang ada pada diri seseorang. Banyak orang yang memiliki suatu bakat, namun karena mereka tidak menggosoknya, tidak berupaya untuk mencari ke dalam dirinya agar tampak, akhirnya bakat atau potensi itu terkubur.

Ketika potensi atau bakat diabaikan. Entah karena tak disadari, atau tidak menganggapnya sebagai bagian dari hidup yang harus dikembangkan, akibatnya potensi atau bakatnya tidak menjadi berkah (tidak berkembang).

Jika potensi atau bakat terus diasah, diupayakan semaksimal mungkin agar benar-benar tampak, maka potensi atau bakat itu akan muncul dari dalam diri seseorang dengan terang menderang. Sebagaimana mutiara yang terkubur di dalam lautan, yang digali lalu digosok, maka mutiara itu akan memancarkan cahayanya. Namun, jika mutiara itu tidak digali, maka mutiara itu tetap terkubur dan cahayanya tidak akan tampak memancar. Begitu juga potensi atau bakat yang ada dalam diri seseorang, jika seseorang itu tidak menggalinya dengan beberapa upaya, maka potensi atau bakat itu tidak akan pernah muncul. Jadi, gerakkan potensi atau bakat kita dengan terus diasah demi untuk meraih keberkahan hidup!

Orang yang menjadi besar, terkenal, bahkan yang memiliki derajat tinggi dan mulia di sisi Allah karena dia menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Seorang pemimpin atau tokoh, dia menjadi besar karena dia terus bergerak dengan kewibawaan dan kebijaksanaannya. Seorang penulis menjadi terkenal karena dia terus menekuni dan mengembangkan bakat tulisnya denga ide-ide dan gagasannya yang cemerlang. Seorang ulama pun menjadi hamba yang memiliki derajat tinggi dan mulia di sisi Allah karena terus menggerakkan hatinya dengan berdzikir dan bertaqarrub kepada Allah.

Dan, ada lagi di diri manusia yang tidak kalah pentinya dengan potensi. Karena yang ini rawan membunuh potensi yang ada. Yaitu, perasaan. Tidak jarang potensi seseorang menjadi hilang atau rusak karena perasaan yang bergejolak tidak mampu dikendalikan.

Senang, susah, derita, bahagia, sedih, gelisah, kecewa, dan setrusnya. Semua ini merupakan sejumlah isi perasaan yang kadang datang silih berganti, sesuai kondisi kehidupan kita dan seiring waktu yang bergulir. Siapa saja yang perasaannya masih normal, pasti merasakan semua itu.

Karena semua itu datang silih berganti, berarti ketika merasakan satu maka suatu saat akan merasakan yang lain. Sebagaimana ungkapan yang sangat lumrah, “Tak selamanya hidup ini bahagia” atau “Badai pasti akan berlalu”. Jika derita menimpa kita, maka segeralah bergerak untuk beralih ke perasaan yang lain, yaitu bahagia dan rasa senang. Bergerak di sini maksudnya, perasaannya dikendalikan dengan logika. Jangan biarkan perasaan kita larut dalam satu tempat sehingga kita jatuh pada penderitaan yang amat dalam.

Orang yang menderita hingga putus asa karena dia tidak mau menggerakkan perasaannya yang sakit pada perasaan yang sembuh, yaitu mencari cara dan jalan yang lain. Misalnya berusaha mendapatkan suatu prestasi, ternyata dia tidak bisa meski sudah berkali-kali. Pada akhirnya dia meratapi kegagalan itu dengan melarutkan perasaannya pada penderitaan, sehingga dia putus asa.

Sungguh naïf sekali, orang yang membiarkan dirinya jatuh pada lembah putus asa. Padahal kegagalan bukanlah nasib yang harus diratapi hingga mati, karena sesulit apapun, sesakit apapun hatinya, dan sedalam apapun penderitaannya, dia pasti akan lepas dari itu semua jika dia mau bergerak sedikit saja.

(Gus Tama)

Leave A Response


Translate »