Wednesday 18th September 2019,

Basmalah Sebagai Prinsip Interaksi Sosial

Basmalah Sebagai Prinsip Interaksi Sosial

ASWAJADEWATA.COM- Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Mengucapkan basmalah di kalangan umat Islam merupakan salah satu keutamaan (fadhilah) dalam setiap memulai aktivitas, baik dalam hal ibadah, suatu aktifitas, maupun interaksi sosial. Bagi kita (umat Islam) mengucapkan basmalah adalah keharusan, sehingga suatu perbuatan atau aktivitas tidak akan dianggap sempurna kecuali diawali dengan ucapan basmalah.

Di dalam al-Qur’an, semua surat pasti diawali dengan ungkapan basmalah, kecuali surat at-Taubah. Di sutau amalan yang biasa dibaca oleh ahli ibadah, pasti semuanya diawali dengan ungkapan basmalah. Itu menunjukkan betapa tingginya keutamaan basmalah bagi setiap memulai sesuatu. Nabi Sulaiman ketika hendak memulai interaksi sosial dengan Ratu Balqis, di dalam surat yang beliau kirim -sebagai surat undangan- diawali dengan ungkapan basmalah.

Di kalangan umat Islam juga, mereka yang benar-benar meyakini akan keutamaan basmalah, tidak jarang di dalam rumahnya memampangkan basmalah, baik di dinding ruang tamu, ruang keluarga, atau pun di kamar. Keyakinan mereka, selain mengharap fadhilah dari basmalah yang dipajang, mereka ingin menunjukkan bahwa identitas agamanya sebagai muslim, dan juga dengan harapan rumahnya tidak dihuni oleh setan yang mengganggu dirinya.

 

Basmalah; antara ucapan dan kenyataan

Setiap hari dan malam bahkan nyaris setiap saat, lafad basmalah kita ucapkan dan kita pandang di setiap dinding rumah yang terpajang. Namun tidak ada jaminan kita benar-benar mengerti tentang isi dan tujuan basmalah itu sendiri. Sepertinya kita hanya sekedar mengucapkan dan memajang dengan sekedar meyakini akan mendapatkan fadhilah.

Tentang isi dalam basmalah tersebut, ada dua lafadz yang menjadi komponin penting yang harus kita pahami. Yaitu lafad rahman dan rahim. Secara arti kamus, sebagian dari kita sudah mengetahui bahkan ada yang hafal. Namun secara arti kehidupan nyata, sepertinya kita belum mampu mengartikan kedua lafadz tersebut; kita hanya berhenti pada mengetahui artinya saja, tidak pernah berusaha mengaplikasikan ke dalam interaksi kehidupan.

Artinya, basmalah yang memiliki dua komponin yang menjadi isi basmalah tesebut, harus kita peraktikkan dalam kehidupan nyata, agar kita tidak hanya sekedar mengucapkan, mengetahui artinya, serta meyakini akan mendapatkan fadhilah, bahkan kita harus mewujudkannya dengan sikap dalam interaksi kehidupan, lebih-lebih kehidupan sosial.

Selain memahami isinya, kita harus memahi tujuan basmalah. Kenapa dalam lafadz basmalah hanya menggunakan sifat rahman dan rahim, tidak menggunakan sifat yang lain? Padahal Allah tidak hanya memiliki dua sifat itu. Kenapa basmalah tidak berbunyi “bismillalqadiriljabbar”, misalnya. Atau yang lain.

Tujuan basmalah menggunakan lafad rahman dan rahim tidak lain adalah mengajari kita harus memiliki, menggunakan, dan mengedapankan rasa kasih-sayang. Meski kita kaya, kuasa, perkasa, hebat, pintar, cerdas, dan lain-lain, yang harus kita utama miliki dan dikedepankan atau ditunjukkan dalam kehidupana nyata adalah kasih-sayang. Arti memiliki, jangan sampai ketika kita kaya atau kuasa, lantas rasa kasih-sayang kita abaikan dengan cara meremehkan dan menginjak-injak yang miskin dan lemah. Yang harus kita gunakan dan kedepankan ketika berinteraksi dengan semua orang adalah rasa kasih-sayang. Begitulah tujuan basmalah.

Basmalah yang berwujud kenyataan

Agar kita tidak hanya mengetahui dan menghafal arti basmalah dan sekedar meyakini mendapatkan fadhilah ketika mengucapkan, kita juga harus mewujudkannya dalam kehidupan yang nyata. Aplikasinya semisal, jika kita kaya, kita harus berbagi kepada yang miskin, jangan sampai harta kita dinikmati sendiri, apalagi kita memandang sebelah mata kepada mereka yang miskin. Jika kita menjadi penguasa atau pemimpin, kita harus mengayomi dan melindungi yang lemah, jangan sampai menelantarkan apalagi menindas mereka yang lemah. Jika kita diberi intlektual yang tinggi, kita harus mengajari yang bodoh, bukan meremehkan apalagi membodohi mereka.

Jadi, sekaya apapun kita, setinggi apapun pangkat kita, dan sehebat apapun intlektual kita, yang harus kita gunakan dan kedepankan ketika berinteraksi dalam kehidupan  adalah rasa kasih-sayang, lebih-lebih kehidupan sosial. Ketika rasa kasih-sayang digunakan dan dikedepankan, maka kekayaan, kekuasaan, dan intlektual tidak akan menjadi malapeteka bagi kehidupan kita.

Jika kita tidak menggunakan dan mengedapakan rasa kasih-sayang, sungguh basmalah yang kita ucapkan setiap hari hanya sekedar ucapan seperti orang yang ngigau. Atau, jika kita mengerti tapi tidak mewujudkan dalam kehidupan nyata, sungguh kita benar-benar memposisikan diri kita lebih tinggi dari Allah. Karena, Allah yang Maha Segalanya, ternyata Allah lebih menunjukkan kasih sayang-Nya dengan ungkapan basmalah, bukan menunjukkan sifat lain, seperti al-Mutakabbir.

Bahkan, serajin apapun ibadah kita, kita tidak boleh bersikap apatis kepada orang lain yang menurut kita jarang menunaikan ibadah, dengan anggapan orang itu tidak pantas dekat dengan kita. Justru, orang yang rajin ibadah-lah yang harus menunjukkan rasa kasih-sayang kepada orang lain. Sebab dia sudah istiqamah membaca basmalah dan memahami sifat-sifat Allah, yaitu rahman dan rahim-Nya yang terkandung dalam basmalah.

Semoga kita mampu memahami dan mewujudkan basmalah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga meskipun kita kaya, pintar, dan kuasa, kehidupan kita tidak pernah mengalami malapetaka seperti kekerasan, pelecehan, penindasan, dan lain sebagainya.

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »