Wednesday 18th September 2019,

Bergerak atau Terlindas dan Tertinggal

Bergerak atau Terlindas dan Tertinggal

ASWAJADEWATA.COM – Generasi NU di Era Digital memiliki tanggung jawab yang tidak sederhana dalam mengemban amanah perjuangan dan cita-cita para Muasis NU untuk menjaga nafas Ahlussunnah wal Jama’ah  (aswaja) dalam setiap gerak syi’ar Islam rahmatan lil ‘alamin. Terlebih di tengah gempuran faham-faham Neo Khawarij yang mencoba merongrong keutuhan bangsa melalui sisi spiritual religitas masyarakatnya.

Dengan dalih pemurnian Islam melalui  jargon kembali ke al Qur’an dan al Hadits menyiratkan bahwa seakan-akan apa yang selama ini dilakukan oleh ulama-ulama Nusantara adalah sesuatu yang sia-sia. Bagaimanapun NU menyampaikan bukti otentik keabsahan sanad ilmu para ulama penyampai risalah Nabi Muhammad SAW itu, tak lantas dengan mudah dapat membendung gelombang masif penyebaran virus takfiri ini.

Jika ditelaah lebih jauh, faham-faham tersebut mendapati momentum ini dengan memanfaatkan pergeseran peradaban dunia yang bergerak kearah digitalisasi segala aspek hidup keseharian manusia.

Hampir semua kebutuhan dasar manusia saat ini berkaitan dengan teknologi digital, dan yang meningkat pesat akhir-akhir ini adalah kebutuhan akan informasi. Terlebih lagi disaat ‘perang semesta’ antar negara tidak lagi menggunakan senjata konvensional sebagai alat utama, karena dinilai tidak terlalu efektif dan berbiaya besar. Sehingga dianggap tidak sesuai dengan apa yang didapat jika mereka memenanginya, apalagi jika kalah.

Kebutuhan orang akan informasi yang cepat memungkinkan manipulasi data dilakukan oleh para penyedia sesuai kepentingan mereka dengan menyertakan propaganda melalui framing narasi yang dibangun secara berkelanjutan. Hal ini mudah diterima sebagai kebenaran karena tidak hanya didapat dari satu sumber, melainkan dari berbagai sumber yang sepintas terlihat tidak saling terkait, walaupun sebenarnya berasal dari sebuah sistem yang sama.

Tujuannya adalah memanipulasi kebenaran yang telah diakui sesuai fakta, menjadi nilai kebenaran baru melalui modifikasi nilai-nilai kemanusiaan seperti  bencana alam, konflik sosial berdarah di suatu daerah, atau tragedi kemanusiaan, sehingga menyentuh sisi emosional seseorang atau suatu kelompok masyarakat, yang tanpa sadar telah dimanfaatkan oleh sebuah kepentingan entah itu politik, ekonomi, ataupun ideologi. Inilah yang dikenal saat ini sebagai Post Truth.

Strategi propaganda dalam perang dunia II yang pertama kali digunakan oleh Hitler ini diadopsi dengan bentuk media berbeda, yang sebelumnya disebarkan melalui kertas dari pesawat di atas daerah target sekarang melalui fasilitas layanan internet global. Dampaknya sangat luar biasa, khususnya dengan menggunakan aplikasi media sosial dengan platform alternatif beragam. Penggunaan proxy lintas negara menjadikan aksi ini semakin efektif dan efisien, tidak saja bagi kelompok/negara target namun juga menyebabkan gelombang yang mengganggu stabilitas keamanan, politik, sosial di lingkup regional dan global akibat empati yang muncul melalui kesamaan latar belakang budaya, ras, dan agama.

Seiring dengan mendominasinya media sosial sebagai wadah termudah mendapatkan informasi secara instan, maka semakin cepat pula misi Post Truth tersebut sampai ke target tujuan.

Disinilah tugas generasi NU saat ini tidak dapat dianggap mudah, tuntutan perubahan jaman mengharuskan mereka menjadi agen perubahan sebagai jembatan transformasi warga Nahdliyin menuju era dakwah digital. Bagaimana keharusan ‘melek digital’ dapat disadari secara menyeluruh oleh warga Nahdliyin sebagai sebuah harakah perjuangan yang harus segera diupayakan dengan serius, demi membendung serangan faham-faham yang bertolak belakang dengan akar budaya bangsa, sekaligus merawat dan menjaga nilai-nilai syi’ar aswaja an Nahdliyyah yang diwariskan oleh para pendiri NU sebagai salah satu unsur penting pelekat persatuan bangsa. Memahami cara kerja dan sistem yang dijalankan dalam setiap aplikasi yang berbeda itu, selain dapat memanfaatkan keuntungan finansial darinya, juga bisa membangun kesadaran akan pentingnya menyaring tiap informasi yang didapat sambil menguji kebenarannya. Pengayaan literasi digital melalui berbagai pelatihan dan seminar salah satu contohnya. Dengan tujuan akhir peningkatan kecerdasan digital warga Nahdliyin sebagai pelengkap keamanan tambahan yang diperlukan dalam mengarungi zaman era millenial.

Bergerak maju adalah satu-satunya langkah yang harus dilakukan jika tak ingin tergerus gelombang perubahan zaman dan semakin jauh tertinggal menyisakan sesal berkepanjangan.

(dad)

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »