Sunday 29th March 2020,

“Cinta Karena Allah” Menurut Gus Baha’

“Cinta Karena Allah” Menurut Gus Baha’
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Cinta karena Allah merupakan salah satu alasan dalam mencintai seseorang. Ya, alasan biasanya dijadikan dasar untuk mencintai. Sebab, ada sebagian orang menggantungkan cintanya pada alasan-alasan. Artinya, cinta itu akan tumbuh jika alasan itu ada, cinta itu akan utuh jika sesuai dan seiring dengan alasannya.

Alasan-alasan itu biasanya dipahami sebagai dari arti cinta. Semisal, jika ada seseorang mencintai dengan alasan kecantikannya, maka itu diartikan cinta karena fisik, ada yang mengatakan cinta karena nafsu. Jika ada yang mencintai dengan alasan hartanya, maka itu diartikan cinta karena materi. Jika ada yang mencintai karena akhlaknya yang baik, pengetahuannya yang luas, dan ibadahnya yang istiqamah, maka itu diartikan cinta karena kekaguman.

Baca juga: Gus Baha’, Jangan Sok Suci dengan Sedikit-Sedikit Sunah Nabi
 Gus Baha’: Ketika Rasulullah Butuh Guyonan

Alasan-alasan cinta di atas yang dimaksud cinta akan tumbuh dan utuh jika alasan-alasan tersebut ada. sebaliknya, jika alasan-alasan tersebut tidak ada maka cinta tak akan tumbuh, dan jika tumbuh lalu alasan itu tidak ada maka akibatnya cinta akan pupus dan sirna.

Mencintai karena Allah merupakan alasan mencintai yang dianggap cinta sejati dan hakiki. Pemahaman sementara yang menjadi dasar bagi alasan ini adalah mencintai bukan karena fisik, materi, kekaguman, dan nafsu. Mungkin juga bukan mencintai karena cinta. Akan tetapi, maksud alasan mencintai karena Allah adalah mencintai semata-mata karena ingin mendapatkan rido Allah.

Mungkin sebagian besar orang merasa sangat sulit atau bahkan mustahil mencintai karena Allah. Sebab mereka memahami mencintai karena Allah atau mencintai semata-mata karena ingin mendapatkan rido Allah, itu harus lepas dari alasan karena fisik, materi, kagum, dan nafsu. Padahal maksud mencintai karena Allah, sebenarnya tidak begitu. Jika harus lepas dari itu semua, berarti harus membuang fitrah atau qudrah seorang manusia, donk? Yang namanya manusia pasti tidak akan lepas dari itu semua, khususnya ketika hendak mencintai dan menikahi seseorang.

Menurut Gus Baha’ dengan mengutip maqalah Imam Ghazali, mengatakan, “Jika kamu mencintai istri karena menjauhkanmu dari zina, itulah cinta karena Allah”. Pernyataan ini terungkap dalam video https://www.youtube.com/watch?v=im2U-YyM_PI

Ya, dengan menikah lalu merasa aman dari zina adalah cinta karena Allah. Cinta karena Allah merupakan maksud dari pencapaian untuk mendapatkan rido Allah. Untuk mendapatkan rido Allah sudah pasti ada caranya. Cara tersebut adalah melakukan setiap sesuatu sesuai syari’at Allah. Dalam hal cinta yang dirasakan oleh dua anak manusia, Allah sudah memberi cara atau menunjukkan jalan untuk meraih cinta karena Allah, yaitu pernikahan. Allah men-syari’at-kan pernikahan sebagai cara bagi anak manusia untuk meraih cinta karena Allah, yakni demi terhindar dari zina.

Jadi, ciri-ciri mencintai karena Allah adalah niat untuk menikah yang kemudian terhindar dari zina, meskipun ada embel-embel karena fisik, materi, kagum, atau bahkan nafsu. Sebenarnya embel-embel inilah yang membuat anak manusia ada kecendrungan atau kehendak menikah. Selain itu, memang qudrah dan fitrah manusia. Asal saja tidak sampai menjadi ambisi, yang membuat fitrah tersebut menghilangkan nilai suci dan tujuan mulia pernikahan.

Ada yang benar-benar mencintai karena Allah, yaitu dia yang menikah tanpa ada rasa cinta bahkan suka pun tidak ada, tetapi dia mampu menjalani rumah tangganya dengan tetap sesuai aturan syari’at Allah. Mungkin ini bagi mereka yang pernikahannya karena dijodohkan. Jadi, jika benar-benar ingin meraih cinta karena Allah, menikahlah dengan orang yang tidak engkau cintai dan jalanilah kehidupan rumah tangga sesuai aturan syari’at Allah. Bisa gak, ya?!! Hehehe.

Penulis: M. Taufiq Maulana

 

 

Leave A Response


Translate »