Thursday 02nd April 2020,

Dampak Virus nCoV Terhadap Pariwisata di Bali, Bagaimana Menyikapinya?

Dampak Virus nCoV Terhadap Pariwisata di Bali, Bagaimana Menyikapinya?
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Bali

Oleh: Ekky Rezal M., SE

Virus 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan ke beberapa negara.

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Menurut  CNBC Indonesia, Korban tewas akibat virus corona asal Wuhan, China, terus bertambah. Per Senin pagi (10/2/2020), total kematian akibat virus mirip SARS ini mencapai 902 orang.

Komisi kesehatan Hubei juga mengkonfirmasi 2.618 kasus baru di provinsi Hubei, pusat awal wabah itu muncul pada Desember lalu. Ini menjadikan jumlah kasus infeksi naik menjadi 39.800 kasus diseluruh China. Jumlah korban tewas dan terinfeksi virus corona telah melampaui jumlah korban Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS). Pada saat mewabah di 2002-2003 lalu, SASR menewaskan 744 di seluruh dunia.

Sementara itu, di luar China, kematian dilaporkan terjadi di dua tempat, yaitu satu di Filipina dan satu di Hong Kong. Dari segi penyebarannya, virus corona dilaporkan sudah menyebar di sedikitnya 28 wilayah di luar China daratan. Dan untuk Indonesia sendiri menurut sumber Kompas.com Hingga saat ini kasus virus corona belum terkonfirmasi ditemukan di Indonesia. Beberapa kabar pasien yang dirawat karena dugaan virus corona di beberapa rumah sakit juga dipastikan masih negatif. Kondisi ini menjadikan Indonesia masih aman dari ancaman wabah virus corona yang menyebar dari Wuhan, China.

Untuk mencegah Virus tersebut masuk ke Indonesia, maka pemerintah Indonesia melalui kebijakan Presiden Republik Indonesia, sejak 5 Februari 2020 seluruh penerbangan, dari dan tujuan seluruh daratan Tiongkok (China) dihentikan sementara sampai waktu yang ditentukan kemudian.

Dalam menyikapi penyebaran Virus ini, saya mengajak seluruh pembaca khususnya yang tinggal berdomisili di Bali untuk melihatnya dari konteks dampak dari Virus tersebut terhadap kehidupan kita sehari-hari, khususnya perekonomian Bali yang sangat menggantungkan hidupnya dari Industri Pariwisata.

Dampak langsung dari wabah Virus Corona , serta dihentikannya seluruh penerbangan tersebut, pemerintah daerah Bali melalui Dinas Pariwisata Bali menyebutkan hingga akhir Feb 2020 ini, Bali mengalami kerugian 6 Juta US$ atau setara dengan 82 Milyar Rupiah. Angka itu mencapai 20.000 ribu wisatawan membatalkan kunjungannya.

Di perusahaan kami saja saat ini sudah 3 Perusahaan (event coorporate group) dengan jumlah hampir mencapai 2000 orang membatalkan event dan kunjungannya di Bali. Tahun 2019 saja sudah 1,8 juta orang dari China (berbagai kota) telah berkunjung ke Bali, membuktikan bahwa China termasuk pemasok devisa wisata untuk Bali.

Begitu dahsyatnya issue tentang wabah ini, khususnya bagi kita yang tinggal di Bali yang sangat bergantung hidupnya pada Industri pariwisata. Perlu kiranya kita semua menyatukan pemikiran dan tindakan agar pariwisata kita tidak lumpuh dan tentu tetap eksis.

Satu keistimewaan INDONESIA, bahwa sama sekali tidak terkena suspect Virus Corona tsb, padahal menurut WHO, Indonesia sangat rentan untuk penyebarannya, mengingat banyaknya warga negara China yang berkunjung ke Indonesia baik yang bersifat sementara maupun menetap/permanen.

Meski demikian parahnya, pada Sabtu lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa jumlah kasus yang dilaporkan setiap hari di China “stabil”. Lembaga itu juga memperingatkan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah wabah virus telah memuncak.

“Sangat dini untuk membuat prediksi,” kata Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, Dr. Michael Ryan, mengutip laporan NY Times.

Artinya, Indonesia sampai tulisan ini diturunkan masih dalam posisi aman sehingga tetap perlu langkah langkah pencegahan yang efektif sehingga dampak yang dihasilkan menjadi positif dan tidak berkembang menjadi kerugian yang tinggi.

Peran Media dan para Pemangku kebijakan baik di tingkat pusat maupun daerah khususnya Bali sangat penting untuk bisa men “drive” pola pikir masyarakat kearah positif, artinya : Media media konvensional maupun media digital (online) harus benar selektif dalam menebarkan berita, issue maupun kebijakan kebijakan pemerintah.

Kita bisa mengambil contoh Singapura dan Malaysia dalam hal ini, mereka sangat waspada terhadap virus ini namun semua pemberitaan tentang hal ini baik pihak Pemerintah, swasta maupun perorangan tidak melakukan Hoax (“berita palsu” Bahasa melayu) dan sangat terfilter oleh pemerintah dan mendapat hukuman jika hal itu terjadi.

Pengalaman pribadi yang kami alami saat kehadiran kami di Kuala Lumpur (4/02) hampir 99 % orang yang berada di Bandara KLIA, menggunakan Masker bahkan jika tidak punya diberikan gratis, dan diinfokan untuk tetap waspada (karena Airport, salah satu area public yg mudah untuk penyebaran Virus), info-info yang ada, baik lewat pemberitaan televisi maupun media lainnya selalu mengingatkan public tentang penting nya pencegahan, tidak menyebarkan berita sana sini yang tidak jelas. Begitu pula di Singapura, seluruh komponen masyarakat bersama sama mencari pencegahan yang terbaik.

Akibat dari semua ini, orang berkunjung ke Malaysia maupun Singapura merasa benar-benar aman, dan merasa terlindungi oleh “kewaspadaan’ dari semua pihak. Orang pun tidak ragu untuk melaksanakan kunjungan, walaupun di negara-negara tersebut melakukan hal yang sama, yaitu menutup seluruh penerbangan dari dan ke China, namun dari negara2 lainnya tetap stabil.

Dari hal diatas perlu kiranya kita semua yang ada di Indonesia khususnya di Bali :

  1. Menciptakan suasana Nyaman dan Aman buat siapapun yang ingin hadir/masuk ke
  2. Segala berita yang bersentuhan tentang V-Corona perlu kajian yang lebihmendalam, khususnya dampak yang dihasilkan, baik berita melalui cetak, dan
  3. Kebijakan pemerintah pusat maupun daerah disesuaikan dengan kondisi daerahmasing masing terkhusus daerah Bali yang sangat terasa akan dampak pariwisata di
  4. Systim pencegahan dan kewaspadaan perlu ditingkatkan disetiap area areapublik, khususnya Airport, Stasiun Bus dan Pelabuhan, sebagai ujung tombak kedatangan pariwisata.
  5. Aparat harus lebih tegas kepada Badan, Istitusi ataupun perorangan yang membuatsebuah pernyataan yang terkait khusus dengan kasus V-Corona, yang sifatnya berita bohong, hoax, atau yang akan membuat “gaduh” kondisi nasional maupu

Beberapa kali ujian dari kasus kasus yang berbeda, seperti  Bom Bali, Gunung Agung, dll seharusnya tentu kita sebagai masyarakat Bali punya pengalaman khusus agar para wisatawan menjadi tidak urung/batal untuk bepergian dengan tujuan utama adalah Bali.

Bali yang masih menjadi destinasi utama Indonesia dan primadona wisata dunia tidak akan “luntur” jika kita semua mau berusaha sekuat tenaga untuk tetap kuat dan satu dalam menyelesaikan persoalan pariwisata ini.

Masa Inkubasi suspect Virus Corona menurut standarisasi WHO Protokol adalah 2 minggu, dan saat ini sudah hampir mencapai 2 bulan, semoga Virus ini dapat tertanggulangi dengan baik di setiap negara.

Hanya usaha (ikhtiar), Doa, Kesabaran yang dapat menjadikan kita “kuat” untuk menghadapi segala ujian dan cobaan yang diberikan kepada umat NYA, dan kita harus dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan selalu menolong umat NYA yang dalam kesulitan.

(Penulis adalah Ketua NU Care Lazisnu PWNU Bali dan pegiat event internasional di Bali)

Leave A Response


Translate »