Tuesday 19th November 2019,

Dramaturgi Pop Dalam “Joker”

Dramaturgi Pop Dalam “Joker”
Share it

ASWAJADEWATA.COM – 

Oleh: Imriatun Muhlisoh

Film Pop kultur yang dirilis tanggal 2 Oktober 2019 berhasil membuat para penonton tercengang. Todd Philip berhasil menyutradarai film ini dengan sangat baik. Sebelum menjadi Joker, Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) tinggal di kota Gotham dalam kondisi keluarga yang tidak ideal, bersama dengan ibunya yang tidak kunjung ‘sadar’.

Kondisi kota Gotham yang penuh dengan kekacauan, sulitnya mencari pekerjaan, kejahatan disetiap sudut kota, kelas sosial yang mencolok, yaitu borjuis  serta proletar. Ditambah sikap dan kebijakan pemerintah yang dinilai tidak mampu menciptakan keadaan sosial dan ekonomi yang kondusif, membuat Arthur muak akan kehidupan yang dilaluinya.

Dramaturgi

Istilah dramaturgi dicetuskan oleh sosiolog Amerika, Erving Goffman.  Sebelumnya Goffman dipengaruhi oleh konsep Diri dari George Herbert Mead. Goffman menyatakan bahwa “Kita tidak harus tunduk pada untung dan malang” supaya manusia dapat memelihara dan menunjukkan citra yang stabil, mereka membuat sandiwara atas hidupnya dihadapan masyarakat. Goffman berpandangan bahwa kehidupan sebagai suatu serangkaian sandiwara dramatik seperti drama pada umumnya yang ditampilkan diatas panggung. Goffman menyadari bahwa diri bukan milik dari orang itu sendiri, melainkan diri sebagai tempat produk interaksi antara orang (aktor) dengan masyarakat (audiens). Pada dramaturgi terdapat beberapa komponen yaitu, panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).

Panggung Depan (frontstage)

Panggung depan merupakan bagian dari sandiwara yang secara umum berfungsi untuk mendefinisikan situasi yang dialami aktor kepada audien. Pada panggung depan aktor dituntut untuk sesuai dengan kehidupan yang ideal dan menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan. Hal yang disembunyikan sang aktor akan diulas di panggung belakang (backstage). Dalam panggung depan (front stage) terdapat elemen-elemen diataranya :

  1. Latar (setting) merupakan tempat sang aktor melakukan sandiwara seperti kantor, kampus atau tempat lainnya
  2. Situasi (scence) merupakan situasi fisik yang diperlukan oleh aktor.
  3. Penampilan merupakan item-item yang menceritakan kepada audiens tentang status sosial dan sikap menceritakan kepada audiens tentang gaya dan perilaku sang aktor.

Arthur Fleck menampilkan panggung depannya (front stage) ketika berada di tempat kerjanya dan di depan ibunya. Di depan mereka Arthur akan menampakkan senyum, kebahagiaan, dan tanpa beban. Namun di balik itu, jiwa Arthur merasakan kehampaan, kekecewaan, kebencian yang berhasil ditutupi oleh penyakit ‘tawa’nya. Melihat kondisi Arthur bahwa ia mengidap penyakit yang membuatnya tak dapat mengontrol syaraf tawa. Dia bisa tiba-tiba tertawa tanpa alasan yang jelas sehingga karenanya dia kesulitan mendapatkan pekerjaan di luar sana. Arthur akhirnya hanya dapat menjadi seorang badut sewaan yang diupah kecil. Dikisahkan Arthur dan ibunya tinggal di salah satu apartemen kecil di tengah kota dengan fasilitas yang pas-pasan. Mereka tidak menggunakan barang-barang mewah atau pun mahal dalam menunjang kehidupannya. Itu menunjukkan bahwa Arthur tidaklah hidup dalam kelas sosial yang tinggi.

Panggung Belakang (backstage)

Panggung belakang merupakan keadaaan yang bertolak belakang dengan panggung depan dan sang aktor berusaha menutupinya. Terdapat beberapa alasan  yaitu pertama, para aktor mungkin ingin menyembunyikan  kesenangan atau kesedihan yang tidak cocok dengan peran sandiwara yang selalu mereka mainkan. Kedua, para aktor ingin menyembunyikan kesalahan dalam mempersiapkan sandiwara. Ketiga, para aktor perlu menunjukkan produk-produk akhir saja dan menyembunyikan proses yang dilalui dalam menghasilkannya. Keempat, para aktor ingin menyembunyikan pekerjaan kotor dalam membuat produk-produk akhir. Kelima, sang aktor menyimpan penghinaan, perendahan dan perjanjian yang diterimanya agar sandiwara terus berlanjut, pada umunya para aktor memiliki kepentingan tertentu dalam menyembunyukan fakta-fakta dari para audiens.

Arthur berusaha selalu menampilakan dirinya yang bahagia, meski seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan kebahagiaan. Pengakuan itu disampiakan oleh Arthur ketika sedang menunggu ibunya yang koma di rumah sakit. Arthur berusaha menyembunyikan hal-hal yang dapat mempengaruhi hidupnya. Seperti ketika ia menembak tiga warga sipil di stasiun kereta dan lalu melarikan diri, jika Arthur mengakui kesalahannya maka ia akan ditahan dan tidak dapat merawat ibunya. Namun suatu ketika Arthur merasa lelah dengan ibunya yang dirasa telah membohonginya, Arthur membunuh ibunya yang tengah koma di rumah sakit. Ironis.

PRO DAN KONTRA

Film Joker memang menyampaikan banyak pesan tersirat sekaligus teka-teki besar di dalamnya. Seperti yang diketahui bahwa saat ini masyarakat dihadapkan pada dunia yang serba cepat, dinamika terjadi diseluruh sendi kehidupan yang menuntut manusia untuk menyesuaikan dengan masa yang berkembang. Sehingga hal tersebut menimbulkan dampak yang sangat mengkhawatirkan seperti menurunnya moralitas masyarakat atau yang sering disebut sebagai kegagalan etis di masyarakat.

Tidak sedikit yang mengecam film tersebut, karena dinilai sangat sadis dan penuh dengan ke-gila-an. Namun di sisi lain banyak yang mendukung film ini. Film Joker dapat dikatakan sebagai representai dari sebagian kecil masayarakat yang merasa ter-alienasi. Jika sebagian besar hanya melihat sisi kelam Joker, yang tega membunuh siapa pun. Maka tidak adil jika kta tidak menengok sisi humanis Joker, memiliki niat yang ikhlas dan tujuan yang mulia yaitu membuat sekelilingnya tertawa bahagia.

JOKER DAN KEHIDUPAN NYATA

Joker merupakan suatu film fiksi yang dikemas begitu apik dengan alur dan setting yang sudah diatur oleh sutradara. Sedangkan jika seseorang mengaktualisasikan Joker pada kehidupan nyata sangat tidak relevan. Pertama, Joker diceritakan hidup dalam kondisi tatanan masyarakat yang berantakan . Kedua, Joker mengidap penyakit yang membuatnya sulit diterima di masyarakat. Ketiga, sisi religius Joker tidak tampak. Berbeda dengan realita keadaan saat ini.  Pertama, keadaan saat ini masih dalam taraf kehidupan yang dapat dikatakan cukup teratur, pekerjaan dan kondisi ekonomi itu merupakan hal yang wajar dalam dinamika kehidupan. Kedua, kalaupun ada yang mengidap penyakit, kendalanya lebih pada faktor ekonomi. Pun itu tidak menjadi alasan seseorang untuk berlaku seperti Joker. Ketiga, Orang Indonesia kental dengan budaya bangsa dan Pancasila. Menjujung tinggi sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”, sehingga setiap warga negara Indonesia memiliki kepercayaan masing-masing. Dimana moralitas religi tersebut cukup mampu mengontrol prilaku yang terjadi di masyarakat.

Jika para penonton hanya melihat Joker sebagai ‘Orang baik yang dikecewakan’ yaitu bahwa Joker pada mulanya adalah seseorang yang memiliki karakter yang baik, sopan, ramah. Kemudian menjadi Joker yang penuh dengan kekecewaan kepada ibu, teman, ayah, pemerintah dan masayarakat. Mungkin penonton lupa bahwa Joker adalah seorang yang selalu ingin bermain-main.

Joker hanyalah sebuah film fiksi, maka tidak semua dalam film Joker dapat dijadikan referensi bagi kehidupan nyata. Petiklah hikmah positif pada setiap apa yang didapat darinya. Selalu berfikir dan bertindak positif maka akan menghasilkan sesuatu yang positif bagi sekeliling kita. Cobalah untuk membuat orang-orang disekelilingmu tersenyum dengan senyuman yang kalian lemparkan

Sumber :

Ritzer,  George.  (2014). Edisi Kedelapan Teori Sosiologi Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Posmodern. (Saut Pasaribu,  dkk. Penerjemah). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave A Response


Translate »