Monday 16th September 2019,

Era Zettabyte, Pilihan Informasi atau Disinformasi

Era Zettabyte, Pilihan Informasi atau Disinformasi

ASWAJADEWATA.COM – Pengguna internet di Indonesia diramalkan akan meningkat dari 43.6% total populasi di tahun 2017 menjadi 77.3% di tahun 2022. Demikian menurut Visual Networking Index (VNI) Forecast yang diterbitkan oleh Cisco tahun lalu. Cisco adalah sebuah perusahaan teknologi multinasional dari San Jose, California, yang mengembangkan, memproduksi, dan menjual utamanya peralatan telekomunikasi dengan target pasar Internet of Things (IoT), keamanan domain, dan bahkan manajemen energi.

Bila dipadukan dengan proyeksi total jumlah penduduk Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencapai 271 juta jiwa pada tahun 2020, maka jumlah pengakses internet pada tahun-tahun tersebut diramalkan berjumlah sekitar 209 juta jiwa. Masih menurut Cisco, setiap penduduk Indonesia diramalkan akan memiliki paling tidak dua buah perangkat elektronik yang tersambung ke internet. Mudah sekali saya mengira-ngira apa saja dua perangkat tersebut. Kombinasikan saja perangkat-perangkat berikut ini: telepon genggam, laptop/komputer, tablet, jam tangan pintar, dst.

Dengan segala pro dan kontranya, internet sedang dan akan segera menguasai berbagai bidang kehidupan. Saya kira beberapa contoh peristiwa berikut merupakan contoh relevan dampak internet khususnya dalam bidang industri, sosial-politik, bahkan hak asasi manusia (HAM): dipopulerkannya istilah „Industrie 4.0“ di Hannover Fair tahun 2011, peristiwa Arab Spring yang terjadi sekitar awal tahun 2011, dan UNESCO yang berpendapat dalam penelitiannya di tahun 2015 bila akses ke internet merupakan faktor penting dalam merealisasikan HAM. Tentu saja banyak sekali contoh lain yang terjadi sehari-hari di depan kita.

Selamat datang di era Zettabyte. Era dimana sebuah „V“ (value, nilai) ditentukan oleh empat „V“ lainnya: volume (kuantitas), velocity (kecepatan), variety (keberagaman), dan veracity (ketepatan) informasi digital yang ditransmisikan melalui internet. Setidaknya demikian tafsiran saya dari sebuah diskusi singkat bersama kawan baik kami, seorang profesor asli Indonesia yang mengajar di sebuah universitas Jerman, yang juga berkhidmah di PCINU Jerman.

Sebagian pihak mungkin menegasikan atau bahkan sengaja memisahkan ketepatan sebagai parameter terakhir untuk membentuk sebuah nilai. Coba saja amati model propaganda firehose of falsehood yang mengguyur publik dengan informasi yang salah secara sengaja, berkepanjangan, dan dari berbagai jalur. Tak ayal sebagian ahli juga menjuluki era ini dengan istilah era post-truth.

Dalam penelitiannya mengenai model propaganda ini yang dirilis tahun 2016, C. Paul dan M. Matthews mengatakan bahwa model ini memiliki potensi pengaruh yang efektif. Bahkan terhadap individu atau kelompok yang menekankan pentingnya nilai-nilai kebijakan konvensional seperti ketepatan (verocity, lagi-lagi) dan konsistensi.

Saat membaca kalimat ini, saya menjadi tak heran lagi bila saya sendiri, atau sebagian anggota keluarga, atau juga sebagian warga nahdliyin, ternyata turut terpengaruh. Bahkan terhadap tuduhan, atribusi, atau juga opini orang lain, apalagi yang menggunakan berbagai label mulai dari sekularis, pluralis, liberalis, pendukung LGBT, hingga komunis gaya baru.

Padahal kalam-kalam sarat ilmu dan hikmah dari para kyai dan nyai, mulai dari yang mengajar di musholla-musholla kampung hingga masjid besar di kota metropolitan, khususnya tentang kebenaran, kejujuran, dan kebaikan sungguh tak kurang. Dan ketiga kualitas ini tentu terkait erat dengan ketepatan.

Lalu bagaimana cara menanggulanginya?

„Don’t expect to counter the firehose of falsehood with the squirt gun of truth”, kata C. Paul dan M. Matthews. Kira-kira terjemahannya berarti “jangan berharap untuk menanggulangi firehose of falsehood dengan sedikit percikan kebenaran.”

Mereka kemudian menyarankan berlevel-level strategi untuk menghadapinya. Mulai dari (1) memberi peringatan awal, (2) peningkatan kesadaran, (3) tidak melawan disinformasi dengan fakta (cukup kaget juga saat membaca bagian ini) melainkan segera menanggulangi dampak yang diinginkan dari penyebaran disinformasi tersebut, (4) berkompetisi dengan membuat “firehose of truthhood” hingga bila semua ini gagal, maka (5) mematikan sumber-sumbernya langsung menjadi jalan terakhir.

Tanpa mengesampingkan perjuangan para pendahulu di belantara hutan nyata, saya yakin para penerusnya juga diharapkan melanjutkan perjuangan beliau-beliau ini di belantara hutan maya tanpa meninggalkan yang pertama. Sebab, pemirsa dunia maya akan terus bertambah seperti ramalan diatas.

Karenanya, semoga para kyai, nyai, ustadz, ustadzah, santri senior hingga junior, berkenan terus aktif menulis di berbagai macam media online hingga buku/kitab digital, juga membuat video-video yang berisi kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatan sebanyak-banyaknya agar kami dapat terus belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang sesungguhnya, agar NU menjadi “firehose of thruthhood” di era Zettabyte ini.

– Gus Rodlin Billah –

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »