Monday 16th September 2019,

Fikih Muslim Bali Jelaskan Kondisi Toleransi Ketika Nyepi Bertepatan Hari Jum’at

Fikih Muslim Bali Jelaskan Kondisi Toleransi Ketika Nyepi Bertepatan Hari Jum’at

ASWAJADEWATA.COM- Selama penulis tinggal di Bali, sudah tiga kali merasakan Hari Raya Nyepi. Memang benar-benar sepi. Suasana yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk perkotaan, menjadi sepi dan sunyi. Tepat shalat subuh semuanya menjadi hening. Tidak ada suara bergemuruh mengisi ruang dan waktu. Semua aktifitas, terutama aktifitas yang dilakukan luar rumah. Perkantoran, mall, pertokoan, pasar, lembaga pendidikan, dan semua yang menjadi tempat kerja orang-orang sementara ditutup atau diliburkan.

Intinya tidak ada aktifitas di luar rumah. Semua orang berdiam di rumah masing-masing, atau sebagian ada yang memilih keluar dari pulau Bali, dijadikan kesempatan berlibur atau bersilaturrahim dengan keluarga di luar Bali. Dan sangat lebih terasa sepi dan sunyi setelah matahari terbenam. Seluruh wilayah Pulau Seribu Pura ini seolah ditelan kegelapan malam, karena tidak ada cahaya lampu yang hidup memancar, memang benar-benar sepi dan gelap.

Begitulah kondisi Bali di saat merayakan Hari Raya Nyepi. Bagaimana jika Hari Raya Nyepi bertepatan dengan hari Jum’at atau Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha? Saat seperti inilah kita akan menyaksikan betapa masyarakat Bali sungguh menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi sebagai wujud hubungan yang harmonis dengan umat Islam di Bali. Ketika Hari Raya Nyepi bertepatan dengan hari Jum’at atau Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha, umat muslim di Bali tetap diperkenankan menunaikan shalat Jum’at di Masjid.

Titik pertemuan toleransi antara umat Hindu dan umat Islam terletak pada kesepakatan bersama. Yaitu umat Islam dipersilakan menunaikan shalat Jum’at atau shalat Idul Fitri atau Idul Adha, dengan tidak menyalahi aturan prinsip Hari Raya Nyepi. Yakni, umat Islam dimohon tidak menggunakan kendaraan untuk pergi ke tempat ibadah shalat Jum’at dan umat Islam diminta tidak menggunakan pengeras suara ketika azan, bilal, dan khutbah.

Menurut cerita yang penulis dapati dari orang-orang yang sudah tinggal lama atau memang lahir di Bali, memang demikian kondisi ketika Hari Raya Nyepi bertepatan hari Jum’at atau Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha. Berita tentang toleransi dan keharmonisan ini juga bisa kita temukan di berbagai media yang memuat informasi kondisi Bali saat Nyepi bersamaan dengan hari Jum’at atau Hari Raya umat Islam. [Dikutip dari Buku Fikih Muslim Bali/Tim LTNNU Bali]

 

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »