Thursday 06th August 2020,

Gus Baha’, Beragama ‘Santuy’ Seperti Nabi

Gus Baha’, Beragama ‘Santuy’ Seperti Nabi
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

“Sekarang itu ada orang yang menyampaikan Islam seolah Islam itu aturannya repot, mengekang dan bahkan terkesan bengis”. Pernyataan ini disampaikan Gus Baha’ saat Ngaji Bareng di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang

Saat ini memang ada orang yang gampang mengklaim dan suka menuduh orang lain yang berbeda, dengan tuduhan bid’ah, sesat, kafir, bahkan ahli neraka.

Menurut Gus Baha’, “kemungkinan orang yang seperti ini karena kurang baca”. Orang yang bacaanya terbatas apalagi taunya hanya satu dalil saja maka sangat gampang mengklaim salah orang lain.

Gus Baha’ berdasarkan bahwa Allah menghendaki agama ini mudah, sebagaimana dalam Alquran dinyatakan,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Kemudian Gus Baha’ menguatkan tentang mudahnya Islam dengan menyatakan, “Padahal Nabi sendiri kalau mengajarkan kebaikan itu rileks”. Rileks dalam bahasa kerennya saat ini “santuy”. Ya, agama yang diajarkan Rasulullah memang rileks, tidak pernah mengajarkan Islam seperti mereka yang kaku, keras, bengis seraya gampang mengklaim orang lain sesat, bid’ah dan ahli neraka.

Beberapa contoh yang disampaikan Gus Baha’ betapa Nabi menyampaikan ajaran Islam itu santui.

  1. Kisah Sahabat Mu’adz yang mengadu kepada Rasulullah karena ada ma’mum yang mufaraqah dari jama’ah. Ketika Sabahat Mu’adz menjadi Imam membaca surat Al-Bqarah, ada salah satu ma’mum yang mufaraqah lalu disampaikan kepada Rasulullah. Mungkin tujuan Sabahat Mu’adz agar orang yang mufaraqah itu ditegur Rasulullah. Tapi ternyata, yang disalahkan adalah Sahabat Mu’adz yang membaca surat panjang sementara ma’mum yang mufaraqah adalah seorang petani. Rasulullah menegur Sahabat Mu’adz agar ketika menjadi Imam memperhatikan ma’mum yang memiliki kepentingan dalam pekerjaannya. Maksud dari hadits ini adalah kebolehan mufaraqah dalam shalat berjamaah jika memang ada ‘udzur. Jadi, ajaran Islam itu tidak kaku justru memperhatikan kepentingan setiap muslim.
  2. Puasa sunah karena tidak ada makanan atau sarapan. Ketika Rasulullah bertanya kepada Siti Aisyah, apakah ada makanan dan Siti Aisyah menjawab tidak ada, Rasulullah langsung memutuskan puasa sunah. Jika memang ada makanan/sarapan, Rasulullah tidak puasa sunah. Maksud hadits ini mengajarkan kita bahwa Islam itu mudah khususnya dalam beribadah puasa sunah, tidak harus berniat di malam hari.
  3. Ketika Rasulullah mengadakan majelis ilmu di masjid, ada orang yang tidak ikut mejalis ilmu malah kerja ke kebun. Semua sahabat yang ikut majelis Rasulullah menggerutu, ini orang gak bener, kok bisa pergi ke kebun sementara Rasulullah sedang mengadakan majelis ilmu. Malah Rasulullah bilang dengan santai kepada Sahabat, itu bagus karena ikut ajaran saya. Ngaji ajaran saya kerja juga ajaran saya. Dia kerja ke kebun karena mencari nafkah untuk keluarganya. Hadits ini menjelaskan bahwa kita jangan gampang menganggap salah kepada orang lain hanya karena kita merasa melakukan kebaikan.
  4. Ketika ada orang ingin masuk Islam tetapi syaratnya tidak boleh dilarang melakukan zina. Semua sahabat yang mendengar ucapan orang ini kaget dan marah. Para Sahabat berkeyakinan Rasulullah akan marah juga ketika orang tersebut datang kepada Rasulullah dan menyampaikan ucapannya itu. Namun apa yang terjadi ketika berhadapan dengan Rasulullah, orang tersebut tidak dimarahi atau dibilang ahli neraka seperti ada kelompok sekarang yang mudah menerakakan orang lain yang dianggap salah. Justru Rasulullah membimbing orang itu dan merubah pikirannya yang masih dikuasai nafsu melakukan zina. Rasulullah bertanya, bagaimana jika ibumu, bibimu, saudarimu yang diperlakukan zina oleh laki-laki lain? Mendengar pertanyaan tersebut, orang yang hendak masuk Islam tapi tetap ingin berzina, pikiran dan hatinya langsung terbuka dan langsung menganggap zina sebagai perbuatan keji. Hadits ini menjelaskan kepada kita bagaimana Rasulullah sangat memudahkan ajaran Islam bahkan bagi orang yang masa lalunya bejat. Rasulullah menyampaikan ajaran dengan menerima siapa saja bahkan orang-orang yang penuh dosa dan Rasulullah tidak menngklaim mereka sebagai ahli neraka.

Demikianlah dakwah Islam yang disampaikan oleh Gus Baha’. Sudah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Gus Baha’ ingin, ajaran Islam itu disampaikan dengan rileks atau bahasa sekarang yang keren, santuy.

Wallahu a’lam.

Penulis: M. Taufiq Maulana

Tulisan ini disarikan dari Ngaji Bareng Gus Baha’. Link video https://www.youtube.com/watch?v=Rbyvjf6rqJI

 

 

 

Leave A Response


Translate »