Tuesday 07th April 2020,

Gus Baha’: Jangan Benci pada Orang Maksiat

Gus Baha’: Jangan Benci pada Orang Maksiat
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Tidak ada manusia sesuci Malaikat. Malaikat memang diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang hanya mentaati seluruh perintah-Nya, tidak pernah ada celah kesalahan, kedurhakaan, atau kemaksiatan. Di manapun ia berada bahkan di tempat-tempat maksiat pun tetap kebaikan yang dilakukannya.

Begitu juga, tidak ada manusia yang bercita-cita selaknat Setan. Setan memang dikehendaki oleh Allah menjadi makhluk yang membangkang, durhaka, atau bermaksiat kepada Allah. Di manapun ia berada bahkan di masjid pun tetap keburukan yang dilakukannya.

Sementara manusia berada di tengah-tengah. Manusia diciptakan oleh Allah dengan diberi dua pilihan, antara mengikuti Malaikat atau di jalan Setan dan Iblis dirinya akan terjerat. Allah sudah memberi jalan bagaimana mengikuti Malaikat dan juga memberi rambu-rambu agar tidak tersesat di jalan setan dan Iblis dengan melakukan kemaksiatan.

Oleh sebab itu, sedurhaka apapun seorang hamba tidak lantas berkeinginan menjadi selaknat setan. Dia hanya terpedaya oleh jeratan setan. Begitu juga, serajin apapun ibadah seorang hamba bukan berarti sudah menjadi suci seperti malaikat, pasti ada salah dan dosa. Karena tidak ada hamba yang ma’shum sebagaimana Rasulullah.

Jangan hanya karena sudah rajin beribadah dan melakukan perintah dan menjauhi larangan syari’at lantas merasa sudah suci. Akibatnya sombong dan meremehkan orang lain. Bahkan ada yang merasa sudah memegang kunci surga sehingga mudah sekali mengkafirkan orang yang bermaksiat. Dia bangga akan ibadahnya lalu menghina orang yang berdosa.

Padahal dalam ajaran agama kita tidak pernah diajarkan menghina dan menvonis orang lain sebagai ahli neraka. Terutama dalam menyampaikan dakwah. Sebagaimana pesan Gus Baha’, “Soal mereka tidak shalat, tidak bener, ya kita bina. Jangan sampai kita menganggap mereka adalah kafir. Karena bagaimanapun mereka nyumbang penghapusan simbol-simbol kekafiran. Makanya kamu jangan ikut aliran yang gampang mengkafirkan orang. La wong mereka ini anti dengan selain Allah, kok mau dikafirkan. Allah itu memperhitungkan amal sampai sebiji atom.” Link video https://www.youtube.com/watch?v=im2U-YyM_PI

Pesan Gus Baha’ tersebut ada tiga poin yang perlu digaris bawahi:

Pertama, “ya kita bina”. Membina, membimbing dan menasehati adalah ajaran dakwah Islam. Ayatnya sudah jelas, bahwa mengajak orang untuk melakukan kebaikan harus dengan cara hikmah dan mau’izhah hasanah. Jika orang yang bermaksiat lalu dinasehati dengan tuduhan pendosa dan ahli neraka, ya tidak akan masuk kehati yang menjadi kesadaran diri, malah akan menjadi tekanan yang membuat orang tersebut bisa putus asa. Harus dipahami bahwa dakwah itu menanam harapan kepada orang agar ketika dia memang penuh dosa masih ada niat untuk memperbaiki.

Kedua, “Jangan sampai kita menganggap mereka adalah kafir”. Orang yang mudah menganggap orang lain kafir karena dia merasa yang paling Islami. Seharusnya membimbing atau menasehati tidak boleh diukur dengan diri sendiri, apalagi diukur dengan merasa baik dan suci. Karena orang yang menilai orang lain dengan dasar kesucian dirinya, akan membuat dirinya sombong dan menganggap orang lain salah dan penuh dosa.

Ketiga, “Allah itu memperhitungkan amal sampai sebiji atom”. Meski orang itu pendosa karena kemaksiatan yang dilakukan, tapi kita tidak tau apakah dia selalu dan selamanya melakukan kemaksiatan. Tentu sebagai seorang muslim yang masih beriman kepada Allah pasti ada kebaikan dalam hatinya. Paling tidak keimanan itu sendiri yang masih tertancap dalam hatinya. Meskipun dia jelas-jelas tidak shalat, meskipun dia nyata melakukan zina atau kemaksiatan yang lainnya, pasti dalam hatinya tetap iman kepada Allah.

Dalam kitab Hikam dijelaskan, lebih baik berdosa tapi membuat diri kita menyadari perbuatan dosanya, dari pada rajin ibadah tapi membuat hati merasa suci dan sombong. Sesungguhnya kelakukan baik atau taat sebagai ujian untuk mengukur apakah kita merasa suci dan sombong. Kelakuan buruk sebagai ujian untuk mengukur apakah kita masih memiliki harapan untuk bertaubat.

Memang, orang yang selalu baik lalu merasa baik akan gampang menganggap orang lain tidak baik. Atau, orang yang tak pernah melakukan kemaksiatan lalu melihat dirinya suci akan gampang melihat orang lain yang berdosa dipandang sebagai orang yang buruk. Dia begitu gampang menyalahkan orang atau menganggap orang yang melakukan kesalahan sebagai orang yang snagat buruk, karena dia tidak tahu bagaiamana jika dia seperti mereka.

Sangat perlu dipahami dan diingat, yang dimaksud maksiat tidak hanya maksiat yang tampak kita lihat, tapi ada maksiat yang tidak terlihat dan tidak kita sadari. Salah satu yang rawan terjadi, adalah ketika kita merasa saleh sendiri dan menganggap orang lain pendosa dan menuduh ahli neraka. Ibadahnya rajin tapi hatinya juga rajin menilai orang lain salah dan penuh dosa, inilah maksiat yang terselubung.

Sesunggunya, kita jangan tertipu dengan amal kebaikan yang kita lakukan! Seseorang yang melaksanakan banyak amal kebaikan lalu dalam hatinya senantiasa merasa dekat dengan Allah dan merasa suci dan aman dari siksa Allah, orang tersebut akan celaka. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mentaati perintah-Nya bukan untuk merasakan diri sendiri suci apalagi untuk menilai orang lain. Allah menciptakan manusia untuk beribadah tanpa mengharapkan ombal balik.

Begitu juga, jangan merasa terpuruk dengan dosa-dosa yang telah kita perbuat, baik dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Seseorang yang sengaja atau tidak sengaja telah melakukan kemaksiatan atau dosa-dosa lalu dia merasa putus asa dari rahmat Allah, orang tersebut telah menjebak dirinya dalam kegelapan. Padahal dosa-dosa seorang hamba sangat kecil bila dibandingkan dengan keluasan ampunan dan rahmat Allah.

Kenapa Allah mengharamkan bunuh diri, atau memasukkan bunuh diri pada kategori dos-dosa yang besar (kabair)? Karena Allah selalu memberi kesempatan pada seorang hamba untuk selalu memperbaiki diri dari kesalahan, membenahi diri dari kekeliruan, dan bertaubat dari dosa-dosa. Jadi, ketika seseorang melakukan dosa bsar, semisal berzina, membunuh orang, merampok, korupsi, (na’udzubillah), dia tetap akan mendapatkan peluang ampunan dan rahmat Allah, selama dia berniat dan bertekad kuat meninggalkan dosa-dosa itu dan mendekat pada Allah dengan cara mentaati perintah-Nya.

Orang yang saleh atau orang yang diterima di sisi Allah bukan orang yang tidak pernah melakukan dosa, melainkan dia yang selalu bertaubat dan bertekad meninggalkan larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Karena pada hakikatnya, tidak ada seorang manusia yang lepas dari dosa-dosa. Sekecil apapun pasti pernah melakukan, entah dengan sengaja ataupun tidak.

Dari tiu, sesungguhnya dosa yang kita lakukan (entah sengaja atau tidak) bukan semata sebagai perbuatan dosa yang tidak memiliki hikmah. Mungkin dengan dosa yang kita lakukan, hikmahnya kita tak merasa paling suci dan sombong pada orang lain yang dianggap tidak ahli ibadah. Mungkin dengan dosa, kita tahu bagaimana caranya bertaubat meratapi dosa. Mungkin selama ini taubat kita tak sepenuh hati karena masih merasa diri kita tak pernah melakukan dosa. Mungkin dengan dosa yang kita lakukan, yang awalnya gampang menduga orang lain penuh dosa atau menuduh orang lain yang berdosa sebagai ahli nereka. Nah, dengan kita memiliki dosa kita tak akan begitu lagi.

(Gus Tama)

Leave A Response


Translate »