Saturday 11th July 2020,

Habib Jindan: Untung Kita di Indonesia Nih, Islam Dibawa Walisongo

Habib Jindan: Untung Kita di Indonesia Nih, Islam Dibawa Walisongo
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Santai, asyik dan menyegarkan banget pola dakwah yang dijelaskan Habib Jindan. Kali ini saya lagi-lagi akan mencatat pesan-pesan menarik, asyik dan inspiratif dari dawuh seorang keturunan Rasulullah yang menyejukkan dalam setiap kalimatnya.

Dari channel you tube Habib Ja’far, saya akan mengutip dawuh Habib Jindan tentang bagaimana seorang muslim menyampaikan dakwah Islam. Habib Jindan menjelaskan materi dakwah dengan merujuk sekaligus meneladani dakwah para Walisongo di Indonesia.

Dawuh Habib Jindan, “Untung kita di Indonesia, nih. Di Indonesia, kita, Islam dibawa oleh Walisongo. Walisongo ketika masuk ke Indonesia lembut, santun. Gak ada datang tiba-tiba menghancurkan berhala. Maaf, maaf. Ya, kan? Santun, lembut hingga orang-orang tertarik masuk kedalam agama Islam”

Karena kelembutan dan santunnya para Walisongo inilah, Islam menjadi berkembang di Indonesia. Islam benar-benar dibawa oleh Walisongo dengan wajah yang lembut penuh senyuman bukan wajah amarah menimbulkan kekerasan.  Andai saja Islam dibawa oleh orang yang keras sehingga mencerminkan Islam itu garang, dipastikan tidak ada orang yang tertarik kepada Islam, justru malah membenci Islam.

Sebagaimana dawuh Habib Jindan. “Kalau seandainya yang masuk duluan kita hidup sebelum Walisongo, kita datang duluan ke Indonesia ini bawa Islam, niscaya gak ada yang masuk Islam. Udah keburu rusak citra Islam. Gara-gara salah kaprah”

Maka sebagai seorang mukmin harus mencerminkan wajah Islam yang lembut, tunjukkan agama Islam kepada siapapun dengan prilaku yang lembut. Karena Islam akan dilihat oleh orang lain dari sikap pemeluknya. Habib Jindan berpesan, “Mukmin adalah cermin mukmin yang lain. Cerminkan Islam yang Indah, yang bagus ke masyarakat”

Kembali kepada teladan Walisongo, bahwa Walisongo dalam beradaptasi bersama orang-orang yang tidak kenal Islam di masa itu, dengan sikap atau ucap yang menyesuaikan dengan masyarakat. “Walisongo datang kesini tidak bisa bahasa setempat, tapi bahasa apa? Bahasa rahmat, bahasa kasih sayang, bahasa amanat, bahasa kejujuran, bahasa berderma, bahasa sosial, bahasa adab, bahasa akhlak, itu yang membuat orang tertarik. ” (Gus Tama)

Leave A Response


Translate »