Tuesday 25th February 2020,

Haul Gus Dur di Gereja, Gus Fayyadl: Gus Dur Cerminan Sikap yang Moderat

Haul Gus Dur di Gereja, Gus Fayyadl: Gus Dur Cerminan Sikap yang Moderat
Share it

ASWAJADEWATA.COM-Penulis Buku Filsafat Negasi asal pesantren, Muhammad Al-Fayyadl, hadir sebagai pemantik dalam acara Refleksi Kebangsan dalam rangka memperingati satu dekade Alm. KH. Abdurrahman Wahid, Minggu (18/01/2020).

“Saya hadir disini sebenarnya gara-gara mbak Anita Wahid, karena saya ini sebagai santri pondoknya Gus Dur (Alm. KH. Abdurrahman Wahid),” Tutur Muhammad Al-Fyyadl. Ia juga bercerita bahwa pernah menuntut ilmu selama satu tahun di Ciganjur, Jawa Barat, “Jadi kalok ada Kiainya pasti harus hadir,” Tambahnya.

Mengenai Acara yang dikemas oleh komunitas Gusdurian Probolinggo ini, Muhammadh Al-Fayyadl mengaku baru pertama kali menghadIri acara di Gereja, tepatnya di halaman Gereja Katolik Marya Bunda Karmel. “Loh kok gak sekalian saja di dalam Gerejanya, mungkin panitianya masih sungkan,” Candanya kepada salah satu panitia saat mengantar surat undangan.

Mengadakan acara Haul di Gereja menurut Muhammad Al-Fayyadl merupakan hal yang unik di kalangan masyarakat Probolinggo. Akan tetapi, “Yang diperingati (niatya mengadakan haul) ini adalah upaya mengenang sosok Al-maghfurullah Alm. KH. Abdurrahman wahid. Dari beliaulah kita dapat banyak belajar bahwa cerminan sikap yang moderat, dan ini (acara) merupakan contoh dari moderatisme.

Ia melanjutkan, dalam perspektif umat Islam, ada perdebatan ketika menyaksikan fenomena orang Islam masuk ke tempat ibadah agama lain. Hal ini menurutnya merupakan polemik yang luar biasa. “Yang jelas ini diharamkan oleh ulama karena ada kekhawatiran hilangnya identitas keimanan itu sendiri, tapi bagi mereka ada yang mengatakan perbuatan ini bentuk muamalah saja dalam artian hubungan sosial. Fenoemana ini memiliki banyak polemik, bahkan sampai ke ranah konflik, baik lintas agama maupun antar agama,” Jelasnya.

Menurut intelektual muda pesantren ini, persoalan-persolan tersebut bersumber dari kesulitan untuk memisahkan ranah ibadah dengan ranah muamalah. Ranah ibadah adalah ranah hubungan kita dengan Allah, sementara ranah muamalah adalah ranah antar manusia.

Contoh mengucapkan selamat natal, ini sebagai ranah muamalah bukan ranah amaliyah/ibadah.  “Orang muslim ada di gereja juga sebenarnya tidak masalah. Sejauh dalam ranah muamalah/ibadah. Sikap inilah yang disebutkan dalam Al-Quran sebagai hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia),” Jelasnnya.

Ia menambahkan, “Kalau ada seseorang yang mengatakan berada di dalam gereja adalah bentuk sesuatu yang ekstrim, bagi kami yang dari kalangan pesantren mengadakan haul di pesantren-pesantren itu sudah biasa, karena Gus Dur dari pesantren. Sebagai komprominya ngambil titik tengah, ini yang dinamakan tawassut (mengambil satu titik tengah dari perbedaan) dan islam itu agama yang mengajarkan tawassut.”

Sebagaimana Gus Dur, berusaha untuk mendamaikan dua pendapat yang bertentangan, antara pendapat pro dan kontra. Sebagai penerus Bangsa, Muammad Al-Fyyadl mengatakan sikap toleransi ala Gus Dur adalah sikap yang tidak membedakan agama satu dengan yang lain.

Di lain sisi, Ia juga mengatakan dua hal jika ingin menjadi layaknya Gus Dur, “Belajarlah yang luas, bergaullah dengan luas, janganlah memilah-memilih seseorang selama mereka masih berwajah manusia,” Pungkasnya.

Sumber: alfikr.co

Leave A Response


Translate »