Wednesday 18th September 2019,

Hubungan antara Agama dan Budaya

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh: Dr. Saihu, M.Pd.I

Agama dan kehidupan beragama merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan sistem budaya umat manusia. Sejak awal kebudayaan manusia, agama, dan kehidupan beragama telah menjadi fenomena tersendiri dalam mewarnai corak dan bentuk dari semua perilaku budaya manusia sehingga membentuk sebuah integrasi yang utuh antara pengamalan agama dan budaya dalam proses pendidikan di tengah masyarakat. Agama yang dimaksud adalah semua yang disebut religion, apakah itu agama wahyu, agama natural, dan agama lokal. Namun demikian, jika ditanya apa sebenarnya agama itu, atau apa pengertian dan definisi agama itu, ternyata susah untuk dijawab (sulit mendapatkan pengertian dan definisi agama yang pasti yang bisa diterima oleh setiap orang). Mukti Ali, seorang ahli perbandingan agama di Indonesia menyatakan, bahwa agama adalah suatu kata yang sulit untuk didefinisikan. Menurutnya, ada tiga argumentasi yang berkaitan dengan pertanyaan mengapa agama sulit didefinisikan? Pertama, karena pengalaman agama itu adalah soal batin, subjektif, dan individualistis; Kedua, tidak ada orang yang begitu semangat dan emosional daripada membicarakan agama, sehingga sulit mendefinisikan arti kata agama; Ketiga, konsepsi tentang agama akan dipengaruhi oleh tujuan orang yang memberikan pengertian tentang agama itu sendiri.

Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri kata “a” yang berarti tidak, dan “gama” yang berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan serta mengantarkan manusia menuju keteraturan dan ketertiban atau menjadi jalan serta tujuan hidup manusia. Masyarakat beragama umumnya memandang agama sebagai jalan hidup yang dipegang dan diwarisi secara turun menurun oleh masyarakat agar hidup menjadi tertib, damai dan tidak kacau. Pengertian ini juga terdapat dalam kata religion yang berasal dari kata religio. Dalam bahasa Latin, religion berasal dari kata religare yang berarti mengikat. Kata-kata agama, sering juga berawalan “I” dan atau “U”, dengan demikian masing-masing berbunyi igama dan ugama. Sebagian pakar agama menyatakan bahwa antara agama-igama-ugama, adalah kosa-kata yang telah lama diterapkan oleh penduduk Bali. Orang Bali memaknai agama sebagai peraturan, tata cara, serta upacara yang menghubungkan antara masyarakat biasa dengan raja. Sedangkan igama, adalah tata cara yang mengatur hubungan manusia dengan dewa-dewa. Sementara ugama, dipahami sebagai tata cara yang mengatur hubungan manusia dengan manusia.

Islam, mengadopsi istilah agama sebagai terjemahan dari kata al-din yang berarti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan dan kebiasaan. Agama Islam disebut din, karena agama merupakan sebuah lembaga ilahi yang berfungsi untuk membimbing manusia untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat. Lebih luas lagi, al-din (agama) bukan saja menyangkut soal keyakinan, namun juga menyangkut suatu sistem aturan yang diperuntukkan bagi manusia, baik dalam hal hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan antara manusia dengan lingkungan. Tiga macam hubungan dalam agama ini, dapat dilihat dari; Pertama, pengakuan akan adanya kekuatan gaib yang menguasai atau memengaruhi kehidupan manusia; Kedua, adanya keyakinan bahwa keselamatan hidup manusia tergantung pada hubungan baik antara manusia dan kekuatan gaib tersebut; Ketiga, adanya sikap emosional di hati manusia terhadap kekuatan gaib tersebut, seperti; rasa takut, penuh harap, pasrah, hormat, cinta, dan lain sebagainya; Keempat, adanya tingkah laku tertentu yang dapat diamati seperti; salat, doa, puasa, suka menolong sebagai buah dari tiga unsur sebelumnya.

Secara teologis, Muslim membedakan agama-agama di dunia menjadi dua kelompok: Pertama, agama wahyu atau samawi, yaitu agama yang diwahyukan Tuhan kepada para rasul-rasul-Nya, seperti kepada Nabi Daud as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, dan Nabi Muhammad Saw. Keyakinan sentral dalam agama wahyu yang diajarkan oleh wakil Tuhan pada setiap masanya, adalah tentang ketauhidan (mengesakan Tuhan), yaitu mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan hanya kepada-Nya ketaatan dan ketakwaan ditujukan. Agama samawi tidak saja berkaitan dengan kehidupan keagamaan semata, tetapi juga menyangkut kehidupan sosial dan budaya lainnya. Agama samawi juga mendorong agar kehidupan keagamaan, kehidupan sosial dan kehidupan budaya lainnya dapat tumbuh dan berkembang secara terpadu untuk mewujudkan suatu sistem budaya dan peradaban yang Islami. Kedua, agama bukan wahyu. Yaitu agama-agama yang muncul sebagai hasil dari budaya, perasaan, dan pikiran manusia, kemudian dikenal dengan nama agama ardhiyat (agama bumi).

Untuk lebih memudahkan penjelasan tentang agama bumi, berikut saya uraikan keterangan yang sangat sederhana. Agama dan kehidupan beragama sesungguhnya telah ada dan tumbuh berkembang sejak awal manusia berbudaya di muka bumi. Agama dan kehidupan beragama tersebut merupakan unsur yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial-budaya tahap awal manusia. Boleh dikatakan, bahwa agama dan kehidupan beragama tersebut merupakan pembawaan fitrah bagi manusia. Artinya, bahwa dalam diri manusia, baik secara sendiri-sendiri maupun secara kelompok, terdapat kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang bersama dengan kecenderungan dan dorongan lainnya. Dalam kehidupan bersama suatu kelompok atau masyarakat yang hidup dalam suatu lingkungan tertentu membentuk suatu sistem budaya tertentu. Sistem budaya tersebut terbentuk secara berangsur-angsur sebagai hasil dari upaya atau budi daya manusia untuk merealisasikan kecenderungan dan dorongan-dorongan, serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan kehidupannya yang secara bersama-sama sesuai dan serasi dengan lingkungan alam sekitarnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa kecenderungan dan dorongan-dorongan bawaan manusia untuk beragama itu tumbuh dan berkembang secara alami bersama dengan sistem dan lingkungan budaya masyarakatnya. Agama yang demikian ini biasa dikenal dengan Agama Alami, atau Agama Budaya, karena tumbuh dan berkembang bersama dalam sistem budaya manusia. Agama Alami atau Agama Budaya tersebut juga dikenal sebagai Agama Akal, karena tumbuh dan berkembangnya berdasarkan atau sebagai produk dari penggunaan akal dan budi daya manusia semata-mata. Karena merupakan produk budi daya manusia dalam kehidupan di muka bumi, maka agama ini juga disebut sebagai Agama Bumi (Ardli), yakni agama yang tumbuh dan berkembang di muka bumi, dan bukan turun dari langit.

Sekalipun terkesan adanya kontradiksi antara agama bumi dan agama langit, tidak semua yang dihasilkan oleh budaya (agama bumi) bertentangan dengan apa yang diajarkan wahyu. Akan tetapi, jika ada agama yang mempunyai keyakinan atau akidah yang bertentangan dengan konsep-konsep ketauhidan, maka dapat dipastikan atau dapat digolongkan sebagai agama bukan wahyu (samawi).

Sebagai agama wahyu, ajaran Islam bersumber dari pengetahuan dan pemberitahuan Ilahiyat yang terdapat dalam kitab suci Alquran dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Yang dimaksud dengan sunnah Nabi di sini adalah: perkataan, perbuatan, serta persetujuan (taqrir) yang berasal dari Nabi Muhammad Saw. Bagi umat Islam, ajaran dan nilai kebenaran akidah tauhid, syariat, dan akhlak adalah bersifat mutlak, universal, serta tidak tergantung dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Yang dimaksud dengan akidah dalam ajaran Islam adalah suatu pengambilan keputusan untuk meyakini dan membenarkan dan atau tanpa ada keraguan sedikitpun akan keesaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha menentukan, Maha adil, Maha mendengar dan Tuhan yang menjadikan manusia sebagai hamba sekaligus khalifah (wakil Tuhan) di muka bumi.

Lain halnya dengan akidah, syariat merupakan sarana untuk menjalin hubungan manusia dengan Tuhan (ibadat) dan sarana menjalin hubungan dengan sesama manusia dan lingkungannya (muamalat). Dalam syariat Islam yang menyangkut ibadat atau tata caranya berhubungan dengan Tuhan, telah ditentukan oleh Allah dan rasul-Nya. Sedangkan dalam syariat yang menyangkut muamalat (pergaulan antar sesama manusia), berpegang pada prinsip “segala sesuatu yang ada diluar ibadah pada dasarnya boleh, kecuali apa yang dilarang Allah dan rasul-Nya”. Karena itu sebenarnya, dalam lingkungan muamalat pintu ijtihad telah dibuka. Sedangkan ajaran akhlak adalah ukuran mengenai perbuatan baik dan buruk menurut akidah dan syariat Islam. Jika ajaran akidah memberikan arti dan tujuan hidup yang benar bagi seorang Muslim, maka syariat Islam menunjukkan suatu kebaikan yang harus dikerjakan dan keburukan yang harus dijauhi, serta sesuatu yang kurang baik atau lebih baik untuk ditinggalkan. Semua ini menggambarkan adanya penilaian moral terhadap semua perbuatan manusia atau terhadap lingkungannya.

Menurut umat Islam, kebenaran Islam adalah satu dan bersifat mutlak, tetapi paham manusia tentang ajaran wahyu ini terkadang berbeda-beda. Ini didasarkan pada kehidupan manusia dalam menghadapi berbagai tantangan, tuntutan serta dorongan lain. Agama sebagai suatu yang transenden dalam pelaksanaannya sangat bergantung pada penafsiran manusia itu sendiri. Hal yang sama juga bisa dilihat dalam hal aspek syariat Islam. Syariat Islam adalah satu, sedangkan pemahaman dan kesimpulan para ulama tentang syariat dalam Islam tidak selamanya satu. Oleh karena itu banyak dikenal beberapa mazhab dalam pemikiran Islam. Karena keterbatasan kemampuan manusia, maka ayat-ayat dalam Alquran yang bersumber dari Tuhan, tidak dapat dipahami secara hakiki dan manusia menafsirkan ayat-ayat Alquran dan berbagai perilaku keagamaan manusia hanya berdasar pada interpretasi mereka.

Dalam kerangka kebudayaan, posisi agama dapat ditempatkan dalam kompleks gagasan, nilai dan ide yang abstrak, yakni agama dalam wujud hasil pemahaman manusia atas ajaran wahyu, bukan agama dalam arti ajaran wahyu itu sendiri. Hasil pemahaman manusia atas wahyu Tuhan membentuk nilai-nilai, ide-ide, gagasan-gagasan yang terinternalisasi dalam diri manusia yang menjadi landasan motivasional bagi perilakunya. Melaksanakannya, meyakini, dan menghayati ajaran agama, merupakan kebudayaan, karena dilakukan oleh manusia atau penganut agama tersebut.

Clifford Geertz, berargumen, bahwa agama sebenarnya tak lebih dari sistem budaya (culture system). Agama menurutnya, merupakan realitas sosial yang keberadaannya tercermin dalam aktivitas kemanusiaan; seperti makan, minum, tidur, belajar, membaca dan sebagainya. dengan kalimat yang lebih distingtif, Anne Marie Malefijt, menjelaskan, bahwa agama adalah the most important aspect of culture. Aspek yang dimaksud adalah, bahwa agama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan institusi budaya-budaya lain. Ekspresi religius ini bisa ditemukan dalam budaya material perilaku manusia, nilai, moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum, politik, seni, sains dan sebagainya. ia menegaskan, bahwa ada kebudayaan lain dari agama yang lebih luas pengaruh dan implikasinya dalam kehidupan manusia.

Selain merupakan aspek kebudayaan, agama juga meliputi tata cara ritual keagamaan, sehingga dapat ditemukan perbedaan dalam penghayatan dalam beragama yang disebabkan oleh persoalan individu, umur, lingkungan sosial dan alam. Agama dan kebudayaan dapat saling memengaruhi, karena keduanya adalah nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan, kemudian kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa bertahan hidup dalam lingkungannya. Perbedaan antara agama dan budaya adalah agama bersifat final dan abadi serta tidak mengenal perubahan, sementara kebudayaan dapat berubah. Interaksi antara agama dan kebudayaan dapat terjadi dengan berbagai cara diantaranya: Pertama, agama memengaruhi kebudayaan dalam pembentukan nilai keagamaan, tetapi simbolnya adalah kebudayaan; Kedua, kebudayaan dapat memengaruhi simbol agama; Ketiga, kebudayaan dapat menggantikan sistem nilai dan simbol agama.

(Penulis adalah Dosen Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta)

 

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »