Wednesday 18th September 2019,

Ilmu Positif Thinking Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Ilmu Positif Thinking Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

ASWAJADEWATA.COM – Dalam kitab Nashaihu al-‘Ibad karya Syaikh Muhammad Nawawi Banten, Syaikh Abdul Qadir Jailani berkata: Jika engkau bertemu dengan seseorang maka engkau harus berpikir positif dengan menduga dia memiliki keuatamaan yang lebih tinggi darimu, seraya berkata, barang kali dia lebih baik dariku di sisi Allah.

Jika engkau betemu dengan anak kecil, maka engkau harus menduga bahwa anak itu belum pernah melakukan maksiat, sementara engkau sungguh telah melakukan maksiat. Jadi, dia pasti lebik baik darimu.

Jika bertemu dengan seserorang yang lebih tua darimu, maka engkau harus menduga bahwa dia lebih dulu melakukan ibadah kepada Allah dari padamu.

Jika engkau bertemu dengan orang yang ‘alim (pintar ilmu agama), maka engkau menduga bahwa dia mengetahui tentang apa-apa yang engkau tak ketahui dan dia beramal dengan ilmunya.

Jika engkau bertemu dengan orang yang bodoh, maka engkau harus menduga bahwa dia melakukan maksiat dengan-karena kebodohannya sementara engkau melakaukan maksiat dengan pengetahuanmu.

Jika engaku bertemu orang kafir, maka engkau harus menduga bahwa barang kali dia masuk Islam di akhir hidupnya dan mati dengan membawa amal baik. Dan barang kali engkau kafir di akhir hayatmu dan mati dalam keadaan beramal buruk.

Dari pernyataan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di atas menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki keutamaan yang tidak diketahui oleh sesamanya. Hanya Allah semata yang mengetahuinya. Oleh sebab itu, sebagai manusia yang hanya mengetahui zhahir dari setiap apa yang diciptakan Allah, terutama sesama manusia, jangan sampai gampang memiliki pandangan atau perasangka buruk kepada orang lain. Karena, mungkin saja Allah memberikan keutamaan pada orang tersebut yang tidak kita ketahui.

Menjaga perasangka kepada orang lain merupakan sesuatu yang sangat ditekankan oleh Islam. Sebaik apapun diri kita, jangan sampai merasa lebih baik dari orang lain, sehingga menilai dirinya lebih utama dari orang lain dan orang lain dianggap rendah atau buruk, meskipun secara nyata orang lain tersebut dalam pandangan kita kelakuannya buruk.

Sesungguhnya, orang yang buruk itu tidak hanya orang yang melakukan keburukan, menilai atau berperasangka buruk pada orang lain juga termasuk orang yang buruk. Semisal, kita sudah merasa istiqamah melaksanakan ibadah, ketika melihat orang lain tidak melaksanakan ibadah, lantas kita menilai atau menganggap dia adalah orang yang buruk. Kemudian merasa bahwa diri kita yang akan diterima di sisi Allah dan orang lain tersebut tidak akan diterima. Anggapan tersebut salah.

Kadang, ketika bertemu dengan anak kecil, kita yang dewasa atau tua memiliki perasaan serba lebih. Kita lebih memandang pada kedewasaan dan ketuaan kita. Kita tidak memandang dari sisi lain. Padahal ada sisi lain yang harus kita perhatikan untuk tidak merasa serba lebih dari anak kecil. Yaitu, kita harus merasa bahwa anak kecil lebih utama dari kita karena dosa-dosa yang kita lakukan, sementara anak kecil tersebut meskipun berdosa tidak seberapa banyak dan besar.

Ketika kita bertemu dengan orang yang lebih tua dari kita, kita yang muda jangan merasa lebih baik. Mungkin karena orang tua tersebut tidak tahu apa-apa atau ibadahnya tidak sesemangat kita. Atau, karena kita sudah menjadi orang ‘alim dan ibadah kita lebih istiqamah dari orang tua, atu juga ibadah kita dirasa lebih baik dari orang tua karena kita beribadah dengan mengetahu arti dari setiap bacaan dan orang tua tersebut sama sekali tida mengerti.

Ketika kita bertemu dengan orang ‘alim, tentu ini yang paling harus kita jaga perasangka kita, jangan sampai memiliki perasangka yang buruk. Jika memang menurut kita salah, kita tetap beranggapan, mungkin saja orang ‘alim tersebut memiliki dasar hukum yang tidak kita ketahui dan pahami. Jika memang benar-benar salah, kita sadari bahwa orang ‘alim juga manusia yang pasti tidak lepas dari salah dan dosa.

Ketika kita bertemu dengan orang yang bodoh –kasus ini yang sepertinya rawan terjadi-, jangan sampai merasa diri kita lebih pintar dan baik. Mentang-mentang berilmu, lantas orang yang bodoh dipandang miring, tidak mau diperhatikan, tidak mau bergaul, atau meremehkan. Ketika kita yang ‘alim memberi pendapat, yang bodoh harus menerima pendapatkan kita, dengan alasan kita yang lebih tahu dan dia tidak tahu apa-apa.

Ketika kita bertemu denga non muslim, kita tidak boleh menganggap dia ahli neraka. Mentang-mentang kita muslim, lantas menilai diri kita ahli surga dan mengutuk non muslim ahli neraka. Atau, kita yang ahli ibadah menganggap diri kita ahli surga dan yang meninggalkan ibadah ahli neraka.

(Muhammad)

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »