Tuesday 15th October 2019,

Istiqamah, Antara Kesabaran dan Kemuliaan

Istiqamah, Antara Kesabaran dan Kemuliaan

ASWAJADEWATA.COM |

Belajar Istiqamah

Mewujudkan istiqamah memang sangat berat dan sulit. Banyak orang merasa tidak istiqamah ketika dia meninggalkan satu waktu saja. Padahal tidak demikian, istiqamah itu bukan berarti harus melakukan suatu aktifitas pada satu waktu dan di satu tempat yang telah ditentukan. Orang yang sudah istiqamah melakukan shalat dhuha, dia boleh mengqadha’ dengan shalat dhuha di lain waktu. Ini sebagai bukti bahwa keistiqamahan itu bukan berarti harus terus dilakukan pada waktu atau tempat yang telah ditentukan. Ketika memang kondisinya tidak memungkinkan melakukan aktifitas yang sudah menjadi keistiqamahan, silakan saja diganti di waktu yang lain.

Apalagi bagi orang yang masih tahap belajar istiqamah. Mungkin karena masih dirinya belum biasa melakukan sesuatu di satu waktu atau tempat yang ditentukan, dia sering lupa, tidak apa-apa dilakukan di lain waktu dengan tetap niat istiqamah. Atau, mungkin karena di tahap awal, dirinya masih digerogoti oleh kemalasan yang kuat sehingga sangat malas untuk melaksanakan aktfitasnya di waktu atau tempat yang telah ditentukan, tidak masalah ditinggalkan dengan tetap ada semangat untuk melakukan di lain waktu.

Jangan sampai merasa tidak istiqamah hanya karena baru satu kali tidak melakukannya. Banyak orang lepas dari istiqamah hanya karena tidak melakukan satu kali saja lalu merasa keistiqamahannya telah putus. Sehingga, mereka tidak lagi melanjutkan aktivitasnya karena sudah dianggap percuma saja jika tidak melakukan terus menerus di waktu yang tepat.

Mungkin jika menggunakan istilah istiqamah, kita masih merasa bahaw istiqamah merupakan tingkatan yang tinggi bagi hamba seperti kita. Ketika mendengar istilah istiqamah, kita membayangkan istiqamah seolah menjadi sesuatu yang sangat berat karena kita membayangkannya dengan ketidakmampuan fisik yang kadang sakit, hati yang kadang diserang kemalasan, pikiran yang sering dibingungkan oleh banyak masalah, sehingga mengakibatkan kita merasa sangat berat untuk istiqamah.

Atau, menganggap istiqamah itu merupakan maqam yang hanya dimiliki oleh seseorang seperti kiai, ulama atau habaib. Sehingga orang seperti kita yang masih memiliki maqam standart atau awam, merasa tidak pantas atau tidak mampu menyandang gelar ahli istiqamah. Semisal ada yang mengatakan, “Kalau orang seperti saya tidak bisa istiqamah. Istiqamah itu kan maqamnya para kiai, ulama atau habib”. Padahal tidak demikian. Siapa saja pasti bisa istiqamah.

Mungkin alasan lain kenapa kita kadang sangat sulit untuk istiqamah, karena apa yang kita istiqamahkan banyak dan butuh waktu lama. Nah, dengan demikian, kita perlu mengurangi apa yang kita istiqamahkan. Karena inti istiqamah itu adalah kesanggupan untuk melakukan sesuatu secara terus menerus. Tidak penting sedikit atau banyak. Terserah mau sebentar atau lama. Yang penting dilakukan dengan rutin. Itu saja. Sebagaiaman yang dinyatakan dalam hadits,

ان رسو ل الله سئل اي العمل احب الى الله؟ قال ادومه وان قل

Rasulullah pernah ditanya, “amal apa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “amal yang terus menerus, meskipun sedikit” (HR. Muslim)

Tanda orang sudah istiqamah

Tanda hati kita sudah istiqamah: Peratama, kita selalu mempersiapkan diri sebelum masuk pada waktunya. Hati sudah memasang niat untuk melakukan aktifitas yang sebentar lagi akan sampai pada waktunya. Semisal shalat dhuha pukul 09.00. Lima menit sebelum jam sembilan sudah siap menunaikan. Atau ketika di jalan, sudah masang target jam Sembilan kurang harus sampai di tempat.

Kedua, ketika tertinggal satu kali saja –entah lupa atau udzur-, hati merasa tak nyaman, seolah ada yang kurang dalam diri. Jika diumapakan dengan langkah kaki, seolah langkah menjadi pincang.

Ketiga, meski ada orang lain memberi pujian atas aktifitas atau amal kita, hati kita biasa saja, sama sekali tak tersanjung. Karena kita melakukan bukan karena berharap pujian orang lain, tapi karena memang sudah menjadi kebiasaan atau rutinitas. Jadi, dipuji atau tidak, atau bahkan dicaci maki, tetap saja dilakasanakan. Karena memang hati ini tidak nyaman atau merasa ada yang kurang dan hati menjadi tak tenang jika rutinitas itu tertinggal.

Istiqamah Melahirkan Keiklasan

Awalnya, di saat seseorang melakukan suatu kebaikan, ada saja yang membuat mata untuk tolah toleh. Kadang ingin mencari pujian. Keinginan sebenarnya hendak melakukan hanya untuk lillah (semata karena Allah), tapi ada saja yang membuat hati terbesit ingin ini dan itu. Bahkan sudah dilawan dengan kemampuan yang maksimal agar tidak terbesit suatu apapun keculi lillah, tapi selalu saja keinginan karena ini dan itu masih memaksa hati untuk berharap selain Allah. Hati pun menjadi tergerak dari niat lillah menjadi linnas (karena manusia) atau yang lain.

Sehingga, bagi yang merasa tidak kuat, ada yang menggagalkan untuk memulai dan berhenti dari melakukan kebaikan, karena merasa belum mampu untuk melakukan kebaikan semata lillah. Tidak melanjutkan bukan karena tidak kuat secara fisik, tapi hanya karena hati yang tak kuat untuk menahan godaan yang membuat dirinya melakukan sesuatu selain Allah. Dia takut melakukan kebaikan khawatir terjebak pada riya’,’ ujub dan semacamnya.

Nah, untuk menghindar atau melepas itu semua, caranya dengan istiqamah. Sebagaimana yang dipaparkan di atas, di awal kita melakukan suatu ibadah wajar hati kita masih tolah toleh mencari pujian orang lain, atau merasa sangat berat melakukannya. Biarkan saja hati kita tergoda dengan pujian dan berat melaksanakannya. Pada saatnya akan menjadi penuh ikhlas seiring dengan keistiqamahan yang terus diupayakan.

Orang yang mencapai derajat ikhlas ada dua macam yaitu (1) orang ikhlas karena usaha (2) orang ikhlas karena pemberian langsung dari Allah. Makanya ada mukhlishin dan mukhlashin. Tentang mukhlashin tidak perlu dibahas, karena itu pemberian langsung dari Allah. Adapun mukhlishin harus mencari keikhlasan dengan cara memperbanyak riyadhah dan amal kebaikan. Kalau ada orang yang mengkhatamkan al-Quran satu hari, maka bisa dipuji. Sehingga, bergerak hatinya dan menyebabkan tidak ikhlas. Akan tetapi kalau sudah menjadi kebiasaan setiap, maka pujian tersebut tidak akan berpengaruh apa-apa. Dengan demikian, ikhlas bisa diperoleh dengan istiqamah.

Istiqamah dalam arti bertahan

Coba kita perhatikan atau jika perlu kita teliti siapa saja yang telah sukses atau bahagia, atau sudah ada pada maqam dan derajat yang tinggi. Pasti, mereka yang sukses, bahagia dan sampai pada maqam dan derajat yang tinggi karena mampu istiqamah meski rintangan dan cobaan menimpa mereka.

Contoh gampangnya, orang yang sudah menjadikan seseorang yang dicintai sebagai kekasih halal, karena dia sanggup bertahan hingga sampai pada waktunya. Sudah dipastikan, di awal dia menjalin cinta, berbagai rintangan dan cobaan menghalagi langkahnya. Tapi, karena dia mampu bertahan di jalan menuju cintanya, akhirnya dia mewujudkan orang yang dicintai sebagai pasangan hidupnya. Ini terjadi karena dia mampu menunaikan istiqamah dalam cintanya. Andai saja ketika ada sedikit cobaan dia langsung beralih, ya sudah, sampai kapanpun dia tidak akan bisa memiliki orang yang dicintai seutuhnya. Istiqamah dalam arti cinta adalah kesetiaan dan kesanggupan untuk bertahan menempuh jalan cinta hingga akhir hayat.

Begitu juga orang yang kaya atau sukses, pasti mereka menjadi seperti itu karena mereka telah mampu menjalani kariernya dengan tetap istiqamah. Di awal membangun karier dia masih terpontang-panting, tapi karena dia gigih bertahan serta terus berusaha dengan istiqamah, akhirnya dia mampu menjadi orang sukses dan kaya.

Mereka yang sudah sukses karena mereka tetap istiqamah di jalan yang mereka tempuh. Mata mereka tak pernah menoleh iri kepada orang-orang kanan kirinya yang sudah bergelimang harta atau hidup mewah. Mereka tetap saja mengayuh sepedanya untuk menjual sayur dan tempe tahu. Ternyata, pada akhirnya keistiqamahannya mengantarkan dia menyetir mobil pribadi miliknya. Tetaplah istiqamah berusaha agar meraih sukses yang tak diduga.

Tidak terkecuali juga orang yang sudah mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah, sudah pasti dia berusaha dengan istiqamah. Tidak menutup kemungkinan dia awalnya juga melakukan dosa atau malah mantan pendosa. Namun, seiring dengan taubat dan menunaikan ibadah dengan istiqamah, sampai juga pada derajat kemuliaan. Istiqamah menjadi faktor utama untuk meraih derajat yang tinggi dan mulia.

Dan, jangan dilihat hasilnya saja ketika menemukan orang yang hidupnya penuh kebahagiaan. Pasti, mereka yang meraih kebahagiaan, karena mereka mampu menempuh berbagai aral, cobaan, rintangan, luka, bahkan rasa sakit yang sering kali menusuk relung hati.

Dengan istiqamah, kita akan menaklukkan segala rintangan. Pada awalnya sudah biasa ada rintangan yang pasti menguji sebarapa kuat kita terus melakukan suatu aktifitas secara rutin dan tepat waktu. Adanya rintangan biasanya untuk mengukur seberapa dalam niat kita dan sebarapa tinggi semangat kita. Jadi, jika niat kita benar-benar dalam dan semangat kita tinggi, maka sebarapa besar pun cobaan yang menimpa kita, insyaallah kita tetap mampu istiqamah.

Thomas Alva Edison mengatakan, banyak kegagalan dalam hidup ini dekarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah. Jadi, kegagalan yang dimaksudkan di sini adalah karena mereka tak sanggup bertahan atau istiqamah. Maka, unutik meraih apapun, kita harus istiqamah. Beratahan, bertahan untuk menaklukkan ujian.

 

Kita bisa sejauh ini, karena kita  bertahan dalam melangkah

Kita bisa sukses seperti ini, karena kita bertahan dalam berusaha

Kita bisa meraih derajat tinggi seperti ini, karena kita bertahan dalam ibadah

 

Oleh: Muhammad Taufiq Maulana, S.Sy,.M.H
(Penulis dan Dosen Sekolah Tinggi Islam Denpasar)

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »