Tuesday 19th November 2019,

Kekaguman Non Muslim terhadap Gus Dur

Kekaguman Non Muslim terhadap Gus Dur
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Terdapat hal unik yang mewarnai pelaksanaan kegiatan rutin Lailatul Ijtima yang diselenggarakan LDNU Gianyar pada Selasa 15 Oktober 2019 di Desa Siangan. Tepatnya di kediaman Ustadz Firman Ayani yang merupakan Ketua PC Persatuan Guru NU (Pergunu) Gianyar dan PC Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Gianyar.

Kegiatan Lailatul Ijtima ini juga dihadiri oleh perwakilan Lembaga daan Badan Otonom (Banom) yang bernaung dibawah panji – panji NU, diantaranya, PC Pencak Silat NU Pagar Nusa Gianyar, PC GP Ansor Gianyar, PC Persatuan Guru NU (Pergunu) Gianyar dan PC Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Gianyar. Adapun rangkaian kegiatannya ialah pembacaan Istighotsah, Tahlil, Tausiah, Arisan dan Ramah Tamah.

Tahlil dan Istighotsah

Tak hanya menarik bagi warga NU saja, kegiatan ini juga didukung dan diapresiasi oleh warga Hindu sekitar. Salah satunya Bapak Gusti Ngurah Sudha yang juga merupakan tetangga dari shohibul hajat. Beliau mengungkapkan apresiasi yang mendalam terhadap konsep Islam yang ramah ala NU. Atau yang populer disebut Islam Nusantara.

Pria yang terjun di dunia pariwisata ini juga menuturkan kekagumannya pada dua tokoh NU seperti Gus Dur dan Gus Nuril.

“Selain dikenal sebagai pemimpin yang mengayomi semua lapisan umat, Gus Dur juga memiliki kemampuan spiritual yang luar biasa. Bahkan ketika menghandle wisatawan dari Australia, ia mendapat cerita tentang kekaguman dari turis tersebut terkait dengan kepemimpinan Gus Dur,” katanya.

Dihadiri oleh Lembaga dan Banom NU

Kerukunan yang ada di Bali, khususnya di Desa Siangan ini sudah sangat baik. Bahkan kegiatan kemasyarakatan juga melibatkan baik warga Hindu maupun Muslim.

“Sesungguhnya kita semua masih saudara. Karena orang Bali pada umumnya merupakan orang Jawa yang lebih dulu datang ke Bali pada masa Majapahit. Seperti leluhurnya yang masih memiliki silsilah ke adipati Bangkalan Aryawiraraja yang juga keturunan Manik Angkeran, putra Danghyang Penawasikan. Dan hijrah ke pulau Bali bersama Sri Kresna Kepakisan,” tukas Gusti Ngurah Sudha lagi.

Reportase/Foto: Agus Surya
Editor: Dadie W. Prasetyoadi

 

Leave A Response


Translate »