Wednesday 08th July 2020,

Ketika Nabi “Mengharamkan yang Halal” Demi Cinta

Ketika Nabi “Mengharamkan yang Halal” Demi Cinta
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Imam Buhkhari meriwayatkan, suatu ketika Rasulullah meminum madu di rumah Zainab binti Jahys. Aisyah dan Hafshah yang mengetahui kejadian itu berpsepakat untuk mengatakan lisan beliau mengeluarkan bau tidak sedap. Kesepakatan itu muncul karena Aisyah dan Hafshah cemburu kepada beliau karena menduga beliau lebih sayang kepada Zainab. Kemudian beliau masuk ke dalam rumah Hafshah sehingga Hafshah-lah yang bertugas melaporkan lisan beliau itu tidak sdap. Tidak ingin melihat Hafshah cemburu, beliau lalu mengatakan, “Aku tidak akan meminum madu lagi.” Dalam konteks ini, beliau seolah mengharamkan madu bagi diri beliau hanya demi membuatnya senang. Saat pengharaman itu diucapkan, beliau berpesan kepadanya agar jangan memberitahukannya kepada siapapun. Namun Hafshah menceritakan kepada Aisyah. (HR. Bukhari). Allah menganggap perbuatan itu tidak wajar dilakukan oleh seorang Nabi, karena madu itu halal dan tidak boleh diharamkan demi menginginkan kesenangan seorang istri. Allah kemudian menurunkan ayat, Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterim? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana(QS, at-Tahrim: 1-2)

 

Yuk! Kita bercerita sebelum membahas hadits di atas.

…Sejak kecelakaan itu, Laka kebingungan mencari solusi untuk kesembuhan istrinya. Istrinya kini tidak bisa melihat, karena setelah kecelakaan itu menimpa pada istrinya, dokter telah menvonis istrinya tidak bisa melihat lagi alias buta. Sudah berkali-kali mencari dokter spesialis mata, tetap saja dokter yang dia temui tidak bisa menyembuhkan mata istrinya. Hanya ada satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengembalikan penglihatan istrinya kembali sembuh, yaitu harus diganti dengan mata orang lain.

Setelah Laka tahu hanya solusi itu yang bisa dilakukan, Laka pun mencari orang yang bersedia untuk mendonorkan matanya untuk digantikan kepada istrinya. Tidak lama kemudian, Laka menemukan orang yang bersedia, karena orang tersebut membutuhkan biaya hidup yang mendesak. Laka akan membelinya seberapa besar sekalipun uang yang harus dibayar membeli mata orang tersebut.

Setelah Laka menemukan orang yang bersedia mendonorkan matanya, Laka menyampaikan kepada istrinya dengan penuh bahagia, “Sayang, kamu akan sembuh. Kamu akan melihat mas lagi dan kita bisa jalan-jalan ke tempat yang dulu pernah kamu lihat, bahkan nanti mas akan mengajak ke tempat yang indah banget. Pokoknya, setelah kamu sembuh, Mas akan membawa kamu ke mana saja yang kamu mau. Yang pasti, Mas bahagia banget ketika nanti kamu bisa kembali menatap wajah Mas”.

Tiba-tiba istrinya memotong perkataan Laka yang sedang asyik mengungkapkan kebahagiaannya. Dengan suara yang lirih istrinya mengawali perkataannya, “Mas… ada apa kok Mas bahagia banget kali ini?” Tanpa berselang waktu lama dari pertanyaan istrinya, Laka langsung menjawab dengan semangat, “Ya, Mas bahagia banget. Karena kamu akan sembuh, sayang. Kamu akan bisa melihat lagi.” “Alhamdulillah…”, sambung istri Laka.

Istri Laka penasaran dengan obat yang akan menyembuhkan matanya itu, kemudian dia menanyakan obatnya kepada suaminya, Laka, “Mas, memang Mas sudah menemukan obatnya, ya?”. Langsung saja Laka menjawab, “Ya, Mas sudah menemukan orang yang bersedia untuk mendonorokan matanya untuk kamu, sayang”. Istri Laka langsung kaget seraya berkata, “Hah, Mas membeli mata orang lain untuk digantikan mata saya?”. “Ya, sayang”, jawab Laka singkat.

“Mas, aku bangga dan bahagia banget punya suami Mas. Sejak dulu pertama kali Mas menyatakan cinta ke aku, Mas selalu banyak berkorban demi aku. Sejak kita nikah, Mas sangat bertanggung jawab sebagai seorang suami. Apapun itu, pasti Mas lakukan dan kabulkan demi untuk membahagiakanku. Bahkan, sekarang Mas bersusah payah dan mau mengeluarkan uang berapapun demi kesembuhan aku. Aku sangat bersyukur karena Allah memberikan seorang imam yang penuh bertanggung jawab dan selalu mencurahkan kasih sayang pada diriku. Aku sayang Mas, sayaaang banget”.

Laka hanya terdiam mendengarkan ungkapan perasaan istrinya. Kemudian istrinya melanjutkan uangkapan perasaannya, “Aku sangat berterima kasih ke Mas. Lebih-lebih saat ini Mas yang rela pergi-pergi ke mana mencari obat dan Alhamdulillah Mas sudah menemukannya. Sekali lagi, aku sangat berima kasih.”.

Sejenak istri Laka terdiam sambil meraba-raba mencari tangan suaminya, lalu istri Laka menarik tangan kanan Laka kemudian menciumnya dengan penuh kasih sayang. Lalu, dengan suara lirih, istri Laka melanjutkan pembicaraannya, “Mas, makasih banget, ya. Mas udah terus berusaha untuk mencari obat buat kesembuhan mata aku. Sebelumnya, aku minta maaf. Bukan maksud aku menyia-nyiakan atau tidak menghargai usaha Mas. Dan, aku yakin Mas masih cinta dan sayang ke aku, dan tetap menerima akan apa adanya. Kekuranganku tidak akan mengurangi rasa sayang Mask e aku. Ya k an, Mas”. Laka menjawab dengan lirih sambil mengecup kening istrinya, “Ya, sayangku”. Dalam hati Laka bertanya-tanya dan penasaran, apa maksud sebenarnya dari semua yang dikatakan istrinya itu?

“Mas?” Tiba-tiba suara istri Laka membuyarkan pikiran Laka yang sedang mencari-cari maksud perkataan istrinya. “Mas, Mas mau kan mengabulkan permintaanku?”. “Ya, sayangku”, jawab Laka. “Mas, mataku memang tidak bisa melihat wajah Mas, tapi aku bisa tetap merasakan kehadiran Mas, kasih sayang Mas, perhatian Mas, dan semua tentang Mas. Aku mohon pembelian mata untuk mengganti mataku digagalkan, ya? Sekali lagi, aku minta maaf. Bukan maksud hati tidak menghargai jerih payah Mas selama ini yang mencari obat untuk aku. Aku yakin, Mas ikhlas menerima keadaan aku yang seperti ini. Cinta memang butuh pengorbanan kan, Mas, tapi bukan berarti harus mengobankan dengan cara merusak ciptaan Allah. Atau, mengorbankan kebahagiaan orang lain”

Lagi-lagi Laka hanya bisa terdiam, berusaha menenangkan hatinya untuk merasakan betapa istrinya sangat sabar dan tabah menerima ujian yang menimpa dirinya. Kemudian, Laka berusaha mengeluarkan suaranya yang mulai berserak karena menahan haru, “Ya, sayang. Apapun yang kamu minta pasti aku kabulkan. Dan, seperti apapun kondisi kamu, aku tetap cinta dan sayang banget”. Laka dan istrinya berpelukan dengan erat, saling menyatukan hati di dalam ruang yang penuh haru.

Beberapa hari kemudian, Laka mendatangi orang yang berkenan mendonorkan matanya, untuk menggagalkan kontrak yang dulu disepakati. Dan, beberapa bulun kemudian, Allah membuka penglihatan mata istri Laka. Laka dan istrinya sangat bersyukur dan bahagia. Cinta dan sayang semakin erat mereka rasakan. Alhamdulillah…

Lanjut ke pembahasan

So, wajar banget ketika seseorang merasakan cinta dan dia mau melakukan apa saja demi orang yang dicintai. Sebagaimana yang dialami Nabi, beliau sampai mengharamkan madu hanya karena demi mendapatkan kerelaan istrinya, agar istrinya tidak kesel dan marah. Dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan status Nabi sebagai seorang Rasul. Ini kaitannya dengan perasaan. Nabi adalah seorang manusia biasa yang juga memiliki perasaan. Jadi, jika ada yang menilai apa yang dialami Nabi adalah suatu yang negatif, itu salah. Dalam hal ini, kita harus memandang Nabi sebagai manusia biasa.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, bahwa Nabi memiliki beberapa aspek, salah satunya –dalam hal ini- adalah aspek kemanusiaan. Jadi, kasus ini jangan serta merta -dengan gampang- mengaitkan dengan kerasulan Nabi Muhammad. Kita ambil hikmahnya saja dengan bijak, bahwa kekuatan cinta memang sangat dahsyat, seorang Nabi pun dibuat tertunduk dan tak kuasa oleh cinta.

Dengan demikian, wajar bagi seorang manusia seperti kita sering kali terpedaya oleh cinta. Tapi, kasus Nabi tersebut jangan dijadikan alasan atau dalil ketika kita hendak melakukan apa saja demi orang yang kita cintai. Karena sudah tau Nabi mengalami seperti, lantas mengatakan, “Nabi saja dibuat mabuk oleh cinta, apalagi seperti kita”. Seharusnya, jadikanlah sebagai kesadaran hati ketika kita sudah terpedaya oleh cinta, agar tidak terlalu lemah untuk mengendalikan cinta yang terus memperdaya kita.

Sebagaimana yang digambarkan dalam cerita di atas, seorang Laka yang mencintai istrinya, dia mau melakukan apa saja demi kebahagiaan istrinya. Cinta memang menghendaki kita untuk menjadi orang yang harus mampu memenuhi apa saja yang menjadi kebutuhan orang yang dicintai. Bukan karena diminta, dipanksa atau dituntut oleh orang yang dicintai, tapi karena memang cinta itu sendiri yang membuat orang yang mecintai memiliki keinginan untuk melakukan apa saja untuk orang yang dicintai.

Oleh sebab itu, jika ada orang yang dicintai tahu dan mengeti bahwa orang yang mencintainya mau melakukan apa saja tanpa perlu diminta, maka dia tidak akan pernah memaksa. Tidak jarang ada orang karena merasa dicintai lantas dia seenaknya meminta-minta kepada orang yang mencintai, pake maksa lagi. Terus, make dalil gini lagi, “katanya kamu cinta aku, ayo dong kabulkan semua permintaanku!!!”. (Seperti di film-film, tuch)

Coba kita perhatikan pada cerita di atas, Laka sebagai seorang suami yang mencintai istrinya, dia mau bersusah payah mencari obat ke mana-mana dan mau mengeluarkan uang seberapa besar pun hanya demi kebahagiaan istrinya. Padahal, istrinya tidak pernah meminta sampai sejauh itu. Buktinya ketika Laka menemukan obat yang bisa menyembuhkan matanya, istrinya malah menolak dengan bahasa yang sangat halus, lembut dan hati-hati, karena istrinya mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh suaminya berdasarkan perasaan cintanya yang dalam pada dirinya. Sehingga, agar suaminya tidak kecewa, dia menggunakan bahasa menolak dengan kata-kata yang menjaga perasaan suaminya.

So, jangan pernah meminta, memaksa apalagi menutut pasangan kita untuk melakukan banyak hal demi kita, biarkanlah dia merasa sendiri seiring cintanya yang terus bersemi. Karena secara otomatis, jika dia memang cinta, dia akan merasa terbebani untuk melakukan apa saja tanpa harus diminta. Beban di sini bukan bermakna keberatan. Ini adalah konsekweksi mencintai, yang tanpa disadari akan membuat orang yang mencintai bersemangat melakukan apa saja demi orang yang dicintai.

Tapi, jangan gampang menilai buruk kepada orang yang mencintai kita, ketika dia tidak melakukan banyak hal untuk kita. Mungkin, sebenarnya dia memiliki banyak keinginan untuk melakukan apa saja untuk kita, hanya saja antara kebesaran cintanya dan kemampuan dirinya tidak sebanding. Pernah dengar ungkapan, “Andai saja bintang bisa kupetik, akan kuambil satu bintang lalu kupersembahkan pada dirimu”. Ungkapan ini adalah kebenaran yang tidak pernah menjadi kenyataan. Dikatakan benar, karena betul banget seorang yang lagi jatuh cinta memiliki semangat setinggi itu. Dikatakan tidak nyata, karena kemampuan manusia terbatas untuk menwujdukan hal demikian.

Ketika kita menjadi orang yang dicintai, teladanilah sikap istrinya Laka. Selain dia tidak pernah memaksa suaminya untuk melakukan apa saja untuk dirinya, dia selalu saja menyadari dan mensyukuri apa-apa yang dilakukan suaminya untuk dirinya. Karena dia mengerti bahwa orang yang mencintainya pasti melakukan apa saja untuk dirinya. Dan, dia tidak mau orang yang mencintainya mengorbankan orang lain demi kebahagiaan dirinya.

And so, kita sebagai orang yang mencintai harus mengerti batas-batasan dalam melakukan apa saja untuk orang yang dicintai. Dan, kita sebagai orang yang dicintai harus memberi batas-batasan kepada orang yang mencitai agar tidak sampai melampaui batas untuk melakukan apa saja untuk diri kita. (Buku Peka Rasa)

 

Leave A Response


Translate »