fbpx
Saturday 07th December 2019,

KH. Abdurrahman, Kisah Seorang Pendiri NU Bali Asal Loloan

KH. Abdurrahman, Kisah Seorang Pendiri NU Bali Asal Loloan
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Oleh: Rifqil Halim Muhammad

Pada puncak acara kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Almagfurlah KH. Abdurrahman yang Ke-16 di Pondok Pesantren Darut Ta’lim Loloan Barat, Jembrana Senin siang (18/11), turut dibacakan pula auto biografi KH Abdurrahman dalam rangka mengenang kembali perjuangan dan perjalanan dakwah pendiri dan juga pengasuh pertama Pondok Pesantren tersebut. Berikut kisahnya  yang dibacakan oleh Gus Hasbil Ma’ani.

Kiai Abdurrahman lahir pada tahun 1907 di Loloan Barat dengan nama Muhammad Qasim dari keluarga Ulama Bugis-Melayu Loloan.

Ketika kecil Abdurrahman belajar agama dari kedua orang tuanya, namun menginjak usia 10 tahun dia dikirim ke daerah Pengastulan (Buleleng) untuk mengaji Al-Qur’an untuk Tuan Guru Abdul Hamid hingga mengunjungi 18 tahun.

Pada tahun 1925, Datuk Haji Mahmud mengirimkan Muhammad Qasim remaja ke Jazirah Arabia, dipindahkan ke kota Suci Mekkah yang waktu itu memang menjadi tempat tujuan belajar bagi masyarakat Islam Nusantara.

Di kota Mekah ia bermukim di kediaman Syeikh Isa Palembang yang telah menjadi penduduk tetap kota Mekah dan belajar berbagai disiplin ilmu agama dari sejumlah ulama besar yang mengajar di sana. Diantara guru-guru beliau adalah Syeikh Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar, Syeikh Hamdan al-Maghrabi serta seorang ulama besar ilmu hadits asal Palestina.

Di kota suci ini pula ia bertemu dengan para santri Indonesia yang lain seperti TG. Zainuddin Pancor NTB, Wahid Hasyim Jombang dan Ambo Dalle ‘Sulawesi. Di antara temannya yang paling akrab adalah Wahid Hasyim. Menurut penuturannya yang ditulis semasa  hidupnya, setiap hari dia dan Wahid Hasyim pergi ke pedalaman dan bermain bola bersama orang-orang Badui. Dan terkait sepak bola, Wahid Hasyim yang saat itu sedang suka menulis, acapkali mengirimkan essai tentang watak dan kebiasaan orang Badui ke majalah Jumhuriyah .

Dia belajar di kota suci selama kurang lebih sembilan tahun. Sepulang dari Kota Mekkah, Muhammad Qasim kemudian pulang ke kampung halaman dengan menyandang nama baru, Datuk Haji Abdurrahman. Belum lama dia menetap di Bali, Datuk Haji Abdurrahman merasa tidak nyaman karena saat itu sedang terjadi perpecahan di tengah-tengah masyarakat Muslim didaerah tempat tinggalnya.

Oleh karenanya,  ia pun memutuskan pergi ke Rembang dan mengaji kitab kepada Kiai Musthofa. Selain belajar untuk Kyai Musthofa, dia juga belajar sejarah kepada Kiai Bisri Mushtofa yang tidak lain adalah teman sekamarnya selama di Rembang.

Namun tak lama kemudian dia pindah ke Jombang untuk berjumpa dengan teman lamanya Wahid Hasyim. Karena pertemanannya dengan Kiai Wahid Hasyim inilah, Kiai Abdurrahman lebih diposisikan sebagai tamu daripada sebagai santri. Dia sering diminta memijat Kiai Hasyim Asy’ari dan acapkali mendapat bagian menjadi imam sholat karena unggul di bidang Tajwid dan kefasihan bacaan al-Qur’an yang ia miliki. Tanpa selang beberapa lama, Datuk Haji Abdurrahman mengutarakan masalah yang ada di kampung halamannya dan berniat untuk menetap di pesantren Kiai Hasyim.

Namun keinginannya itu tidak mendapat restu dari Kiai Hasyim Asy’ari. Menurut pendapat Kiai Hasyim, umat Islam di Bali akan lebih membutuhkannya.

Setelah mendengar pendapat Kiai Hasyim Asy’ari tersebut, Kiai Abdurrahman pun lalu pulang ke Bali dan mulai mengajar ilmu agama di Loloan Barat. Dia menetap disana dan aktif mengajarkan ilmu agama yang dimilikinya sampai ke daerah-daerah pelosok sebagai guru GAH (Guru Agama Honorium). Namun setelah menderita sakit, ia kemudian hanya mengajar di rumah sampai pada tahun 1940. Rumah kediamannya berubah menjadi pesantren bernama Darut Ta`lim.

Di masa penjajahan Jepang, kembali terjadi perbedaan pendapat di antara ulama lokal dalam masalah fiqhiyah (yaitu masalah yang disetujuinya dua masjid dengn jarak yang bersinggungan), Datuk Guru Ilyas mengirim surat kepada para pelajar Indonesia yang berada di Kota Mekkah untuk mendapatkan putusan hukum dari para ulama yang ada di sana.

Tak selang beberapa lama datanglah Kyai Wahab Hasbullah dari tanah Jawa sebagai jawaban dengan membawa keputusan hukum. Disamping membawa fatwa hukum, Kyai Wahab Hasbullah juga tampil memperkenalkan NU di tengah-tengah ulama lokal.

Menurut Datuk Haji Abdurrahman, Kyai Wahab mengatakan, “Saya ingin menjajakan saya punya obat untuk tuan-tuan, jika cocok alhamdulillah jika tidak cocok tidak apa-apa. Obat itu adalah Nahdhatul Ulama.”

Dari pertemuan inilah Datuk Haji Abdurrahman kemudian terlibat aktif  dalam kelahiran NU dan bersama-sama Datuk Guru Nuh dan Ustadz Ali Bafaqih sesama ulama asal Loloan Jembrana menyosialisasikan NU kepada masyarakat muslim Bali.

Ketika NU sudah menjadi Partai politik, mau tidak mau Datuk Abdurrahman yang sebenarnya tidak suka politik praktis akhirnya terlibat. Setelah terjadi Gestapu pada tanggal 30 November 1965, Datuk Haji Abdurrahman menurunkan santri-santrinya bersama Anshor dan TNI untuk mengambil tindakan melawan pentolan PKI yang mengadakan rapat rahasia. Dalam penggerebekan rapat rahasia PKI di Tegal Badeng (Ladang Hitam), dua orang sipil dan tentara tertembak oknum PKI. Salah satu yang mengatakan ini adalah santri pesantren Darut Ta`lim, kang Suparmin.

Gugurnya tiga orang ini kemudian menjadi alasan GP Ansor dan ABRI mengadakan penyerbuan terbuka keesokan harinya.

Setelah penyederhanaan partai saat itu menjadi GOLKAR, PPP dan PDI Datuk Haji Abdrurrahman pun meninggalkan arena politik. Dia kembali tampil sebagai ulama yang tawadhu, santun, menjadi tempat bertanya dan belajar masyarakat, ustadz-ustadz muda dan para ulama.

Sementara dalam mengelola pondok pesantren, ia tetap mempertahankan pendidikan Bandungan (model klasikal) hingga tutup usia pada tahun 2003 di usia 97 tahun.

Karena tidak ingin dibedakan dengan masyarakat, Kiai Abdurrahman pun dimakamkan di pemakaman umum komunitas Bugis -Melayu yang terletak di kelurahan Loloan Timur.

Leave A Response


Translate »