Tuesday 15th October 2019,

KH. Fathul Bari, Perintis Thariqat Naqsyabandiyah di Kalimantan Barat

KH. Fathul Bari, Perintis Thariqat Naqsyabandiyah di Kalimantan Barat

ASWAJADEWATA.COM |

Ulama Thariqat Naqsyabandiyah Muzhariyah Pertama di Kalimantan Barat

Madura, pulau di utara Jawa Timur dikenal banyak melahirkan ulama besar sejak zaman dulu hingga sekarang. Seorang di antara mereka yang diriwayatkan ini ialah KH. Fathul Bari, satu dari sekian banyak murid Syaikhona KH. Muhammad Khalil Bangkalan.

KH. Fathul Bari adalah seorang murid beliau yang menyebarkan Islam melalui Thariqat Naqsyabandiyah. Kiyai Fathul Bari berasal dari sebuah desa yang bernama Ombul Kabupaten Sampang. Beliau mendatangi Kalimantan Barat saat itu atas permintaan H. Hasyim Yamani yang merupakan pendiri Masjid “Babussalam” dan pendiri Pondok Pesantren pertama di Kalimantan Barat yang juga diberi nama “Babussalam”.

Thariqat yang diajarkan pertama kali di Kalimantan Barat desa Peniraman itu menarik perhatian masyarakat setempat, dan membuat orang berduyun-duyun untuk menimba ilmu hingga dapat mengaplikasikannya di lingkungan masing-masing.

KH. Fathul Bari

Karena seringnya beliau mendatangi Peniraman atas permintaan H. Hasyim Yamani membuat nama beliau dikenal oleh elemen-elemen masyarakat luar pada umumnya.

Saat menjelang wafatnya, beliau sempat menanyakan kepada H. Hasyim Yamani pendiri Pondok Pesantren Babussalam Peniraman.

Kyai Fathul Bari berkata, “ Syim, mun engko’ mateh, ekoburnah dimmah bi’ kakeh”.

Dalam bahasa Indonesia artinya adalah, “Syim, jika saya wafat nanti, akan kamu makamkan dimana?”.

H. Hasyim Yamani menjawab “ Kiyaeh, makammah sampean esettiing Masjid”.

Yang artinya, “ Kiyai, makammu berada di dekat Masjid”, terang Subir bin H. Hasan Basri.

Tak begitu lama kemudian Kyai Fathul Bari pun wafat, beliau wafat pada tahun 1960 M. Dengan wafatnya Kyai kharismatik ini, membuat masyarakat disana merasa sangat kehilangan, ulama yang dikenal penyantun dan berbudi luhur dengan cepat dipanggil sang maha kuasa, ratapan tangis orang-orang dari berbagai daerah membanjir saat almarhum dimakamkan.

Kyai Fathul Bari dimakamkan di dekat Masjid Raya Babussalam Peniraman. Hingga sekarang hampir setiap hari orang-orang dari berbagai daerah berziarah ke Makam Kyai yang dikatakakan banyak melahirkan kekeramatan.

Hingga kini, Haul Kyai Fathul Bari diperingati tiap dua tahun sekali oleh ribuan masyarakat, murid-muridnya, serta para ulama baik dari Kalimantan maupun daerah lain, bahkan ada yang dari luar negeri. Kegiatan Haul beliau ini dipusatkan di desa Peniraman, kecamatan Sungai Pinyuh, Mempawah tempat beliau dimakamkan.

Salah seorang murid beliau Sayid Muhsin al-Hinduan lalu melanjutkan jejak dakwah sang Kyai setelah beliau wafat. Begitu pula setelah Sayid Muhsin al-Hinduan wafat pada tahun 1980 dan jenazahnya dimakamkan di Sumenep, Madura, lalu dilanjutkan oleh putranya yang bernama Habib Amin al-Hinduan di Kota Singkawang, mempunyai ribuan murid yang tersebar di Kalimantan Barat.

Artikel ini diolah dari berbagai sumber.

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »