Tuesday 25th February 2020,

Kisah Orang Yang Sok Suci: Dosa Itu Membuatku Tak Sombong

Kisah Orang Yang Sok Suci: Dosa Itu Membuatku Tak Sombong
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Hamid adalah salah satu santri dari sekian santri di pesantren daerah Jawa Timur. Entah sudah berapa tahun dia nyantri di pesantren itu, yang pasti dia benar-benar telah menjadi santri yang baik dan taat. Semua aturan pesantren diikuti dan setiap harinya selalu diisi dengan mengaji, belajar, beribadah bahkan juga sering berpuasa sunah.

Dengan kegiatan mengaji, belajar dan beribadah setiap harinya, membuat Hamid tak pernah sempat melakukan pelanggaran pesantren, apalagi berbuat maksiat. Dengan begitu, dirinya bersih dari kesalahan dan dosa, sehingga suatu saat hatinya tergerak merasa seraya berkata dalam hatinya, “Saya ini sudah lama sekali berada di pesantren ini. Selama berada di pesantren, saya tidak pernah melanggar aturan, bahkan semua aktifitas sehari-hari saya gunakan untuk mengaji, belajar dan beribadah. Kalau saya hitung dan nilai semua aktifitasku sejak mondok dulu hingga saat ini, saya ini tak memiliki dosa apapun, karena memang tak pernah melakukan kesalahan atau dosa.”

Begitulah kata hati Hamid dalam menilai dirinya selama ini. Hamid merasa dirinya suci dari dosa dan salah. Karena memang selama dia mondok, dia tak pernah melakukan dosa meski semisal melihat wajah perempuan yang bukan mahromnya. Atau semisal menggosob sandal temannya meski itu sudah menjadi kebiasaan para santri di pesantren.

Hamid memang seorang santri yang berbeda dari santri-santri yang lain. Santri-santri yang lain setelah selesai belajar di madrasah, mereka langsung menuju warung nasi untuk makan, sementara Hamid malah pergi ke maqam para kyai untuk mengaji. Santri-santri yang lain setelah pengajian kitab, mereka langsung menaruh kitabnya kemudian istirahat, ada yang gurau bahkan ada yang langsung tidur, sementara Hamid pergi menjauh dari keramaian santri di asrama ke tempat yang sepi untuk mengulangi pengajian kitabnya sendiri. Santri-santri yang lain begitu terlelapnya tidur di malam hari, sementara Hamid sedang khusyuk shalat tahajjud dan wiridan.

Namun ternyata, sejak dia mulai menilai semua amal baik yang dia lakukan, dia merasa suci, merasa tak memiliki dosa, bahkan sampai merasa seraya berkata, “Ya Allah, Engkau Maha Tau. Engkau tentu tahu aktifitasku sejak mondok dulu hingga sekarang. Sama sekali saya tak pernah melakukan kesalahan apalagi perbuatan dosa. Maka, sudah pantas bagiku untuk masuk surga”

Hamid benar-benar telah terbuai oleh amal baik yang selama ini dia lakukan. Sehingga dia merasa suci dan merasa layak masuk surga. Sehingga pada suatu saat, entah bagaimana dan kenapa, tiba-tiba Hamid menemukan dirinya terjerat dalam perbuatan maksiat. Dia tidak memiliki uang sementara dia terdesak dalam kebutuhan dan akhirnya dia mencuri uang temannya. Tidak hanya itu, ternyata Hamid juga pernah keluar pesantren dan bertemu dengan seorang perempuan dan dia dikuasai dorongan nafsunya kepada perempuan itu dan akhirnya dia terjerat ke dalam belaian mesra dengan perempuan tersebut.

Setelah kejadian itu, Hamid baru benar-benar menyesal dan merasakan taubat sepenuh hati dan total pasrah. Melalui kejadian itu juga, hamid tak lagi merasa suci dan sok pantas masuk surga. Dia pun juga tak lagi gampang menilai buruk orang lain dengan dasar kesuciannya.

Ketika tertipu oleh amal kebaikan

Meski kita rajin ibadah dan tak pernah melakukan salah atau dosa, jangan sampai trerbuai sehingga merasa diri kita suci dan pantas masuk surga. Jelasnya, jangan tertipu dengan amal kebaikan yang kita lakukan! Seseorang yang melaksanakan banyak amal kebaikan lalu dalam hatinya senantiasa merasa dekat dengan Allah dan merasa aman dari siksa Allah, orang tersebut akan celaka.

Sebagaiamana yang dialami Hamid dalam kisah di atas, Hamid terbuai pada semua kebaikan yang dia lakukan, sehingga membuat dirinya terjebak pada kesombongan yang terselip dalam hatinya dan merasa lebih suci dari orang lain. Akibatnya, dia tergelincir juga pada perbuatan salah dan dosa. Bukan karena kesengajaan dirinya hal itu terjadi, karena kesombongan dirinya yang merasa tak berdosa.

Dari tiu, sesungguhnya dosa yang kita lakukan (entah sengaja atau tidak) bukan semata sebagai perbuatan dosa yang tidak memiliki hikmah. Mungkin dengan dosa yang kita lakukan, hikmahnya kita tak merasa paling suci dan sombong pada orang lain yang dianggap tidak ahli ibadah. Mungkin dengan dosa, kita tahu bagaimana caranya bertaubat meratapi dosa. Mungkin selama ini taubat kita tak sepenuh hati karena masih merasa diri kita tak pernah melakukan dosa. Mungkin dengan dosa yang kita lakukan, yang awalnya gampang menduga orang lain penuh dosa atau menuduh orang lain yang berdosa sebagai ahli nereka. Nah, dengan kita memiliki dosa kita tak akan begitu lagi.

Lebih baik berdosa tapi terus menyadari perbuatan dosanya dalam bertaubat, dari pada rajin rajin ibadah tapi membuat hati merasa suci dan sombong. Jadi, sesungguhnya kelakukan baik sebagai ujian untuk mengukur apakah kita merasa suci dan sombong. Kelakukan buruk sebagai ujian untuk mengukur apakah kita masih memiliki harapan untuk bertaubat.

Merasa suci dan anggapan buruk pada yang lain

Memang, orang yang selalu baik lalu sok baik akan gampang menganggap orang lain tidak baik. Atau, orang yang tak pernah melakukan kesalahan lalu melihat dirinya suci akan gampang melihat orang lain yang salah dipandang sebagai orang yang buruk. Dia begitu gampang menyalahkan orang atau menganggap orang yang melakukan kesalahan sebagai orang yang snagat buruk, karena dia tidak tahu bagaiamana jika dia seperti mereka.

Kita jangan gampang menganggap orang lain salah, kalau kita belum merasakan bagaimana menjadi orang salah. Karena ada orang yang sudah putus asa untuk berubah baik karena dirasa kelakuan buruknya sudah terlalu sulit untuk diperbaiki, sehingga dia tetap memilih terus terjerat dalam keburukan.

Kadang kita sangat gampang mengucapkan agar orang mau menjadi orang baik, sementara kita tidak tahu bagaimana terbelenggunnya orang tersebut dalam keburukannya. Bukannya dia tidak mau berubah, hanya saja dia terbelenggu dalam keburukan. Mungkin keburukannya sudah menjadi kebiasaannya yang sudah melekat pada dirinya, sehingga sulit sekali meninggalkannya.

Makanya, seorang yang bener-bener mengerti, dia tidak akan gampang menyuruh apalagi memaksa orang agar berubah menjadi baik. Coba kita ingat akan beberapa kisah seorang saleh atau ulama’ dalam mengajari orang yang buruk, beliau tidak langsung memaksa agar orang yang diajari berubah. Bahkan, beliau hanya diam saja ketika melihat orang yang sedang melakukan keburukan, tidak bertindak apa-apa, kecuali mendoakan saja. Karena beliau mengeti bahwa orang bisa berubah menjadi baik semata karena hidayah Allah.

Orang yang menilai orang lain dengan dasar kesucian dirinya, akan membuat dirinya sombong dan menganggap orang lain salah dan penuh dosa.

Penulis: M. Taufiq Maulana

Leave A Response


Translate »