Tuesday 15th October 2019,

Kisah Sahabat Menjamu Tamu Meski Keluarganya Kelaparan

Kisah Sahabat Menjamu Tamu Meski Keluarganya Kelaparan

ASWAJADEWATA.COM- Seseorang telah menjumpai Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam dan mengadukan kelaparan dan penderitaanya kepada beliau. Kemudian Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam menyuruh seorang shahabat bertanya kepada istri-istri beliau, apakah di rumah ada makanan, ternyata tidak ada.

Lalu, Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bertanya kepada para shahabatnya, “Adakah diantara kalian yang malam ini bersedia menjamu tamu ini?” Seorang Anshar menyahut, “Ya Rasulullah, Saya bersedia menjamunya.”

Shahabat anshar itu membawa pulang tamu tadi kerumahnya dan berkata kepada istrinya, “ini adalah tamu Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam jangan sampai kita mengecewakanya, dan menjamunya jangan sampai kita menyembunykan apapun!” Istrinya menjawab, “Demi Allah, aku hanya menyimpan sedikit makanan. Itu pun hanya cukup buat anak-anak kita.” Suaminya Berkata, “Hiburlah dulu anak-anak kita sampai mereka tidur, jika sudah tidur, hidangkanlah makanan itu untuk tamu kita, lalu duduklah.

Kemudian berdirilah dan padamkanlah lampu, dengan berpura-pura akan membetulkannya (supaya tamu bisa makan dengan leluasa dan dia tidak tahu kalau tuan rumah tidak ikut makan).” Istrinya melaksanaka rencana tersebut dengan baik. Pada malam itu, suami istri dan anak-anaknya terpaksa menahan lapar, Terhadap peristiwa ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

 “dan mereka  mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Q.S Al-Hasyr : 9)

Hikmah

Dari kisah di atas dapat kita petik hikmahnya, diantaranya:

  1. Mendahulukan orang lain lebih utama dari pada diri sendiri atau keluarga. Inilah akhlak Rasulullah dan para sahabat, lebih memilih kebahagiaan orang lain meski diri sendiri menderita.
  2. Ketika hendak memberikan sesuatu sementara sesuatu itu ada hak istri atau keluarga, maka harus dimusyawarahkan terlebih dahulu bersama istri atau keluarga baru kemudian sesuatu itu diberikan kepada orang lain, setelah ada kesepakatan bersama istri atau keluarga. Inilah hikmah yang sangat mulia untuk kita teladani.
  3. Ketika memberikan sesuatu kepada orang lain, janganlah terselip harapan atau pujian, kecuali kepada Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Sahabat dalam kisah di atas, dia tidak berharap apa-apa dari apa yang diberikan, sehingga Allah langsung yang memberi pujian.
  4. Dan, menjadilah pasangan suami istri yang kompak dalam melakukan kebaikan meski dalam penderitaan.

Kontributor: Asiyah Shely (Rekanita IPPNU Provinsi Bali)

Disarikan dari Kitab Fadhailul A’mal karya Syaikh Hadits Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »