Monday 20th January 2020,

Makna “Kembali Kepangkuan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo”

Makna “Kembali Kepangkuan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo”
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Sehari yang lalu, tepatnya pada hari Senin, 13 Januari 2020 Haul Majemuk Almarhumin Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo digelar. Ini adalah momen bagi para alumni Pesantren Sukorejo melabuhkan rindu kepada pesantren dan para guru, khususnya kepada para masyaikh pesantren. Dari seluruh penjuru nusantara, alumni datang menghadiri Haul Majemuk.

Sungguh semarak di hari itu. Sekian puluhan ribu orang, baik santri, alumni, wali santri ataupun para simpatisan memadati tanah Sukorejo. Berbagai acara yang digelar menambah semaraknya Haul Majemuk. Tak hanya di dunia nyata, di media sosial pun acara Haul Majemuk marak dengan postingan gambar, status, komentar, share tentang kegiatan Haul Almarhumin Sukorejo.

Postingan di media sosial juga ramai dengan ungkapan atau hashtag “Haul Majemuk 2020” dan “Kembali Kepangkuan Sukorejo”. Dua ungkapan ini ramai di status atau komentar di akun-akun media sosial. Entah, paham atau tidak dari dua ungkapan ini. Saya sendiri pun juga baru benar-benar paham setelah Abuya Azaim menjelaskan di acara Reuni Akbar Alumni.

Dan, saya tidak paham ketika acara reuni alumni, yang saat itu Abuya Azaim memberi ceramah. Saya baru benar-benar paham setelah saya memutar kembali video acara Reuni Akbar Alumni di channel youtube S3 Tv. Karena dengan waktu hanya dua hari di Sukorejo, membuat saya masih rindu suasana pondok. Akhirnya saya memutar lagi video-video Haul Majemuk, untuk mengobati kerinduan pada Sukorejo.

Ingat dengan berita yang tersebar di media sosial tentang pesan Abuya Azaim kepada alumni, saya langsung memutar video acara Reuni Akbar Alumni. Pesan itu dimuat di aswajadewata.com. yaitu “Alumni Sukorejo Tidak Sepatutnya Memposting Pendapat Wahabi”. Saya simak dengan baik ceramah Abuya hingga akhirnya sampai pada pesan tersebut. Ternyata pesan tersebut berdasarkan kepada makna “Kembali Kepangkuan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo”.

Masih penasaran dan kurang paham, saya putar bolak-balik video ceramah Abuya sambil dituliskan bahasa ceramah beliau. Akhirnya, mendapatkan poin pesan Abuya tentang makna “Kembali Kepangkuan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo” dan kaitannya dengan “Alumni Sukorejo Tidak Sepatutnya Memposting Pendapat Wahabi”. Dari memutar bolak-balik ceramah Abuya, tak hanya kerinduan yang terobati, makna “Kembali Kepangkuan Sukorejo” pun (insyaallah) dipahami.

Berikut hasil catatan bahasa ceramah beliau, “Bukan hanya kembali ber-reuni melihat kamarnya, melihat pondoknya, melihat pemandiannya, melihat tempat pajeken nase’en, tetapi kembali kepada kepangkuan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, kembali kepada pemikirannya, kembali kepada manhajnya, kembali kepada akidahnya, kembali kepada aqaid sekednya

Ceramah Abuya tersebut, saya memahami bahwa maknanya “Kembali Kepangkuan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo” memiliki arti fisik dan hakikat. Makna fisik maksudnya kembali dengan cara datang dan hadir ke Sukorejo. Semisal melihat pondok atau asrama, tempat pemandiannya, tempat langganan beli nasi atau yang lainnya. Ini tetap termasuk “Kembali Kepangkuan Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo” namun dalam arti fisik atau kasat mata. Bahasa sederhananya, berangkat dari rumah menuju Sukorejo.

Sementara makna hakikatnya adalah kembali kepada pemikirannya, kembali kepada manhajnya, kembali kepada akidahnya. Maksud pemikiran, manhaj dan akidah tentu apa yang diajarkan, dipraktikkan, diwasiatkan oleh para guru di Pesantren Sukorejo, Khusunya Almarhumin, KHR. Syamsul Arifin, KHR. As’ad, KHR. Ahmad Fawaid. Semua yang diajarkan berdasarkan kepada pedoman ahlussunnah wal jama’ah. Dewasa ini ditambah dengan ‘an-nahdliyah’ untuk membedakan dengan kelompok yang mengaku aswaja.

Baca juga: Pesan Kiai Azaim Kepada Alumni yang Terpapar Paham di Luar Aswaja

Pesan kembali ini tentu kepada alumni yang terpengaruhi atau terkontaminasi oleh paham di luar aswaja an-nahdliyah. Dan pesan ini didasarkan oleh pantauan Abuya Azaim di sosial media. Karena ada alumni yang suka memposting atauh share konten yang sumbernya bukan aswaja an-nahdliyah, seperti wahabi dan syi’ah. Sebagaimana yang disampaikan Abuya dalam ceramahnya, “Saya menjumpai di media sosial beberapa santri aktif memposting yang sumber rujukannya di luar ahlussunah wal jama’ah.”

Sebab terpengaruhinya alumni juga disampaikan oleh Abuya, “Karena mungkin diantara beberapa santri pulang ke masyarakat bergaul dengan bermacam lapisan masyarakat tidak menutup kemungkinan sedikit atau banyak terkontaminasi, terpengaruh di luar ajaran guru-guru kita. Maka kembalilah kepangkuan Sukorejo, yang kita diajarkan setiap menjelang shalat Isya’ “Kaule asyakse’e”

Maka alumni yang terpengaruhi oleh paham di luar ahlussunnah wal jama’ah, harus kembali kepangkuan Sukorejo. Kembali di sini sebagaimana yang dimaksudkan oleh Abuya, yaitu berpedoman dan mengamalkan apa yang sudah diajarkan oleh Guru dan Kiai di Pesantren Sukorejo, baik pemikiran, manhaj, terlebih akidahnya.

Saya sendiri juga mendapatkan laporan bahkan juga melihat sendiri di media sosial ada alumni yang memposting atau mengshare konten berupa video, opini atau meme di akun media sosial mereka. Entah apa yang merasuki mereka, apakah sudah terpengaruhi atau tidak mengerti bahwa yang disahre itu sumbernya adalah bukan ahlussunnah waljama’ah.

Dalam ceramah abuya di acara Reuni Akbar Alumni, Abuya juga menyampaikan, sebaiknya, sepatutnya, dan lebih utama memposting dan share konten yang sumbernya dari ahlussunnah wal jama’ah. Semisal dari Kyai, Ulama atau Habib yang pemikiran, manhaj dan akidahnya ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyah. Terutama konten yang bersumber dari gurunya sendiri, itu lebih utama.

Pesan Abuya Azaim ini secara tidak langsung mengajak para Kiai, Ulama, Habib terutama pengasuh pesantren yang pemikiran, manhaj dan akidahnya ahlussunnah wal jama’ah aktif di sosial media. Tujuannya agar para santrinya tidak terpengaruhi atau terpapar oleh paham di luar ahlussunnah wal jama’ah. Karena dengan banyaknya konten ahlussunah wal jama’ah di sosial media, terutama dari Kiai, maka para santri akan mudah menemukan konten untuk disahre atau diposting.

Jangan-jangan santri yang suka posting atau share konten yang sumbernya dari Wahabi misalnya, karena para santri tak menemukan konten dari para kiai. Karena sedikitnya konten yang tersebar di media sosial.  Sementara konten dari kelompok Wahabi merajalela di media sosial, sehingga mudah ditemukan dan ini yang menjadi salah satu sebab santri terpapar paham Wahabi atau kelompok radikal.

Dengan demikian, kita sebagai santri harus mengerti dan cerdas dalam bersosial media. Jangan ikut-ikutan sampai seperti orang kerasukan sehingga lupa pada gurunya sendiri. Seharusnya yang diposting dan share adalah konten yang bersumber dari Ahlussunnah wal jama’ah, Kyai, ulama dan Habib. Lebih jelasnya tokoh NU. Lebih jelasnya lagi, guru kita  sendiri yang mengajarkan di Pesantren.

Mungkin cukup demikian yang bisa saya tulis dari ceramah Abuya Azaim, khusus terkait pesan agar alumni tidak mudah terpapar paham selain ahlussunnah wal jama’ah. Jika ada yang sudah terpapar, kembalilah kepangkuan Sukorejo, baik dalam makna fisik dengan datang ke Sukorejo dan makna hakikat dengan memita bimbingan ilmu ke Abuya Azaim untuk mengembalikan pemikiran, manhaj dan akidahnya ke ahlussunnah wal jama’ah. Wallahu a’lam bis-shawab.

Editorial,
Muhammad Taufiq Maulana

Leave A Response


Translate »