Saturday 11th July 2020,

Memahami Al-Qur’an Sebagaimana yang Dikehendaki Allah

Memahami Al-Qur’an Sebagaimana yang Dikehendaki Allah
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Bagaimana memahami Al-Qur’an? Pertama, pastikan situasi seperti apa yang hendak direspon Al-Qur’an. Mengenal situasi ini bisa melalui ilmu asbabu a- nuzul (sebab sebab dihadirkannya ayat), baik sabab khusus/spesifik maupun konteks sosial, budaya, politik, saat ayat diturunkan.

Kedua, situasi seperti apa yang diidealkan yang hendak diubah oleh Al-Qur’an. Situasi yang diidealkan Al-Qur’an ini dapat diketahui melalui mengenali apa tujuan utama (maqhashid), mana tujuan antaranya (wasa’ilu a- wasa’il) dan mana media atau strategi menuju ketujuan utama itu (al-wasa’il).

Ketiga, mengetahui struktur bahasa yang digunakan Al-Qur’an. Bahasa Al-Qur’an adalah tangga atau alat untuk menyelami makna/keinginan/maksud Allah yang melekat dalam dzatnya.

Dengan tiga hal tersebut, setidaknya sebuah penafsiran/pemahaman akan lebih mendekati kebenaran yang dikehendaki Allah. Walapun bukan satu-satunya. Sebab Ilmu Allah bisa saja di”dilesebkan” oleh Allah kedalam hati hamba-hamba yang bersih dan dikasihi-Nya. Seperti Ilmunya Nabiyullah Khidir as, sebagimana digambarkan dalam al Qur’an.

Contoh bagaimana kita memahami ayat “Jilbab”:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّبِیُّ قُل لِّأَزۡوَ ٰ⁠جِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاۤءِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ یُدۡنِینَ عَلَیۡهِنَّ مِن جَلَـٰبِیبِهِنَّۚ ذَ ٰ⁠لِكَ أَدۡنَىٰۤ أَن یُعۡرَفۡنَ فَلَا یُؤۡذَیۡنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمࣰا .الأحزاب ٥٩

Pertama, situasi sosial-budaya seperti apa yang direspon ayat ini? Menurut penuturan beberapa mufassir, ayat ini turun untuk mengingatkan agar perempuan-perempuan merdeka tidak mengenakan pakaian yang meyerupai pakaian budak-budak perempuan.

Sebab banyak laki laki fasiq yang gemar menggoda/menyakiti budak-budak perempuan. Jadi, jika perempuan merdeka mengunakan pakaian mirip budak maka ia akan disakiti seperti budak disakiti.

Maka, kedua, situasi ideal apa yang dikehendaki Al-Qur’an? Apakah keamanan dan kenyamanan perempuan dimana perempuan tidak digoda dan disakiti? Sehingga mengenakan jilbab hanyalah tujuan antara? Maka sepirit ayat itu adalah mengubah budaya “mengganggu itu”.

Ataukah, tujuan utamanya mengenakan jilbab, bahkan harus bercadar agar tidak diganggu laki laki fasiq (jahat)? Sekalipun perempuan harus mengurangi “sedikit” kenyamanannya, dengan makan dan minum dari balik cadar yang “menurut dugaan saya” menyulitkan.

Setelah mengenali dua hal itu, baru kita menyelami ayat di atas melalui bahasa suci yang digunakan Allah swt. Gunakan ilmu Nahwu, Sharraf, ilmu lughah, dan juga Usul Fiqih.

Selamat mencoba.

Kiai Imam Nakha’i, Situbondo 30 Juni 2020

Leave A Response


Translate »