Saturday 25th January 2020,

Memahami Gus Muwafiq

Dadie W Prasetyoadi December 3, 2019 perspektif No Comments on Memahami Gus Muwafiq
Memahami Gus Muwafiq
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Ungkapan bahasa seseorang memang tidak melulu sekedar perlu menggunakan intelektualitas pola pikir untuk dipahami, namun hendaknya dibarengi sentuhan nalar emosional. Kondisi budaya dan lokasi dimana sebuah pembicaraan itu berada sangat penting untuk diketahui.

Kadang terlihat jelas persepsi yang berbeda muncul hanya karena kita tidak terlalu memahami konteks tema pembicaraan tersebut, atau juga tidak mengetahui persis kronologinya. Lebih parah lagi jika hanya menyimak potongan-potongan narasi yang ditujukan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Seperti halnya opini publik terhadap Kiai Ahmad Muwafiq yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Muwafiq. Bersumber dari potongan videonya yang viral saat berceramah di hadapan jamaah sebuah pengajian  peringatan Maulid Nabi di Purwodadi, Jawa Tengah.

Banyak pihak menilai bahwa Dai nyentrik tersebut dalam video itu telah menghina Rasulullah SAW dengan menyebutnya rembes (dekil/kumuh) saat bercerita tentang masa kanak-kanak Rasulullah SAW saat diasuh Abdul Muthalib, kakek beliau.

Namun jika para pengkritiknya menganggap Gus Muwafiq yang dikenal ahli tasawuf dan sejarah Islam itu berbicara tanpa berdasarkan referensi apapun, atau bercerita dengan versinya sendiri, mungkin ada baiknya mereka menyimak penjelasan seorang netizen yang diunggah pada sebuah status facebook dengan nama akun Nur Rokhim sebagai berikut;

“Kita meributkan soal agama, karena kebodohan kita sendiri, ilmu kita dangkal, ngajinya baru Tarikh terjemahan, tapi berani menghakimi kyai,” tulisnya.

Ada tiga  narasi yang dianggap kontroversial dari ceramah Gus Muwaffiq.
(Hasil penelusuran Ust. Ahmad Fauzan Rofiq, M.Pd.I)

Pertama, “Nabi lahir biasa saja, tidak mengeluarkan sinar.”
Faktanya: dalam kitab-kitab sirah memang tidak ada keterangan bahwa Nabi lahir sembari mengeluarkan sinar, yang terjadi sebenarnya adalah keadaan langit saat kelahiran beliau sangat terang benderang penuh cahaya.
(Referensi : Kitab An-Ni’mat Al-Kubro alal Alam)

Kedua, “Tubuh Nabi saat masih kanak-kanak mrembes dan degil.”
Itu memang kondisi umum anak-anak pada masa itu.
(Referensi : Kitab Ar-Rohiq al-Makhtum)

Ketiga, “Nabi tidak begitu terurus ketika diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.”
Maksudnya: kasih sayang dan pelayanan kakek tentu tak sehebat kasih sayang dan pelayanan orang tua sendiri. Jadi, bukan lantas dipahami “terlantar”.
(Referensi : Kitab Al-Kamil fi al-Tarikh)

Nabi Muhammad saat usia tujuh tahun masih dirawat kakeknya, Mata Beliau Kena Penyakit (REMBES)
Setelah Kakeknya Wafat Dirawat Pamannya ABU THOLIB.
(Referensi : Kitab Nurul Absor نور الأبصار في مناقب أل بيت النبي المختار)

KESIMPULAN :
Isi ceramah Gus Muwafiq tidak salah, apalagi menistakan Rosulullah, beliau hanya berusaha menjelasken dengan bahasa yg sederhana dan membumi di tempat ceramah saat itu di daerah Purwodadi Jawa tengah, Namun Akhlakul Karimah beliau tetap minta maaf.
Semoga Gus Muwaffiq selalu dalam lindungan Allah. Swt. Amin.

Melihat apa yang disampaikan dalam status tersebut diatas, terlihat bahwa Gus Muwafiq tidak sekedar asal berbicara. Ternyata apa yang disampaikannya semua bisa didapati dalam kitab-kitab yang berisi tentang sejarah Rasulullah SAW.

Meskipun begitu, mungkin dengan niat untuk mendinginkan suasana dan tidak ingin menimbulkan keresahan berlarut di masyarakat, Gus Muwafiq tetap memberikan pernyataan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka dalam bentuk video. Sebuah tindakan elegan dari seorang ulama sekaligus panutan jutaan umat muslim Indonesia.

Ia menyatakan bahwa pernyataannya itu tidak bermaksud menghina Nabi. Ia sejak kecil dididik untuk menghormatinya. Namun demikian, ia meminta maaf kepada umat Islam jika pernyataannya dianggap menyinggung.

“Untuk seluruh kaum Muslim seluruh Indonesia, apabila kalimat ini saya lancang, saya mohon maaf sebesar-besarnya. (Saya) Tidak ada maksud menghina, mungkin hanya inilah cara Allah menegur agar ada lebih adab terhadap Rasulullah dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya sederhana, tapi beberapa orang menganggap ini kalimat cukup berat. Kepada seluruh kaum Muslimin, saya mohon maaf,” ujarnya dalam video tersebut.

Wallahu a’lam

Dadie W. Prasetyoadi

 

 

Leave A Response


Translate »