Sunday 12th July 2020,

Memahami Praktik Poligami Nabi

Memahami Praktik Poligami Nabi
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Saat ini kembali sedang marak wacana tentang poligami. Pasalnya, karena ada seseorang membahas tentang poligami dengan pernyataan “Menikahi satu wanita adalah penakut”. Entah maksudnya apa kok sampai menyampaikan demikian.

Apa mungkin pernyataan tersebut dilatarbelakangi oleh pengamalaman diri sendiri (Bahwa dirinya dihantui ketakutan sebagai laki-laki jika tidak menikah lagi) atau memang ada hujjah yang menjelaskan bahwa laki-laki yang menikah hanya satu istri termasuk laki-laki penakut. Tapi, sepertinya tidak pernah ada ulama yang menjelaskan demikian, apalagi nash Quran atau Hadits.

Jika pernyataan orang tersebut dianggap sebagai dasar poligami, berarti bisa dikatakan bahwa Nabi menikah lebih dari satu karena Nabi bukan laki-laki penakut. Kalau semisal Nabi tidak poligami berarti Nabi penakut. Bila demikian, sungguh keliru besar. Oleh sebab itu, kita harus memahami poligami yang dipraktikkan Nabi.

Poligami yang dipraktikkan Nabi, sama sekali tidak ada kaitannya dengan rasa takut sebagai seorang laki-laki. Berikut ini akan saya paparkan kembali tentang praktik Nabi. Sebelumnya pernuh dimuat di web ini. Demi memberi penegasan pemahaman, maka sangat perlu menjelaskan kembali tentang poligami Nabi.

Bersama Sayyidah Khadijah binti Khuwailid; mengukuhkan pondasi risalah, pendidikan dan menebar benih-benih kemanusiaan yang bebas dan hanya tunduk kepada Allah, perwujudan tauhid.

Bersama Sayyidah Saudah binti Zam’ah; membuka jalur hijrah ke Yatsrib dan pengakuan pertama terhadap Islam setelah tahun berduka.

Bersama Sayyidah Aisyah binti Abu Bakr as-Siddiq; mempererat hubungan persaudaraan antara sesama Muslim untuk menyongsong kekuatan dan mendirikan Madinah.

Bersama Sayyidah Hafshah binti Umar; mencegah keretakan dalam tubuh para sahabat dan mengangkat martabat kaum perempuan.

Bersama Sayyidah Zainab binti Khuzaimah; menggemakan keadilan sosial bagi kaum tertindas, dhuafa, budak, lansia, dan perempuan, namun Zainab meninggal dunia, lalu kaum Muslimin diuji dengan perang Uhud.

Bersama Sayyidah Ummu Salamah binti Abu Umayyah; membangkitkan kekuatan dakwah, keamanan, politik, militer, dan ekonomi.

Bersama Sayyidah Zainab binti Jahsy; menguji keimanan kaum Muslim, membuktikan kejujuran Rasulullah, membuka kedok orang-orang munafik, menyuarakan keadilan dalam berbagai aspeknya: keyakinan, pribadatan, hukum, pernikahan, ekonomi dan persaudaraan.

Bersama Sayyidah Juwairiyah binti Al-Harits; melumpuhkan kekuatan paganism Arab yang zalim dan jumud, mengikis perbudakan dan mengubah wajah perang dengan cinta dan kedamaian.

Bersama Sayyidah Ummu Habibah binti Abu Sufyan; membangun cinta dan persaudaraan dengan kaum Quraisy demi sebuah peradaban yang maju dan berkeadilan, jembatan Islam dengan Romawi dan Arika, dan menjawab kebimbangan umat Kristen tentang status Yesus.

Bersama Sayyidah Shafiyah binti Huyay ibn Akhthab; mengakiri pengkhiatan Yahudi, mencipatakn persaudaraan dengan bangsa Ibrani dan mengungkap kesaksian Yahudi terhadap risalah Nabi Muhammad Saw.

Bersama Sayyidah Maimunah binti Al-Harits; membangun hubungan emosional dengan kaum Muslimin yang jauh, membebaskan Mekah dari kaum orang-orang musyrik, paganism, dan kezaliman, kemudian orang-orang masuk Islam berbondong-bondong.

Bersama Sayyidah Raihanah binti Syam’un; member keadilan kepada budak dan menampilkan model baru dalam mengakhiri perang.

Bersama Sayyidah Mariyah al-Qibthiyah; memperluas jaringan dakwah, membebaskan dunia dari penguasa-penguasa Tiran, mengubah penjajahan dengan persaudaraan dan pendidikan, menjalin hubungan yang harmonis antara bangsa Arab dengan Mesir dan Babilonia yang telah terputus selama ribuan tahun, kemudian menutup dan menyempurnakan risalah dengan optimalisasi pengajaran dan penerapan Al-Qur’an. (Gus Tama)

Leave A Response


Translate »