Tuesday 15th October 2019,

Memaknai Filosofi “Hubbul Wathan Minal Iman”

Memaknai Filosofi “Hubbul Wathan Minal Iman”

ASWAJADEWATA.COM- Konsep kebangsaan yang dituangkan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sudah tepat, “Hubbul Wathan Minal Iman.” Syaikh Hasyim selain hafal kutubus sittah, beliau bergelar Hadratus Syaikh karena hafal Kutubus Sittah (Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah) juga salah satu ulama besar di Asia Tenggara.

Di masa hidupnya, dalam banyak kesempatan, Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari sering menyampaikan ungkapan “Hubbul wathan minal iman”. Bukan berarti beliau berdalil dan mengatakan bahwa itu adalah hadits. Akan tetapi beliau mengajak rakyat untuk mencintai negeri ini. Beliau menggunakan slogan tersebut karena secara prinsip maknanya memang benar.

Indonesia merupakan Tanah Air yang beragam suku, budaya, maka penerapan slogan “Hubbul Wathan Minal Iman” sangat relevan untuk menjaga persatuan dan perdamaian di Negara Indonesia.

Dalam konteks kebangsaan dan keagamaan “Hubbul Wathan Minal Iman” menjadi sebuah konsep yang strategis. Seperti halnya kedudukan beberapa slogan seperti hadits-hadits maudhu’ yang lain misalnya, tapi maknanya shahih seperti “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”. Walaupun maudhu’ tapi maknanya benar bahwa jika menuntut ilmu itu tak akan pernah terikat dengan waktu, usia dan keadaan. Bukan berarti jika itu hadits dhaif kita dilarang untuk menyebutkannya seperti yang disampaikan dari kelompok atau golongan tertentu.

Kemudian dalam kitab Dalil al-Falihin Syarh Riyadh ash-Shalihin jilid 1 halaman 27 disebutkan: “Maka semestinya bagi orang yang sempurna imannya hendak membuat kemakmuran akan tanah airnya dengan amal saleh.”

Kemudian, maksud dengan “cinta tanah air” adalah memakmurkan tanah airnya, memakmurkan dengan amal-amal saleh atau amal-amal yang baik. Sedangkan tanah air manusia itu ada dua macam: 1) Tanah air jasmani, yaitu bumi tempat kita lahir dan berpijak, dan 2) Tanah air ruhani, yaitu tanah air akhirat, tempat dimana ruh kita berasal dan akan kembali nantinya.

Kedua tanah air kita ini harus dimakmurkan, baik tanah air ruhani maupun jasmani. Dimakmurkan dengan perbuatan-perbuatan baik. Sehingga nantinya kita bisa menuai buahnya:

رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلاَحِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dalam QS. al-Baqarah ayat 126, Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Ayat di atas menunjukkan Nabi Ibrahim as. adalah seseorang yang begitu mendalam mencintai tanah airnya. Satu dari millah Nabi Ibrahim As. adalah mencintai tanah air. Mengapa harus mencintai tanah air? Dalam kitab Jami’ ash-Shaghir jilid 1 bab huruf Ta’ halaman 222, Rasulullah Saw. bersabda: “Jagalah dirimu dari bumi, maka sesungguhnya bumi itu adalah ibumu.”

Hadits tersebut dalah perintah untuk menjaga diri sendiri dan ibu pertiwi (tanah air) dari tindakan-tindakan negatif dari diri sendiri maupun tindakan orang luar.
Al-Hafidz Ibn Hajar berkata:

وفي الحديث دلالة على فضل المدينة ، وعلى مشروعية حب الوطن والحنين إليه

“Dalam hadits tersebut menunjukkan tentang keutamaanya kota Madinah, dan disyariatkannya cinta tanah air dan rindu kepadanya.”

Dalam QS. ar-Rum ayat 41, Allah Swt. berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Kemudian tafsir ar-Ruh al-Bayan menulis:

و في تفسير الاية اشارة ان حب الوطن من الايمان

“Dan dalam pengertian, kesimpulam serta tafsir dari ayat ini menunjukkan bahwa cinta terhadap negeri adalah sebagian dari iman.”

Hadits tersebut memang maudhu’ tapi maknanya shahih. Tapi bagaimana para salaf kita selalu mendengungkan ungkapan-ungkapan itu. Artinya kalau ditolak serta merta juga tidak bisa karena secara makna juga tepat. Oleh karena itu dalam kesimpulan selain menyebutkan derajatnya dalam ilmu musthalah hadits juga harus ditampilkan bahwa secara makna shahih.

Maka seperti redaksi dalam kitab Asna al-Mathalib setelah menyebutkan derajat hadistnya beliau juga menampilkan redaksi “tetapi  maknanya shahih” supya sampai dalam kesimpulan jangan sampai ditolak serta merta.

Oleh: Ustadz Muslimin, S,Pd (Da’i Aswaja Dewata)

 

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »