Wednesday 08th July 2020,

Memendam Cinta, Mati Syahid

Dadie W Prasetyoadi May 7, 2020 sastra No Comments on Memendam Cinta, Mati Syahid
Memendam Cinta, Mati Syahid
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Padahal sudah tiga tahun Habibah menikah dengan Habibi. Bahkan sudah dikaruniai satu anak. Habibah hidup bersama suaminya sudah sangat bahagia. Tapi kenapa hati Habibah kini  menaruh rasa pada laki-laki lain. Sebenarnya -menurut Habibah- sudah tidak ada peluang lagi hatinya akan tersandung pada laki-laki lain, karena  sudah serapat mungkin hatinya ditutup untuk laki-laki lain, sudah memasrahkan hati dan cintanya hanya untuk suaminya, dan sudah merasakan keindahan hidup bersama orang yang dicintainya sejak sebelum akad nikah digelar.

Sejak hatinya menaruh rasa pada laki-laki lain, sejak itu pula dia berusaha untuk membuangnya. Karena dia sadar, jika ini terus berlarut, khawatir menjadi sikap dan tindakan yang akan menghancurkan rumah tangganya. Namun, segala upaya yang dikerahkan tidak berbuah hasil apa-apa, justru semakin dia memaksa membuang, malah semakin saja rasa itu menghujam.

Seiring bergulirnya waktu, rasa itu tetap ada di hatinya. Dugaan dia ternyata salah. Menurutnya, rasa itu akan jauh dan hilang seiring berlalunya waktu. Sehingga, rasa itu membuat dirinya merasakan rindu yang dahsyat pada laki-laki yang kini hadir ketika dia berkeluarga.

Meski dia tetap mampu menjaga rasa itu tidak menjadi sikap dan tindakan yang tampak di hadapan suaminya, tetapi dia tidak mampu membuang rasa rindu itu. Setiap saat rasa rindu itu memaksa dirinya agar melangkahkan kakinya bertemu dengan orang yang dia rindukan. Tetapi, Habibah memang perempuan yang benar-benar menjaga agamanya. Dia tidak mau mengabulkan kehendak rindu itu. Karena, menurutnya, jika hal itu sampai terjadi, maka dia akan merusak bahkan menghancurkan rumah tangganya. Dia juga merasa, jika hal itu terjadi, itu sama saja merusak dirinya sendiri.

Kini, Habibah menjalani hidupnya dengan memikul beban yang sangat berat. Dia harus melayani suaminya dengan sebaik mungkin, meski rasa rindu itu mengganggunya. Dia, juga harus menjaga rasa rindu itu agar tidak menjadi sikap dan tindakan yang kemudian akan terlihat suaminya. Dia hanya menyadari, melayani suaminya adalah kewajiban, menjaga rasa rindu pada orang lain adalah ujian.

Sungguh, Habibah adalah perempuan yang sangat kuat. Dia tetap mampu meleyani suaminya sebagaimana ketika rasa itu belum hadir di hatinya, dan dia tetap mampu menjaga rasa rindu itu tidak menjadi sikap dan tindakan yang merusak hubungan keluarganya. Beban perasaan itu pun dipikul hingga dia jatuh sakit dan sampai pada titik hembusan nafas terakhir.

…Begitu juga Alaik, suami Zara. Entah sudah berapa tahun Alaik menahan gejolak hati yang menaruh rasa pada perempuan lain. Dia tahu, dalam aturan hukum Islam seorang laki-laki diperbolehkan menikahi perempuan lebih dari satu. Tapi, aturan hukum Islam itu seolah menjadi haram bagi dirinya ketika dia mengingat istrinya yang sangat setia melayani dirinya. Bahkan, dia akan merasa berdosa ketika dia menikah dengan perempuan lain, karena dia merasa tidak bersyukur memiliki istri seperti Zara yang sedemikian pasrah.

Sejak hati Alaik berbagi rasa pada perempuan lain, setiap hari dan malam, Alaik mengendalikan dua perasaan. Perasaan pertama yang terus hendak memaksa beralih pada perempuan lain, Alaik mengendalikannya agar tidak sampai merubah sikapnya pada istrinya. Perasaan kedua tentang istrinya, dikendalikan agar tidak gampang pupus dan terus bersemi bersama istrinya.

Bagaimana Alaik tidak akan merasa berdosa ketika dia hendak menikahi perempuan lain, sementara Zara sebagai istri selalu berperan baik dan ideal. Alaik sebagai suami tidak pernah merasa tersakiti oleh Zara. Alaik sebagai suami yang mencari nafkah tidak pernah dituntut untuk memenuhi keinginan material. Alaik sebagai ayah merasa puas dengan cara Zara dalam mendidik anak-anaknya. Alaik sebagai laki-laki yang memiliki pekerjaan dengan melibatkan banyak perempuan tidak terlalu mengekang dan mengatur dalam berhubungan dengan lawan jenis. Alaik sebagai seorang hamba Allah, selalu diingatkan agar istiqamah menunaikan ibadah. Dan, dalam hal memenuhi kebutuhan biologis pun Zara tidak pernah mengecewakan Alaik.

Rasa cinta dan sayang sudah Alaik pasrahkan pada Zara. Tapi, entah kenapa hati Alaik mencuri perasaan Alaik yang kemudian diberikan kepada perempuan lain. Namun, perasaan itu dikalahkan oleh kepasrahan Zara. Alaik sebagai suami mengerti dan merasakan kepasrahan istrnya. Selain itu juga, Alaik melihat tingkah Zara, ia adalah istri yang memiliki sikap yang lembut dan anggun, juga manja di saat-saat tertentu. Cara bicara Zara, suaranya tidak pernah lebih tinggi dari suara Alaik. Meski Alaik pernah memarahinya karena beberapa hal, Zara hanya diam tertunduk. Dan pasti, Zara selalu mengikuti dan taat pada bimbingan Alaik. Hal inilah yang membuat Alaik merasa nikah lebih dari satu bagi dirinya haram.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Siapa yang mampu melawan hati? Ketika hati berkehendak, diri pun tak mampu bertindak. Siapa yang mempu memahami alasan hati? Ketika hati mengalami sesuatu, logika pun tak mampu mencari-cari lalu menemukan penyebabnya. Siapa yang tahu kapan hati melakukan sesuatu? Ketika hati memiliki keinginan, diri dan logika pun tak mampu menentukan waktu kejadiannya.

Hati bisa berkehendak kepada siapa saja. Sebagaimana yang dialami Habibah dan Alaik. Habibah yang sudah memiliki suami dan dia sudah mencintainya sejak sebelum menikah, dan Habibah selalu menjaga hatinya agar tidak menaruh rasa pada selain suaminya. Alaik telah memasrahkan cita dan sayangnya kepada Zara. Namun, memang hati yang tidak bisa diketahui alasan-alasannya dan tidak diketahui kapan melakukan sesuatu, membuat Habibah dan Alaik tidak bisa bertindak untuk mengendalikan dan membuang rasa yang disebabkan ulah hati. Hati bisa menyelewengkan rasa, meski seseorang sudah ketat menjaganya.

Namun, sedahsyat apapun hati menerjang seorang diri manusia, agar tampak terlihat di kehadiran orang lain, itu tidak akan merubah apa-apa bagi seseorang yang mampu menyikapi kelakuan hati, sebagaimana yang dihadapi Habibah dan Alaik dengan kekuatan dan kesabarannya. Andai saja Habibah dan Alaik tidak bisa menyikapi kelakuan hati, maka rasa itu akan tampak di kehadiran orang lain dengan berupa sikap dan tindakan. Dan jika itu terjadi maka hancurlah kehidupan rumah tangganya.

Yang dimaksud rasa yang menjelma menjadi sikap dan tindakan, misalnya, ketika rasa itu hadir, sikap dia menjadi berubah pada suaminya atau istrinya. Yang biasanya dia asyik diajak ngobrol, ternyata dia tidak asyik lagi, karena sudah tidak nyambung disebabkan memikirkan atau membayangkan orang yang hadir di hatinya. Yang biasanya dia ceria dan riang ketika berada di hadapan suaminya atau istrinya, ternyata keriangan dan keceriaan itu tidak lagi tercipta, disebabkan dia tidak mampu menahan beban hatinya.

Sikap dan tindakan seperti itu masih bisa ditolerir dan wajar (bahkan fitrah), tetapi jika menjadi tindakan pengkhianatan dan bahkan perselingkuhan, sikap dan tindakan seperti itu sudah tidak bisa ditolerir. Semisal, dia minta cerai atau mencerai karena ada orang lain yang selama ini dicintai dan dirindukan ingin menjadi miliknya, atau ternyata secara diam-diam dia berkomunikasi dengan orang lain itu, atau sering kali melakukan pertemuan, atau bahkan sudah melakukan hal-hal yang dilarang agama. Na’udzubillah.

Alhamdulillah, Habibah tidak sampai melakukan hal itu. Begitu juga dengan Alaik. Jika dinilai dari hukum fiqh, rasa dan rindu Habibah memiliki nilai pahala, sebab dia mampu mengendalikan rasa, sehingga dia tidak melakukan hal-hal yang berakibatkan membangkang pada suami atau nusyuz, dia tetap mampu melayani suaminya dengan baik.

Dan, karena juga dia mampu menyikapi gejolak hatinya, dia tidak sampai berkomunikasi, melakukan perjumpaan, atau yang dikatan perselingkuhan, dia sangat pantas mendapatkan pahala. Karena menahan untuk tidak melakukan hal-hal yang haram itu merupakan akitfitas ibadah yang memiliki nilai pahala. Bahkan, dia akan mendapatkan derajat mulia di sisi Allah dengan status mati syahid. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits,

من عشق فكتم وعف ومات مات شهيدا

“Siapa saja yang jatuh cinta lalu dia menyimpan dan menahannya hingga dia mati, maka dia mati syahid”. [Kitab Faidh al-Qadir]

Bagaimana dengan Alaik?

Padahal dalam hukum Islam, seorang laki-laki diperbolehkan menikah lebih dari satu dengan beberapa syarat. Tapi, kenapa Alaik tidak mau melakukan itu? Sebagaimana yang tergambarkan di cerita tersebut, bahwa Alaik sudah merasakan keindahan, kenikmatan, dan kesempurnaan dengan satu istrinya itu. Memang, ketika perasaan yang berkehendak untuk menikahi perempuan lain, tidak akan terjadi sesuatu yang dapat menghancurkan rumah tangga. Karena perasaan memiliki cara yang lembut dalam menyikapi setiap apa yang terjadi.

Berbeda jika bukan perasaan yang berkehendak, yaitu hasrat atau nafsu. Mungkin, rumah tangga yang hancur lebih disebabkan oleh kehendak hasrat yang memaksa untuk menikahi perempuan lain. Sebagaimana yang sering dijelaskan di dalam kitab-kitab, nafsu memiliki cara yang bisa merusak apa saja ketika hendak melakukan sesuatu. Begitulah nafsu. Sementara perasaan biasanya lebih memilih sikap mempertahankan dari pada melakukan tindakan-tindakan yang merusak.

Lalu bagaimana dengan orang yang merusak hubungan keluarganya karena dia jatuh hati dengan orang lain. Ya, alasan karena perasaan bisa dibenarkan, tapi sedikit. Karena hal itu lebih banyak didorong oleh hasrat. Andai saja lebih mengedepankan perasaan, dijamin akan terselamatkan dari kerusakan rumah tangga. Karena perasaan itu memiliki mata yang pandangannya meluas untuk melihat orang-orang di sekitarnya. Sementara hasrat terfokus pada satu obyek saja, sehingga yang lain menjadi tertutup.

Sebenarnya tidak hanya itu. Dalam cerita Alaik dengan istrinya dan orang ketiga, yang lebih kuat mempertahankan hubungan keluarga Alaik adalah istri Alaik, Zara. Meksi Zara tidak pernah menjaga Alaik dengan melarang agar tidak jatuh hati pada perempuan lain, tapi Zara sebagai istri, secara utuh telah menjaga dan mengekang hati Alaik agar tidak gampang berpaling ke perempuan lain, dengan perannya yang baik dan ideal sebagai seorang istri.

Penulis teringat dengan dawuh seorang Kiai (KH. Afifuddin Muhajir) ketika mengisi kuliah. Beliau berdawuh, “Istri yang salehah adalah istri yang ikhlas dipoligami, tapi dia mampu meyakinkan suaminya agar tidak berpoloigami”. Zara sebagai seorang istri termasuk pada dawuh ini. Artinya, Zara telah mampu meyakinkan Alaik agar tidak berpoligami dengan perannya sebagai istri yang baik dan ideal, sebagaimana yang diceritakan sebelumnya. Meski Alaik jatuh hati pada yang lain, tapi dia tidak kuasa untuk menikah lagi karena hatinya telah yakin pada Zara.

Dengan demikian, berarti ada istri yang tidak rela atau ihklas dipoligami tapi dia tidak mampu meyakinkan suaminya agar tidak mau menikah lagi. Mungkin perempuan seperti ini bisa digambarkan perempuan yang tidak bisa berperan sebagai istri yang baik dan ideal. Hemmm…

Tentang ajaran poligami, ada yang mengatakan, “Memang, tidak ada ajaran Islam yang paling disukai oleh sebagian besar kaum laki-laki dan sekaligus paling dibenci sebagian besar kaum perempuan selain ajaran poligami. Disukai bukan karena poligami adalah ajaran ibadah yang paling afdhal dalam ajaran Islam dan dibenci bukan karena mengingkari bahwa ajaran tersebut  datang dari Allah yang Maha Adil dan Bijaksana. Disukai kaum laki-laki karena secara kebetulan sesuai dengan keinginannya (hasratnya) dan dibenci karena dalam keyataannya poligami seringkali menimbulkan ketidakadilan, kekerasan, dan keruwetan dalam rumah tangga, (dan yang paling jelas adalah sakitnya tuch di sini). Sekalipun potensi ketidakadilan dan kekerasan juga mungkin terjadi dalam perkawinan sistem monogami.

Bagaimana sikap suami jika dia tahu

Suami yang memang mencitai istrinya yang begitu, tentu cemburu. Itu pasti. Tapi, suaminya harus bangga, karena memiliki istri yang mampu menyikapi ulah hatinya. Bagi suami yang bijak, ketika istrinya diketahui begitu, pasti dia langsung mengoreksi dirinya dengan mencari-cari kesalahan dirinya yang selama ini tidak disadari. Dia akan menilai sikapnya pada istrinya, mungkin ada sikap yang membuat perasaan istrinya sakit sehingga hatinya terbuka untuk laki-laki lain. Dia juga menilai dirinya sebagai suami, kira-kira dirinya selama menjadi suami kurang maksimal membahagiakan isrtinya sehingga hati istrinya tersandung pada laki-laki lain.

Namun, bagi suami yang bejat, pasti langsung menyalahkan istrinya yang begitu. Dia akan menganggap istrinya tidak menghargai cintanya. Dia akan menilai istrinya telah mengkhianati janji untuk memasrahkan cintanya hanya pada dirinya. Dia akan merasa sudah tidak dianggap suaminya lagi. Na’udzubillah…

Bagi istri yang memiliki suami seperti yang pertama, bersyukurlah! Bagi yang memiliki suami seperti yang kedua, bersabarlah! Sementara bagi perempuan yang belum memiliki suami, berdoalah!

Bagi suami yang memiliki sifat seperti yang kedua, belajarlah untuk mengerti kehendak hati, khususnya hati istrimu. Bagi yang belum memiliki istri, belajar dan berdoalah untuk dan agar menjadi seperti suami seperti yang pertama tersebut. Amin…

(Buku Peka Rasa)

Leave A Response


Translate »