Tuesday 15th October 2019,

Menjadi Perempuan; Pantas pada Hati, Logika atau Hasrat?

Menjadi Perempuan; Pantas pada Hati, Logika atau Hasrat?

ASWAJADEWATA.COM- Ada perempuan yang pantas pada hati, ada perempuan yang pantas pada logika, dan ada perempuan yang pantas pada hasrat.

Ketika penilaian kepada laki-laki dan perempuan hanya diukur dengan fisik, maka hasilnya antara ganteng, cantik dan jelek. Penilain seperti ini salah dan sangat fatal jika dijadikan pertimbangan untuk memilih pasangan.  Dengan demikian, pesan kepada laki-laki ganteng atau perempuan cantik, jangan terlalu bangga, karena bisa saja orang yang hendak memiliki karena keindahan fisik semata. Laki-laki atau perempuan jelek jangan berkecil hati, karena orang yeng hendak memiliki lebih dimungkinkan karena benar-benar tulus.

Ingat! Cinta memiliki mata khusus untuk memandang seseorang yang dicintai. Tentu, dalam pandangan cinta tidak ada seseorang yang cantik, tampan atau jelek, semuanya tampak terlihat indah. Cinta itu keindahan, dan keindahannya tidak terletak pada obyek yang dipandang, melainkan ada pada diri subyek yang memandang. Itulah cinta.

Sebagaimana yang telah menjadi nyata dalam kisah cinta Laila dan Qais. Ketika Qais sedang mengalami cinta yang larut dalam pada Laila, Raja penasaran mengapa Qais mencintai Laila sampai sedalam itu, padahal Laila bukan bangsawan, tidak rupawan, hampir-hampir tidak ada yang istimewa dari Laila. Raja bertanya meremehkan, “Mengapa engkau sangat mencintai Laila yang biasa-biasa saja itu?”. Qois menjawab, “Karena engkau memandang Laila tidak dengan mataku”.

Sekali lagi! Fisik jangan menjadi ukuran utama dalam memilih pasangan, dan bagi yang melihat pasangan orang lain tidak sesuai dengan penilai kita karena secara fisik gak cantik atau gak ganteng, jangan sekali-kali mencaci, karena penilaian kita lepas dari pandangan cinta sebagaimana yang dirasakan oleh mereka.

Hemmm… Begitulah jika penilaian kepantasan seseorang diukur dengan fisik semata, selau saja yang menjadi ukuran cantik atau ganteng. Oke, karena kali ini pembahasan tentang perempuan, maka selanjutnya fokus pada perempuan. Mari! kita nilai perempuan tidak lagi dari sisi fisik saja. Tapi, dinilai dari kepantasan pada logika, kepantasan pada hasrat, dan kepantasan pada hati. Ketika tiga hal ini yang menjadi ukuran, maka kecantikan dan kejelekan tidak lagi menjadi nilai utama.

Pantas pada logika

Perempuan yang pantas pada logika berkaitan dengan sifat dan sikapnya. Seperti sifatnya yang lembut, sikapnya yang ramah (berakhlak baik), perhatian, pengertian, cara bicaranya oke, kata-katanya nyambung pada alur pembicaraan, penampilannya sederhana, menerima apa adanya, dan seterusnya. Logika siapakah yang merasa tidak pantas pada perempuan yang memiliki sifat dan sikap demikian?

Begitulah perempuan yang pantas pada logika. Perempuan yang pantas pada logika biasanya akan pantas pula pada hati. Sebab hati juga terdorong oleh penilaian logika. Ketika logika kagum pada perempuan karena melihat sifat dan sikapnya (meski wajahnya biasa saja), hati pun ikut bergerak untuk memancarkan perasaan yang istimewa.

Lalu bagaimana dengan perempuan yang cerdas, pandai dan pintar, pantaskah pada logika? Belum tentu. Ada perempuan yang cerdas dan pintar, tapi sifatnya keras, sikapnya egois, dan bicaranya dramatis. Meski demikian, tetaplah menjadi perempuan cerdas dan pintar. Karena perempuan yang cerdas dan pintar bisa mengubah dirinya memiliki sifat yang lembut dan sikap yang ramah.

So, jadilah perempuan yang sama-sama cerdas emosional, intlektual dan spiritual. Ketiganya ini bisa diperoleh hanya dengan belajar, belajar dan belajar.

Pantas pada hasrat

Perempuan yang pantas pada hasrat berkaitan dengan fisik. Yang dimaksud hasrat di sini adalah nafsu. Perempuan yang seperti ini biasanya perempuan yang memiliki fisik yang jika terlihat laki-laki normal hasratnya akan tertarik. Umumnya perempuan seperti ini adalah perempuan yang berwajah cantik, berkulit putih-mulus, bertubuh seksi atau semok, dan seterusnya. Hasrat manakah yang tidak tertarik pada perempuan yang berciri-ciri demikian?

Lalu bagaimana solusinya untuk menghindar dari ciri-ciri di atas? Agar tidak menjadi perempuan yang hanya pantas pada hasrat. Jika menghindar dengan arti membuang fisik yang berciri di atas, sepertinya mustahil. Karena, itu memang pembirian Tuhan yang diciptakan sejak lahir. Sebenarnya bisa sich. Semisal wajah yang cantik dan kulit yang putih-mulus diiris-iris, dan tubuh yang seksi atau semok di suntik penghangus lemak menjadi kurus kerempeng atau dibuat gendut. Tapi itu merupakan tindakan penolakan terhadap pemberian Allah.

Tapi perempuan mana yang menolak kecantikan, kulit putih-mulus dan tubuh seksi atau semok? Wong itu yang diharapkan. Buktinya, banyak yang mempercantik wajah, memutih-muluskan kulitnya, dan bahkan sampai oprasi plastik agar tubuhnya seksi atau semok.

Sebenarnya yang dimaksud menghidar di sini adalah, menghindar dengan cara menjadi perempuan yang pantas pada logika (sebagaimana penjelasan di atas), terutama dalam masalah penampilan, jangan sampai menampakkan warna kulit dan lekukan tubuh. Dewasa ini banyak perempuan yang merasa sudah menutupi aurat, karena menurut mereka aurat itu hanya warna kulit, padahal tidak demikian. Yang dimaksud menutup aurat adalah tidak menampakkan warna kulit dan lekuk tubuh.

Jika perempuan yang pantas pada hasrat tidak memiliki sifat dan sikap yang pantas pada logika, maka perempuan itu hanya akan menjadi idaman para nafsu birahi. Tapi jika dia memiliki sifat dan sikap yang baik ditambah lagi kecerdasan dan pengetahuan (entah pengetahuan apa saja, yang penting bisa bermanfaat), maka perempuan itu termasuk perempuan yang sangat beruntung.

Coba renungkan pernyataan di bawah ini!

“ah, aku tak peduli, perempuan itu sifatnya keras, egois, tidak pengertian, tidak perhatian, bodoh, penampilnnya mau seperti apa, yang penting dia cantik, kulitnya putih-mulus dan bodinya seksi”

Adakah perempuan yang ingin dinyatakan seperti itu? Mungkin, secara lisan tak ada yang mau. Tapi, jika dilihat dari sikap dan penampilnnya, secara tidaklangsung mengatakan mau. Buktinya, banyak perempuan yang lebih memikirkan kecantikannya, keindahan tubuhnya dan penampilannya dari pada memikirkan sifat dan sikapnya. Semisal, ketika wajahnya jerawatan, berminyak, terlihat hitam dan kusam, pasti sibuk mencari pembersih, pemutih dan penyegar wajah. Benarkan? Ayo ngaku! Hehehe.

Sementara sifat dan sikap yang buruk sering kali diabaikan, lebih-lebih keilmuan. Ini bagi prempuan yang hanya sibuk dengan kecantikan dan ke-uwah-an penampilannya. Dan ini, sekaligus bagi perempuan yang hanya memantaskan dirinya  kepada hasrat. na’udzu billahi min dzalik.

Namun, tidak semuanya begitu, ada yang sama-sama diperhatikan. Artinya, selain menjaga dan selalu memperbaiki sikap, sifat, keilmuan, dan ibadahnya, juga memperhatikan fisiknya dengan cara menjaga kecantikannya. Itu pun sebagai bentuk rasa syukur.

Dalam hal cinta, perempuan yang pantas pada hasrat, sulit mendapatkan cinta sejati. Karena, sebagaimana pernyataan di atas, perempuan yang seperti itu rawan diminati oleh laki-laki karena kecantikannya, keindahan tubuhnya dan penampilannya. Sekali lagi, perempuan yang seperti itu hanya diminati, tidak lebih, apalagi dicintai. Jika diungkapkan begini, “Aku ingin memilikimu karena kecantikanmu, keindahan tubuhmu dan penampilanmu”.

Berbeda dengan perempuan yang pantas pada logika. Perempuan yang seperti ini akan mendapatkan cinta meski (mungkin) belum sampai pada tingkatan cinta sejati. Kerana memang cinta sejati sulit diraih, apalagi pada tahap awal. Cinta sejati butuh proses yang cukup lama. Paling tidak bagi perempuan seperti ini mendapatkan cinta bukan karena keindahan fisik dan penampilan. Dan, cinta yang didapatkan oleh perempuan seperti ini akan lebih langgeng dari pada cinta yang didapatkan oleh perempuan yang hanya pantas pada hasrat.

Pada biasanya pernyataan bagi perempuan yang pantas pada logika begini, “Perempuan itu memiliki akhlak yang baik, sifatnya lembut, sikapnya ramah, bicara apa adanya, kata-katanya nyambung, penampilannya sederhana”.

Terlepas dari perempuan yang cantik atau jelek sekalipun, jika perempuan itu pantas pada logika pasti akan mendapatkan cinta yang tidak beralasan karena fisik. Bagi perempuan yang berwajah cantik, jagalah kecantikanmu agar tidak menjadi idola hawa nafsu. Tutuplah dengan penampilan yang sederhana saja, hiasilah dengan sikap yang baik, isilah dengan ilmu.

Pantas pada Hati

Perempuan yang pantas pada hati, sulit dijelaskan ciri-ciri perempuan yang seperti apa. Karena kepantasan pada hati sering kali terjadi diluar kesadaran dan kemampuan. Tidak jarang, ada perempuan tidak pantas pada logika bahkan juga tidak pantas pada hasrat, tapi ternyata pantas pada hati. Semisal ada yang menyatakan,

“Aku sangat mencintai dia. Entah kenapa? Padahal wajahnya tidak cantik dan tubuhnya tidak seksi. Dan juga, dia tidak cerdas dan tidak pintar. Selain itu, dia suka marah-marah, sikapnya tidak ramah, penampilannya tak enak dipandang, egois, dia memiliki banyak kebisaan buruk, dan, pokoknya dia bukan tipeku. Tapi kenapa hati ini sangat mengharapkan dia?”

Itulah hati. Keinginannya terkadang tidak bisa dipahami oleh logika dan tidak diterima oleh hasrat. Hati sudah tahu bahwa perempuan itu biasa-biasa saja tapi tetap saja dipuja. Hati sudah tahu bahwa perempuan itu memiliki kebiasaan buruk tapi tetap saja tidak peduli. Hati berkehendak mencintai perempuan tanpa alasan.

Perempuan yang pantas pada hati akan menjadi perempuan yang sangat beruntung. Semoga semua perempuan menjadi perempuan yang pantas pada hati, agar jika hendak dimiliki benar-benar karena cinta bukan karena apa-apa.

Jika ada perempuan yang pantas pada hati, pantas pada logika dan juga pantas pada hasrat, maka dialah perempuan yang sangat beruntung. Karena perempuan itu akan membuat laki-laki yang memilikinya menjadi laki-laki paling beruntung. Dia perempuan ideal! Tapi yang pasti –terlepas dari itu semua- perempuan yang memiliki sikap yang baik dan pengetahuan yang luas, dan ibadah yang istiqamah pasti akan menjadi impian para laki-laki. (Muhammad)

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »