Wednesday 18th September 2019,

Merasa Tertipu, Ken Setiawan Hengkang dari NII

Merasa Tertipu, Ken Setiawan Hengkang dari NII

ASWAJADEWATA.COM |

Ken Setiawan, mantan Anggota Negara Islam Indonesia (NII) berkisah pengalamannya saat tanpa sadar terjebak dalam lingkaran kelompok separatis itu.

Sebelum bercerita, Ken mengatakan bahwa sesungguhnya dirinya adalah orang NU, terlahir dari keluarga NU dan menimba ilmu di pondok pesantren NU. Namun setelah terjerumus dalam NII dirinya merasa telah salah jalan dan durhaka pada NU.

“Saya sebelumnya pernah mondok di NU, sekarang saya malu pulang ke NU, saya telah durhaka pada NU,” katanya.

Ceritanya bermula saat ia pertama kali ke Jakarta untuk mengikuti lomba Karate. Sesampainya di Jakarta, ia bertemu dengan temannya yang sudah masuk NII. Setelah sejenak mengobrol dengan temannya Ken diajak masuk NII dan membatalkan lomba karatenya.

Setelah itu Ken diajak ke Indramayu, markas NII. Disana ia bertemu dengan anak-anak muda yang terlihat agamis (religius) sehingga semakin menarik perhatian Ken untuk masuk di dalamnya.

“Di tengah kota begini masih ada anak muda yang peduli dengan agama itu membuat saya kagum dan tertarik mengikutinya. Namun ternyata saya salah. Saya malah jadi kriminal bukan agamawan,” katanya.

Setelah masuk jadi anggota NII, Ken kemudian ditugaskan untuk merekrut anggota baru, dengan sasaran utama anak muda. Modus perekrutan yang dilakukan adalah dengan mengkorelasikan antara hukum Islam dan realita bangsa Indonesia, sehingga seseorang berfikir jika Indonesia bukan negara ideal menurut Islam.

“Misalnya seperti hukum minuman keras, itu halal atau tidak? kalau tidak kenapa di Indonesia masih menjual minuman keras? berarti Indonesia bukan negara yang ideal,” terangnya.

Dengan dicekoki logika-logika yang demikian, membuat para pemuda-pemuda labil sangat mudah terpengaruh. Maka tak sulit untuk merekrut anggota baru. Disisi lain, mereka akan terus-terusan disuapi isu-isu atau berita-berita hoax untuk dikonsumsi. Hoax yang diulang terus-menerus akan memberikan sugesti seakan-akan benar dan kita yang salah.

“Contoh sederhana, Saya bawa kucing anggora ke pasar. Kemudian ada lima orang yang mengomentari kucing saya. Orang pertama bilang ” wah anjingnya bagus” lalu saya jawab ” ini bukan anjing tapi kucing”. kemudian orang kedua bilang “wah anjingnya bagus”. Lalu saya jawab lagi ” ini kucing mas, bukan anjing”. Dan selanjutnya orang ketiga hingga kelima mengatakan hal yang sama. Hal itu membuat saya ragu, “ini sebenernya kucing atau anjing ya?” nah, hal semacam itulah yang terjadi di kalangan NII.” paparnya.

Selama ini kita mengenal Pancasila, sebagai lambang negara Indonesia yang telah disepakati para pendiri bangsa. Namun saat bertemu NII, mereka akan selalu mengatakan bahwa Pancasila adalah salah, kafir dan tidak sesuai syariat agama. Hal itu dilakukan terus berulang-ulang hingga mensugesti bahwa Pancasila sesungguhnya memang salah.

NII mengaku beragama Islam tapi tafsirnya berbeda. Rukun Islam kita dan mereka sama-sama ada lima tapi penerapannya berbeda.

Mulai dari Syahadat, bagi kita orang Islam ayat tauhid artinya Tiada Tuhan Selain Allah. Tapi bagi NII tauhid adalah tiada negara selain Islam. Maka barang siapa bernegara selain islam, mereka otomatis kafir.

“Ada sebuah kisah di mana nabi musa mendapatkan wahyu supaya memotong sapi betina. Disitu ciri-cirinyanya adalah berwarna kuning. Nah dengan kawan-kawan NII hal itu disamakan dengan Pancasila. Maka Pancasila harus dimusnahkan. kemudian mereka mengatakan jika Indonesia itu ciptaan manusia sementara Islam adalah ciptaan Allah, lebih bagus  mana ciptaan manusia dengan Allah?” tambahnya.

Rukun Islam yang kedua adalah Sholat ritual dan universal. Bagi mereka menegakkan program negara Islam adalah Sholat. Sholat itu tak lepas dari dzikir dan dzikir adalah mengingat Allah, maka cukup mengingat Allah, mereka sudah Sholat. Dan mereka juga harus taat pada Imam atau pimpinan. Perintah pimpinan adalah perintah Allah.

“Jadi selama tiga tahun saya masuk NII, saya tidak pernah Sholat. Karena Sholat cukup mengingat Allah,” tandasnya.

“Selanjutnya ada Zakat, jika di NII zakat wajib dengan kurma tidak boleh dengan yang lain. Dan puasa, bagi mereka bukanlah seperti kita yang menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga. Di NII yang namanya puasa adalah harus totalitas dalam berjuang,” tambahnya.

Sementara Haji bukan ke Mekah sebagaimana Haji yang semestinya. Di NII Ibadah Haji dilaksanakan setiap tanggal satu muharram di ibu kota negara yaitu Indramayu, di pesantren Az Zaitun sebagai markas NII.

“Ritual Hajinya adalah keliling (thawaf) bukan Ka’bah melainkan keliling pesantren,” papar Ken.

Seiring berjalannya waktu, Ken mulai melihat kejanggalan-kejanggalan yang ada dalam NII. Hingga kemudian Ken memutuskan untuk keluar dari NII meskipun perlu perjuangan yang ekstra. Karena keluar dari NII bukanlah perkara yang mudah.

“Di dalam NII kita tidak boleh bertanya, apapun perintahnya kita tinggal melakukan saja dan kita tidak diperbolehkan juga bertanya kepada orang luar. Saat saya sharing dengan beberapa ustadz mengenai pemikiran-pemikiran, saya sadar jika saya salah,” terang Ken.

Dengan berbagai perjuangan akhirnya Ken berhasil keluar dari NII. Dan saat ini Ken bertekad untuk memperbaiki diri dan membantu orang-orang yang terjerumus ke jalan yang salah seperti dirinya.

Berbekal pengalaman pahitnya, Ken saat ini menyibukkan diri sebagai Ketua NII Crisis Center, yang bergerak di bidang rehabilitasi dan pendampingan mantan korban NII dan paham radikal lainnya. Ken berusaha selalu memberikan kajian-kajian sesuai syariat Islam yang sesungguhnya. Dan Ken juga berusaha membuka pikiran masyarakat agar kembali menerima para korban NII agar tidak ada diskriminasi.

Kisah Ken Setiawan ini disampaikannya sendiri saat acara pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan II, Diklatsus Provost Nasional III dan Dirosah Wustho I Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Bali Jum’at (23/8) lalu di Pondok Pesantren Raudhatul Huffadz, Tabanan, Bali.

Kehadiran Ken mendapat perhatian khusus dari para peserta diklat untuk lebih waspada serta mawas diri menjaga keluarga dan sanak saudara agar tidak terjerumus dalam kesesatan berbalut agama. Untuk itu perlunya belajar agama dengan kyai dan para ulama NU agar menjadi pondasi yang kuat sehingga dapat menentukan jalan yang baik dan jalan yang benar.

Dalam kesempatan itu, turut hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Yaqut Cholil Quomas beseta jajaranya, Ketua Tanfidziyah NU provinsi Bali, H. Abdul Aziz, Rois Syuriah PWNU Bali KH. Noor Hadi Al-Hafidz, Ketua PW GP Ansor Bali, H, Yunus Nai, Ketua NU Care-LazizNU Provinsi Bali, H. Ekky Rizal, MSE, Perwakilan Gubernur dan Polda Bali serta ratusan peserta diklat berbagai daerah Bali maupun luar Bali.

(Muhlisin/dad)

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »