Saturday 11th July 2020,

Muslim yang Seutuhnya: Meluruskan Pemahaman Hadits “al-muslimu man salima”

Muslim yang Seutuhnya: Meluruskan Pemahaman Hadits “al-muslimu man salima”
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Nabi bersabda:

عن عبدالله بن عمرو بن العاص – رضي الله عنهما – عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال: ((المسلم من سلِم المسلمون من لسانه ويده، والمهاجر من هجَر ما نهى الله عنه))؛ متفق عليه.

Muslim yang sempurna adalah seorang yang muslim lainnya merasa damai dari gangguan lidah dan tangannya. Muhajir yg sempurna adalah orang yg berhijrah dari setiap yg dilarang Allah (HR. Bukhari -Muslim)

Setidaknya ada dua hal menarik dari hadist shahih ini:

PERTAMA: Mengapa kata al Muslim diterjemahkan “muslim yg sempurna”? Sebab huruf “al” dalam kata al muslimu itu disebut al al-kamaliyah yaitu huruf al yg berfungsi untuk menunjukkan makna kesempurnaan. Sebab untuk disebut “Muslim saja” cukuplah membaca dua kalimah syahadah. Tetapi untuk menjadi muslim sempurna maka “orang lain tidak boleh merasa terganggu dari lisan dan lidahnya”.

Hadist ini jika dilihat dari aspek gramatika arab sangat menarik. Sebagian status di FB menterjemahkan “muslim adalah orang yg meyelamatkan muslim lain dari lidah dan tangannya”. Terjemah ini salah, sebab meletakkan “muslim lain” sebagai obyek (maf’ul). Padahal hadist itu meletakkan muslim lain sebagai “subyek-pelaku ” atau bahasa nahwu nya sebagai fa’il. Apa bedanya? Nah ini penting. Jika MUSLIM LAIN sebagai subyek, maka keselamatan , kedamaian serta tidak merasa terganggu itu adalah menurut perspektif si muslim lain ini, bukan menurut perspektif si muslimnya. Jadi muslim yg sempurna adalah muslim dimana muslim lain merasa damai dan aman dari gangguan lidah dan tangannya, bukan muslim yg merasa telah menyelamatkan dan mendamaikan orang lain.

Jadi jika ingin menguji kesempurnaan seorang muslim maka bertanyalah pada orang lain apakah ia sudah merasa aman dari gangguannya. Jangan bertanya kepadanya apakah sudah membuat damai orang lain.

KEDUA: Bagaimana dengan Non Muslim?

Memang hadist diatas menyebut “muslim sempurna adalah seorang yg “muslim lainnya” merasa damai. Bagaiaman dengan Non Muslim? Ternyata dalam riwayat lain tidak menggunakan bahasa “man salima al muslimuna” melainkan menggunakan bahasa “من سلم الناس” yang berarti “muslim sempurna adalah muslim yang dimana “setiap manusia” merasa aman dan damai dari gangguan lidah dan tangannya. Jika setiap orang, apapun agamanya dan keyakinannya, merasa aman dan damai dari gangguan lidah dan tangannya, maka ia muslim sempurna. Sebaliknya jika setiap orang, termasuk non muslim, merasa was was, merasa terganggu dari setiap ceramahnya (lisannya) dan kebijakannya (tangan kekuasaannya), maka ia bukan muslim sempurna. Meminjam bahasa Gus Dur, ia barulah Muslim Amatiran alias muslim ecek ecek.

Jadi muslim sempurna adalah seorang muslim dimana setiap orang (muslim dan non muslim) merasa damai dari gangguan lidahnya (ceramahnya) dan dari gangguan kebijakannya (tangan kekuasaannya).

Hadist ini, juga menjelaskan hakikat “Hijrah” dan “Pelaku Hijrah (muhajir) yang sempurna” yaitu setiap orang yang menjahui segala seuatu yg dilarang oleh Tuhan yang maha Esa. Bukan yg mengenakan cadar dari sebelumnya yang tidak mengenakannya, sebab tidak mengenakan cadar bukanlah larangan Allah, bahkan dalam tradisi jawa, mengenakan cadar bisa jadi bid’ah dan tidak sopan (tapi soal prrspektif lo ya). Masih banyak contoh lain yg sering disebut hijrah padahal hakikatnya ia bukan berhijrah dari “larangan Allah” tapi berhijrah dari larangan “tafsir tafsir ulama nya”.

Wallahu A’lam

Selamat “Hari raya iedul fitri” para guru guru dan kawan kawan seperjuangan, mohon maaf lahir batin

Kiai Imam Nakha’i, Situbondo 28052020

 

Leave A Response


Translate »