Wednesday 22nd January 2020,

Psikologi (Menghadapi) Kematian

Abdul Karim Abraham January 3, 2019 Hikmah No Comments on Psikologi (Menghadapi) Kematian
Psikologi (Menghadapi) Kematian
Share it

ASWAJADEWATA.COM – Saat itu, tiba-tiba saya teringat sebuah buku, saat menyaksikan adik saya melahirkan. Tangis bayi dan haru gembira keluarga pecah di ruangan bersalin begitu bayi keluar dari rahim. Ketika itu, langsung terlintas Buku karya Komarudin Hidayat tentang Psikologi Kematian. Buku yang sudah hilang entah siapa yang membawanya. Namun, samar-samar saya mengingat inti isi dari buku tersebut.

Bagi banyak orang, Kematian adalah kejadian yang sangat menakutkan. Tak ada orang yang ingin lekas meninggalkan dunia. Bangunan kehidupan yang telah terbangun dibawah pondasi materi, membuat semua orang tertipu dengan indah dan nikmatnya kehidupan duniawi.

Meninggalkan dunia, bagi mereka yang takut, sama saja meninggalkan segala kenikmatan. Gambaran akan kesendirian setelah mati, sulit bagi manusia meninggalkan kehangatan keluarga tercinta selama di dunia. Belum lagi kekhawatiran akan siksaan sebagai balasan tingkah laku kita di dunia, begitu sangat mengerikan. Dan manusia, benar-benar sangat menghindari dan begitu takut akan kematian.

Melalui buku Psikologi Kematian ini, ketakutan dan kekhawatiran tersebut dicoba untuk dihilangkan. Digantikan dengan kepercayaan dan keyakinan diri bahwa kehidupan setelah dunia akan lebih indah dan menyenangkan. Kenikmatan materi duniawi, tak akan bisa menandingi kenikamatan kehidupan akhirat.

Komarudin menganalogikan dengan Bayi yang akan lahir ke dunia. Dimulai dari pertanyaan kenapa bayi yang baru lahir menangis? Karena sang bayi enggan untuk keluar dari rahim ibunya.

Dalam kandungan, si bayi sudah merasa nikmat dengan segala kehidupan di rahim ibunya. Ia hidup tenang, dengan segala fasilitas dalam rahim yang baginya begitu sangat nikmat. Tak ada yang mengganggu. Tak pernah kelaparan, tak pernah susah, ia menikmati dengan alunan detak jantung sang ibu.

Sehinggat saat sang bayi akan dikeluarkan ke dunia, ia berontak tidak mau meninggalkan kenyamanannya. Ia takut keluar dari kehidupannya yang sudah serba nikamat, sudah tertata, dan sudah aman. Sebagai bentuk protes, kemudian ia mengekspresikannya dengan menangis sekencang-kencangnya.

Tapi kemudian, setelah sang bayi beranjak besar dan dewasa, ia lambat laun menikmati kehidupan dunia yang pada awalnya ia tolak. Makin lama, ia makin mencintai kehidupan di dunia ini. Sehingga jika dibandingkan dengan kehidupannya di dalam kandungan dulu, sungguh tak ada apa-apanya dengan kenikmatan di dunia ini.

Di kandungan si bayi hanya bisa menyaksikan dinding rahim, yang luasnya hanya beberapa senti meter. Tapi kini ia bisa melihat dunia dengan segala pernak perniknya, yang luasnya berjuta-juta kali lebih luas dari kehidupa saat di kandungan. Dan kembali ia sungguh tak ingin meninggalkan kehidupan duniawi ini.

Saat menghadapi kematian, atau membayangkan tentang bagaimana kehidupan setelah mati, manusia harus melihat kembali bagaimana ia lahir, sebagaimana gambaran diatas. Ketakutan sang bayi ketika keluar dari rahim, kemudian perlahan sirna saat ia benar-benar hidup di alam lain selain rahim (Dunia). begitu juga ketika seseorang akan keluar dari dunia ini, kematian adalah pintu masuk untuk menuju kehidupan lain yang akan lebih nikmat dibandingkan kenikmatan duniawi.

Ketakutan kematian harusnya diubah menjadi senyuman tiada tara. Sebab, setelah mati kita akan menyaksikan sekaligus menikmati alam lain yang akan lebih indah dan nikmat. Luasnya dunia yang kita lihat ini, jika dibandingkan dengan luasnya kehidupan setelah dunia, maka akan berkali-kali lipat lebih luas. Ibaratnya, kita hari ini hanya hidup di alam (dunia)yang luasnya sekecil rahim, dan akan meninggalkannya menuju kehidupan akhir yang maha luas, seluas Dunia jika dibandingkan dengan kecilnya rahim.

Yang perlu dipersiapkan dalam menghadapai kematian, adalah bagaimana kita mengubah kondisi suasana saat kelahiran. Jika suasana kelahiran, si bayi menangis sedangkan orang-orang disekeliling tersenyum bahagia. Saat kematian, harus dibalik, kita yang meninggal mati dalam kondisi tersenyum, dan orang lain disekeliling menangis haru karena ditinggalkannya. Untuk mendapat suasana yang seperti ini, tentunya anda yang bisa menjawabnya. Wallahu’alam.

Salam Hangat dari Bali Utara.
(Abdul Karim Abraham)

Leave A Response


Translate »