Wednesday 18th September 2019,

Ritual Bulan Suro, Sebagai Produk Akulturasi Jawa, Hindu dan Islam

Ritual Bulan Suro, Sebagai Produk Akulturasi Jawa, Hindu dan Islam

ASWAJADEWATA.COM – Jejak sejarah dimulainya penetapan kalender Islam di Nusantara ditandai dengan malam 1 Suro pada masa pemerintahan Mataram Islam Jawa yang menurut catatan para peneliti terjadi pada tahun 1633. Sultan Agung Hanyokro Kusumo (berkuasa 1613-1645) sebagai Raja pada saat itu merekayasa perubahan penggunaan penanggalan Islam lewat sebuah penetapan pemerintah. Isi penetapan itu menyatakan mengganti penanggalan Saka yang berbasis putaran Matahari dengan kalender Qamariah yang berbasis putaran bulan.

Nama Suro tetap dipakai oleh masyarakat Jawa hingga kini bersanding dengan nama bulan Muharram dalam bahasa Arab sebagai bulan pertama tahun Hijriyah.

Keberhasilan Sultan Agung dalam menetapkan penanggalan tahun baru Islam tersebut tidak lepas dari kebijaksanaannya yang tetap mempertahankan budaya tradisi masyarakat Jawa terkait pergantian tahun. Tradisi masyarakat Jawa yang telah berlangsung sejak lama sebagai bagian perayaan pergantian tahun Jawa (Hindu) tidak serta merta ditiadakan, bahkan dibuat lebih meriah dari sebelumnya saat sistem penanggalan Hijriyah mulai ditetapkan.

Usaha Sultan Agung tersebut diapresiasi oleh para ulama zaman itu dengan menganugerahinya gelar Wali Raja Mataram. Karena dianggap berhasil membawa dakwah Islam dengan bijaksana dan damai.

Banyak nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat lokal diakomodir dengan melestarikan ritual-ritual tradisi sebagai strategi dakwah para ulama Nusantara terdahulu sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat Islam. Hal itu dimungkinkan karena pemahaman agama mereka sangat mendalam sehingga mampu mengambil hikmah-hikmah inti dalam Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.

Kedalaman ilmu agama inilah yang sangat jarang ditemui pada ulama-ulama Indonesia di era milenial ini, khususnya ditengah fenomena komunitas hijrah yang sedang marak muncul pada masyarakat perkotaan di Indonesia. Bagaimana prilaku beragama hanya berdasarkan dalil-dalil tekstual tanpa menyertakan aspek sosial sebagai konteks yang menjadi tujuan diturunkannya Islam sebagai panduan hidup umat manusia.

Budaya sebagai produk akal manusia yang terus berkembang berkesinambungan membentuk perjalanan sebuah peradaban. Gerak maju menjadi naluri alami yang mengiringi perjalanan kehidupan manusia dimanapun berada. Dimana setiap kemajuan peradaban manusia itu berangkat dari masa lalu yang senantiasa disempurnakan sesuai karakter dan kebutuhan dimana setiap kelompok masyarakat tersebut berdiam, menyesuaikan dengan kondisi psikogeografis yang tumbuh membentuk karakter dan nalar berbeda dari setiap kelompok masyarakat sesuai tempat dimana mereka berada. Begitu pula masyarakat Nusantara dengan berbagai unsur alam yang saling bertautan membentuk karakter mental dan pola pikir berbeda dengan masyarakat dari belahan bumi lain.

Walaupun dalam perjalanan peradaban sebuah masyarakat tak menutup terjadinya perubahan akibat masuknya unsur-unsur asing seperti bahasa, gaya hidup, atau lainnya, setidaknya ada keunikan hasil peradaban asli yang tetap dipertahankan. Bukan hanya untuk melestarikannya namun juga sebagai penjaga romantisme masa lalu yang menumbuhkan motivasi untuk terus tumbuh menjadi lebih baik.

Ke-Nusantara-an bangsa Indonesia sangat jelas teridentifikasi pada perayaan tahun baru Islam dalam laku tradisi malam 1 Suro (Muharram), dimana penggunaan sistem perhitungan kalender yang berubah tidak membuatnya kehilangan semangat mempertahankan dan meneruskan warisan peradaban pendahulu, sebagai kekuatan pengikat elemen persatuan yang saling bertumpu mendasari terbentuknya negara Indonesia itu sendiri.

Tradisi masyarakat dalam perayaan 1 Suro dapat dikatakan berasal dari perpaduan beragam sumber yang saling terkait dengan indah, diantaranya dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu Jawa, Hindu, dan Islam. Maka dapat dilihat bahwa dari sisi budaya dan peradaban manusia, rasanya tidak ada bangsa lain di dunia ini yang lebih kaya dari Indonesia.

(dad)

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »