Tuesday 15th October 2019,

Sarungan Tidak Menghalangi Pola Pikir Progresif Santri

Sarungan Tidak Menghalangi Pola Pikir Progresif Santri

ASWAJADEWATA.COM – Sungai mengalir ke laut, sejarah mengalir ke langit.

Ditulisnya buku Peradaban Sarung oleh Kyai muda Ach. Dhofir Zuhri atau biasa disapa Gus Dhofir adalah untuk mempertegas peranan santri dalam menjaga Aswaja dan Negara saat ini.

Menurut Gus Dhofir filosofi sarung yang dimaknai sebagai bungkus, demokratis, dan fleksibel ini cukup mempresentasikan karakter santri yang sangat tepat saat ini untuk menghadang gerakan-gerakan pembusukan NU dari dalam.

Santri dan sarung yang terkesan tradisional tak serta merta tertinggal dalam pola pikir progresif dalam menyikapi perkembangan kondisi zaman. Ditunjukkan oleh kalangan para kyai muda pada tahun 1924 dengan gerakan melawan faham Wahabi yang muncul di negara Saudi Arabia melalui inisiatif Kyai Wahab Hasbullah dengan komite Hijaznya. Gerakan inilah yang menjadi embrio lahirnya Nahdlatul Ulama.

Berdirinya Nahdlatul Ulama di tahun 1926 di bawah komando Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari itu menjadi tonggak awal pembangunan benteng Aswaja Nusantara, bahkan sekarang dunia. Ini dibuktikan dengan banyaknya negara-negara mayoritas berpenduduk muslim dunia saat ini menjadikan Indonesia sebagai rujukan dalam menjalankan konsep Islam ramatan lil ‘alamin yang toleran dan moderat dan terbungkus dalam ideologi orisinil bangsa ini yaitu Pancasila.

Berbicara dihadapan para pengurus Lembaga dan Banom PWNU Bali (4/2) yang mayoritas dari generasi muda NU Bali, rektor Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat (STIF) Malang ini mengutip perkataan Imam Ghozali, “Bahwa hancurnya umat/masyarakat suatu bangsa adalah karena pemimpin yang tiran dan rusaknya para Ulama, sedangkan rusaknya Ulama disebakan karena terlalu mencintai harta dan mengejar kehormatan/popularitas”. Artinya kolaborasi antara pemimpin dan ulama sangat diperlukan dalam membangun tatanan masyarakat yang baik.

Menyikapi maraknya indikasi upaya pembusukan di dalam tubuh NU sendiri, Gus Dhofir menjelaskan bahwa itu adalah hal yang biasa dalam sebuah organisasi besar. Gerakan itu jelas dilakukan orang-orang luar yang disusupkan ke dalam NU oleh pihak-pihak yang terganggu akan eksistensi NU di Indonesia. ‘Tidak akan ada penghuni yang dengan sengaja membakar rumahnya sendiri”, ujarnya.

Gus Dhofir juga menerangkan tentang makna ‘Nahdah’ dalam nama Nahdlatul Ulama yaitu, “Sekali berdiri, selamanya tidak akan tumbang ataupun tertidur kembali”. Maka jelaslah bahwa sangat penting bagi generasi Muda NU memahami tujuan didirikannya NU oleh para ulama pendahulu sehingga dapat bersungguh-sungguh dalam merawat dan menjaga eksistensi dan perannya terhadap agama, bangsa dan negara ditengah rongrongan konspirasi global dunia saat ini dalam berbagai aspek.

(dad)

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »