Wednesday 18th September 2019,

Sejarah Awal Berdirinya Kampung Loloan Jembrana Bali

Sejarah Awal Berdirinya Kampung Loloan Jembrana Bali

ASWAJADEWATA.COM | Dalam rangka perayaan Festival Budaya Loloan (FBL) yang akan berlangsung mulai 5 s/d 7 September 2019, ada baiknya kita menengok sejenak kebelakang cerita awal terbentuknya kampung Loloan yang unik di Bali ini.

Loloan adalah nama sebuah perkapungan Muslim kuno di Pulau Bali terletak di Kabupaten Jembrana Bali. Komunitas enclave ini berdiri sejak abad ke XVII bersuku Bugis-Makassar dan Melayu. Kampung ini memiliki sejumlah relik peninggalan abad ke XVII, antara lain bahasa Melayu Loloan atau Base Loloan yang masih dipakai di hampir separuh komunitas di Kab. Jembrana Bali.

Kampung ini berdiri dilatarbelakangi oleh peristiwa geo politik di Indonesia bagian timur khususnya ketika Kesultanan Makassar/Gowa dapat ditaklukkan oleh Kompeni Belanda/VOC, setelah terjadinya drama peperangan Antara Sultan Hasanuddin Raja Gowa yang ke-6 dengan Belanda dalam peperangan yang paling besar dan dahsyat yang pernah dialami oleh VOC khususnya perang di lautan puluhan sampai ratusan kapal perang Belanda dapat ditenggelamkan oleh armada Hasanuddin bahkan seluruh armada VOC di Batavia dikerahkan seluruhnya untuk menaklukkan Makassar.

Sultan Hasanuddin oleh Belanda dianggap sebagai musuh yang paling berani dan pantang menyerah sepanjang sejarah peperangan VOC sehingga Belanda menjulukinya sebagai De Haantjes van Het Oosten, yang memiliki arti “Ayam Jantan Dari Timur”. Setelah perjanjian Bongaya yang diadakan untuk menghindari korban lebih banyak maka terpaksa ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin namun Sultan Wajo La Tenri Lai To Sengngeng tak berkenan ikut tanda tangan sebagai koalisi Kesultanan Gowa.

Sebenarnya Wajo awalnya berkoalisi dengan Bone dan Soppeng yang dikenal dengan koalisi Tellum Ponco’e (Tiga puncak kerajaan Bugis ) untuk membendung dominasi imperium Gowa sebagai kerajaan Islam terbesar di Sulawesi yg dikenal dengan istilah BOSOWA (Bone, Soppeng dan Wajo). Namun Wajo akhirnya menarik diri dari koalisi karena Bone dan Soppeng sdh berkoalisi dengan Penjajah Belanda yang akhirnya Wajo merapat ke Gowa oleh karena Wajo dianggap mbalelo (cengkal = Bhs. Bali) oleh Belanda, maka target selanjutnya pasukan Belanda setelah menghancurkan benteng Somba Opu di Makassar adalah harus menginvasi dan menghancurkan benteng Tosora di kesultanan Wajo yang berlangsung selama 3 bulan lamanya pengepungan oleh Belanda dan sekutunya Soppeng,Bone dan Buton.

Waktu itu para pembesar Wajo secara diam-diam terpaksa eksodus dari tanah airnya ke luar dari Wajo dengan parahu phinisi dan lambo menuju ke beberapa daerah di wilayah tanah air di bawah kejaran armada Belanda yang panglima perangnya bernama Cornelius Jancoon Speelman yang secara khusus ditarik dari India ke Batavia yang tugasnya hanya fokus untuk menaklukkan Gowa/ Makassar. Salah satu dari armada pembesar Wajo adalah yang sempat sandar di pantai Air Kuning Jembrana di bawah pimpinan pembesar Kesultanan Wajo bernama Daeng Nakhoda inilah cikal-bakal komunitas Kampung Muslim Loloan di Jembrana Bali. Loloan 1 September 2019 M./ 1 Muharram 1441 H.

Oleh: H. Baginda Ali (Penulis Buku Awal Mula Islam di Bali)

Share yuk ...

Leave A Response


Translate »