Friday 03rd April 2020,

Semesta, Film Tentang Manusia, Agama, Alam dan Budaya Nusantara

Semesta, Film Tentang Manusia, Agama, Alam dan Budaya Nusantara
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Mengambil tujuh lokasi berbeda, antara lain; Bali, Kalimantan Barat, NTT, Aceh, Papua, Jogjakarta, dan terakhir di Jakarta, film Semesta yang diproduseri Nicholas Saputra dengan sutradara Choirun Nisa menyajikan realita khas masyarakat Nusantara dalam berhubungan dengan alam lingkungannya.

Meski dengan berbagai cara yang berbeda dalam mengungkapkannya, dikarenakan perbedaan latar belakang budaya, etnis dan keyakinan termasuk agama, bangsa Indonesia entah bagaimana memiliki kesamaan kesadaran saat berinteraksi dengan alam lingkungan.

Kesadaran akan pentingnya kelestarian alam yang menjadi tumpuan penunjang kehidupan peninggalan nenek moyang leluhur tetap tertanam di jiwa mereka dimanapun dan bagaimanapun kondisinya.

Menariknya, cara interaksi masyarakat Nusantara dengan alam, walaupun berbeda agama, semua didasari oleh keyakinan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta bagi kepentingan umat manusia. Dengan menjaga keterlangsungan ekosistem yang sudah terbentuk alami, sama dengan menjaga keberlangsungan seluruh ciptaan Tuhan. Dan itu pada akhirnya akan mendatangkan kebaikan terhadap kehidupan manusia.

Patut dicatat bagaimana dalam film ini ditunjukkan ritual-ritual penghormatan kepada alam dalam rangka mensyukuri anugerah Tuhan oleh suku-suku di Nusantara. Seperti perayaan dan do’a bersama yang dilakukan oleh masyarakat dayak Kalimantan saat selesainya musim panen, dengan harapan agar panen berikutnya bisa lebih baik dari sebelumnya. Atau ritual doa tolak bala yang dilakukan masyarakat Aceh saat kawanan gajah merusak tanaman warga. Disertai penyampaian ustadz setempat kepada warga agar menjaga keberlangsungan habitat gajah dengan tidak merusaknya, sehingga hewan itu tidak harus mendatangi pemukiman warga hanya karena untuk mencari makanan.

Bahkan di Raja Empat Papua, dimana terkenal dengan ekosistem lautnya, gereja disana yang dimotori oleh kaum ibu membuat sebuah aturan yang disebut Sasi, yaitu masa jeda pengambilan hasil laut berupa kerang dan teripang sebagai komoditas utama. Ini dimaksudkan agar alam memiliki waktu untuk melakukan recovery dan secara alami kembali menyediakannya bagi manusia. Penetapan waktu mulai dan berakhirnya masa jeda itu ditandai dengan misa khusus dengan doa bersama yang dilakukan di dalam gereja.

Realita masyarakat Nusantara ini telah berlangsung turun temurun. Semua keyakinan dan agama yang dianut tidak menghilangkan budaya warisan nenek moyang mereka, terutama bagaimana memperlakukan alam sebagai unsur penunjang kehidupan, Merawatnya, menjadi simbol akan rasa syukur kepada Tuhan sang maha pencipta kehidupan.

Film yang banyak menampilkan sisi eksotis pulau-pulau di Nusantara serta pernik kehidupan masyarakatnya ini seakan membuka hati kita ketika pada scene terakhir menampilkan kehidupan urban. Jakarta sebagai kota metropolitan dengan segala kompleksitasnya, ternyata masih ada kalangan masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya kelestarian alam sebagai alat keseimbangan kehidupan manusia.

Sekelompok anak muda mendirikan sebuah lahan konservasi tanaman organik dengan tujuan sebagai media dan sarana pendidikan kepada generasi muda, agar ketika menjalani kehidupan urban yang hiruk pikuk penuh tekanan, mereka tidak harus melupakan pentingnya peran alam, bahkan dengan berkegiatan langsung dengan alam serta memahaminya, mereka dapat menjadikannya sarana refreshing yang sangat bermanfaat baik bagi dirinya maupun lingkungan.

Film Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin, di bawah bendera Tanakhir Films ini menjadi sebuah film dokumenter berdurasi 90 menit yang sangat layak ditonton. Terlebih saat Indonesia sering mengalami bencana alam yang kebanyakan disebabkan oleh ulah manusianya sendiri. Dalam film ini kita dapat melihat, berbagai kisah tentang mereka yang mencintai dan merawat Indonesia sesungguhnya dengan sepenuh hati.

Penulis: Dadie W. Prasetyoadi  

 

 

Leave A Response


Translate »