Wednesday 01st April 2020,

Sikap Gus Baha’ Kepada Orang yang Suka Nanya Dalil

Sikap Gus Baha’ Kepada Orang yang Suka Nanya Dalil
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Fenomena beragama saat ini memang semarak. Terlihat dari semangat masyarakat muslim belajar agama dengan mengikuti majelis ilmu, pengajian atau kajian. Tidak hanya di dunia nyata, sosial media begitu ramai dengan konten agama. Dari status, komentar, artikel, opini, berita, meme dan video yang diposting di akun-akun sosial media tersebar di jagat maya.

Semangat belajar agama masyarakat muslim di negeri ini sungguh luar biasa. Ada yang mengatakan, kepenatan dalam sibuknya bekerja dan minimnya pengetahuan agama membuat semangat itu berkobar membara. Ada yang mengatakan, kaum milenial saat ini haus akan ilmu agama. Seiring dengan kondisi ini, syi’ar dan dakwah Islam seolah hidup di tanah ibu pertiwi.

Baca juga: Gus Baha’, Beragama ‘Santuy’ Seperti Nabi

Namun demikian, semangat dan haus akan ilmu agama membuat mereka kebablasan. Mereka tidak mengerti bahkan tidak tau diri dalam beragama. Mereka memposisikan diri layaknya seorang mujtahid. Menurut pemahaman dangkal mereka, melakukan suatu amaliyah harus berdasarkan (mengetahui) dalil, katanya. Jika tidak ada dalilnya maka tidak boleh dilakukan. Semua perbuatan dalam beragama wajib ada dalilnya. Demikianlah argumen yang disampaikan oleh mereka yang seolah mengerti bagaimana mengambil keputusan hukum dari dalil.

Pertanyaannya, apakah orang yang suka meminta dalil atau yang ngotot harus ada dalilnya, sudah paham dengan apa yang dimaksud dengan dalil? Lebih parahnya lagi, ada yang sangat ngotot agar dalilnya harus dari Al-qur’an dan Sunah, seolah orang seperti ini bisa membaca rujukan berbahasa Arab. Padahal ketika disodorkan satu kitab hadits saja, pasti tidak bisa membacanya. Atau, jangan-jangan membaca Al-Qur’an tidak bisa baca dengan benar. Tapi meski demikian, dengan pd-nya orang seperti ini maksa minta teks dalil Al-Qur’an dan Hadits. Alasannya, tidak mantap melakukan amaliyah jika tidak mengetahui dalilnya dan harus dari Alquran atau hadits shahih.

Nah, karena itu, Gus Baha’ menyikapi mereka yang suka nanya dalil atau hadits shahih. Gus Baha’ menyampaikan, “Orang yang suka nanya apakah haditsnya shahih, jawab saja, ya hadits shahih. Toh mereka juga tidak ngerti.” Hal ini disampaikan pada acara Ngaji Bareng di UNISSULA. (Link video)

Mereka yang baru belajar agama ingin langsung naik level layaknya seorang mujtahid. Mereka bertanya persoalan agama sekaligus ngotot ada dalinya. Seolah, setelah mereka tahu dalilnya akan melakukan istinbath hukum. Padahal, andai saja jika dalil yang disampaikan bukanlah dalil yang menjadi dasar persoalan yang ditanyakan, mereka tidak akan mengerti juga. Alias, jika mau “mengkadali” dengan cukup berbahasa Arab lalu katakan, “inilah dalilnya”, mereka akan manut saja. Hehehe

Mengetahui dalil suatu amaliyah ibadah atau muamalah memang baik. Namun, jika harus dalil tekstual (manshushah) yang dimaksud maka sulit ditemukan. Kita harus memahami bahwa tidak setiap persoalan yang ada dalam kehidupan kita semuanya terdapat dalil yang tekstual. Karena teks-teks Al-Quran dan Sunah yang diturunkan semasa kenabian sangat terbatas jumlahnya, sementara persoalan agama dan keagamaan tidak terbatas dan selalu bergerak mengikuti perkembangan peradaban umat manusia. (KH. Afifuddin Muhajir, Membangun Nalar Islam Moderat, hal. 56-57)

Contoh gampangnya, hukum keharaman narkoba dan sejenisnya, apakah ada dalil tekstual di dalam Al-Qur’an dan Sunah? Kita mengetahui bahwa narkoba dan sejenisnya tidak ada di zaman Rasulullah. Maka tidak ada teks yang sharih di dalam Al-Quran dan Sunah. Lalu bagaimana kok narkoba dan sejenisnya bisa diharamkan? Padahal dalam Al-Qur’an dan Sunah tidak menjelaskan secara sharih sebagaimana diharamkannya khamr.

Kemudian, yang menjadi pertanyaan lagi adalah, apakah orang yang suka ngotot minta dalil sudah hafal atau mengetahui dalil setiap apa yang dilakukannya, khsusunya dalam beramal atau beribadah? Contoh gampang saja, apakah sudah mengetahui dalil kewajiban shalat, puasa, zakat, haji dan sekaligus dalil setiap syarat, rukun fardlu dan seterusnya? Saya yakin, mereka yang suka nanya dalil itu tidak mengetahui semua dalil ibadah yang dilakukannya. Dan saya juga yakin, meski mereka tidak mengetahui dalilnya, mereka tetap melaksanakan shalat dari syarat, rukun dan seterusnya.

Pertanyaannya, kenapa meski mereka tidak mengathui dalil tentang shalat dari syarat, rukun dan serangkaian ritualnya tetapi mereka tetap menunaikan shalat? Tentu mereka melaksanakan shalat itu pertama yang didapat ilmunya adalah tentang cara melaksanakan shalat, tidak tau apa dalilnya. Paling hanya  baca buku tuntutnan shalat.

Oleh sebab itu, dalam menjalani ajaran Islam memiliki ketentuan yang harus diikuti. Ketentuan ini sudah dirumuskan oleh para ulama. Kita sebagai umat muslim yang tidak mampu mengetahui dan memahami dalil sebagai dasar menjalani ajaran Islam, maka cukup dengan mengikuti semua apa yang sudah dirumuskan oleh para ulama dalam karyanya, yaitu kitab-kitab rujukan. Terlebih bagi mereka yang baru belajar agama, cukup merujuk kepada seorang yang ahli atau kompeten dalam ilmu agama tanpa ngotot nanya dalil atau minta hadits shahih.

Mereka terprovokasi oleh ustadz yang hafal satu dalil saja

Sesungghnya, mereka yang ngotot harus ada dalil Al-Qur’an dan Sunah, karena mereka terprovokasi oleh kelompok yang hanya hafal satu dalil untuk semua masail. Sehingga, setiap apa saja yang ditanyakan oleh mereka yang awam, dalilnya hanya itu-itu saja, namanya juga dalil kunci inggris. Sementara orang awam yang bertanya tersebut, manggut-manggut saja, karena dia pahamnya dalil dari Al-Qur’an atau Sunah. Orang awam yang bertanya ini, tidak paham, apakah dalilnya benar atau tidak.

Akibatnya, ketika bertanya kepada seseorang yang memang merujuk pada pendapat ulama atau kitab-kitab, orang awam tersebut tidak mau percaya dan enggan mengikuti, karena dasar atau argumen yang disampaikan bukan dari Al-Qur’an dan Sunah. “Jawaban ustadz ini kurang mantap bagi saya, karena jawabannya tidak make Al-Quran dan Hadits”, katanya sok ahli dalil.

Penulis: Muhammad Taufiq Maulana (Ketua PW LTNNU Bali)

 

Leave A Response


Translate »