fbpx
Monday 09th December 2019,

Sutedja, Gubernur Bali Pertama yang Keberadaanya Misterius Hingga Kini.

Sutedja, Gubernur Bali Pertama yang Keberadaanya Misterius Hingga Kini.
Share it

ASWAJADEWATA.COM | Kendati menjadi Gubernur Bali pertama, nama Anak Agung Bagus Sutedja bagi masyarakat Bali masih begitu asing. Keberadaan Sutedja hingga sekarang masih misterius. Banyak kalangan menduga ia menjadi korban pembantaian PKI tahun 1965-1966. Namanya kemudian dilupakan hingga sekarang. Padahal keterlibatan Beliau dalam membangun Bali, bahkan perjuangannya pada zaman revolusi 1945, tidak diragukan lagi.

Sutedja lahir dari keturunan darah biru, putra Raja Jembrana terakhir, Anak Agung Bagus Negara. Pada zaman revolusi kemerdekaan, ia dengan dibantu pengaruh ayahnya sebagai Raja, menggerakkan rakyat Jembrana dalam mengusir penjajah. Bahkan pihak Belanda sangat takut dan berhati-hati dengan sepak terjang Sutedja.

Pada umumnya kelompok bangsawan kerajaan mendukung atau berkolaborasi dengan kolonial, tapi di Jembrana, dengan adanya Sutedja, pihak Belanda dibuat bingung untuk meredam gerakan pro kemerdekaan yang dipimpin langsung oleh putra mahkota Raja Jembrana tersebut. Suatu hal yang langka kala itu.

Ia kemudian dikenal Soekarno, hingga menjadi “anak emas” nya. Begitupun sebaliknya, Sutedja sangat Soekarnois. Hubungan mesra ini pulalah secara tidak langsung menguntungkan Bali, yang akhirnya lepas secara administratif dari Sunda Kelapa menjadi Provinsi tersendiri. Atas perjuangan Sutedja pula, pada akhirnya Hindu ditetapkan oleh Soekarno sebagai Agama yang diakui di Republik ini.

Namun, konflik politik di Jakarta pasca Oktober 1965, nasib Sutedja menjadi tak menentu. Bahkan karena dicap “kiri” dengan tuduhan sebagai anggota PKI, keluarga besar Sutedja di Puri Negara menjadi amuk massa anti komunis, menyusul pembantaian besar-besaran di Bali yang menewaskan kurang lebih 80 ribu jiwa.

Padahal, ia sebagai Gubernur Bali, tidak pernah terdaftar sebagai salah satu anggota partai tertentu. Anak Agung Istri Ngurah Sunitri, sang istri, mengaku bahwa suaminya tidak masuk partai manapun untuk menjaga netralitasnya sebagai pemimpin rakyat.

Amuk massa tersebut berbuah pengrusakan dan pembakaran terhadap Puri Negara. Bahkan beberapa keluarga dekat Sutedja terbunuh. Dalam situasi yang tak kondusif tersebut, Soekarno memerintahkan Sutedja dan keluarganya untuk pindah sementara ke Jakarta pada bulan Desember 1965.

Dalam hari-harinya di Jakarta dilaluinya dengan kecemasan. Nyawanya terus terancam menysul meredupnya kekuasan Soekarno. Hingga pada akhirnya ia “dijemput” beberapa orang berseragam militer tanggal 29 Juli 1966 dan tak pernah kembali.

Nama Sutedja begitu asing, bisa jadi karena selama 32 tahun Orde Baru berkuasa, namanya tak pernah disebut-sebut sebagai pahlawan, orang yang berjasa pada Bali dan Republik ini. Namanya dibuat hitam yang haram untuk disebut dan diingat. Dan kini, 21 tahun sudah Orde Baru tumbang, akankah kita belum juga “berani” untuk mengenangnya dan menghargai jasanya?

(Abdul Karim Abraham)

Leave A Response


Translate »