Syekh Jumadil Kubro, Kunci Awal Kaderisasi Walisongo

Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Runtuhnya Kota Baghdad di tangan bangsa Mongol di abad 13 berlanjut dengan hancurnya peradaban orang-orang Arab, dimana banyak perpustakaan yang menyimpan literasi-literasi agama dan kebudayaan hancur, sekolah-sekolah bubar, masa depan anak-anak terlihat suram.

Menyusul bersamaan dengan kondisi tersebut, muncul mufti-mufti karbitan dengan pemahaman dangkal yang miskin literasi (nashshi zhahiri) mempropaganda agama puritan, seperti model Ibnu Taymiah (wafat 1328). Pada masa itu terjadi juga penghancuran makam-makam para wali secara besar-besaran, organisasi-organisasi tarekat dibrangus, dan kebebasan bermadzhab dilarang.

Melihat kondisi masyarakat jazirah Arab yang mengenaskan saat itu, dengan pertimbangan bahwa Arab bukanlah tempat terbaik lagi bagi masa depan perkembangan agama Islam, Syekh Jamaluddin al-Akbar al-Husaini atau lebih dikenal sebagai Syekh Jumadil Kubro yang ketika itu berdiam di Hadlramaut (Yaman) pergi meninggalkan negeri Arab menuju India.

Kepergiannya dengan harapan dapat menemukan negeri yang dapat dijadikannya tempat menyebarkan warisan pengetahuan Islam seperti sebelum masa kelam datang di Arab.

Pengembaraannya sampai di negeri Campa (sekarang Cambodia) setelah sebelumnya sempat singgah beberapa lama di India. Di Campa saat itu sudah menjadi pusat penyebaran agama Islam. Saat di negeri Campa inilah putranya yaitu Syekh Ibrahim as-Samarqandi menikah dengan seorang putri dari Raja yang masuk Islam. Dari pernikahan inilah lahir Raden Rahmat yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel kelak.

Tidak berhenti sampai di Champa, Syekh Jumadil Kubro yang sangat kagum dengan cerita-cerita heroik Kerajaan Majapahit di tanah Jawa memutuskan untuk pergi ke sana guna melihat langsung peradaban negeri besar itu. Apalagi masyhur kabar bahwa orang-orang Jawa saat itu dapat mengalahkan dan mengusir bangsa Mongol dari tanah Nusantara yang ingin dikuasai mereka. Peristiwa yang terjadi di tahun 1293 itu saat Majapahit dipimpin oleh rajanya yang pertama Raden Wijaya.

Syekh Jumadil Kubro merasa bahwa dengan keberanian dan kebesaran  kerajaan Majapahit yang menguasai bumi Nusantara tersebut dapat membawa harapan agama Islam dapat kembali membangun masa keemasan. Maka berangkatlah beliau menuju tanah Jawa untuk mendakwahkan agama Islam kepada raja Majapahit dan tinggal di Nusantara hingga akhirnya wafat di Tosora, tanah Bugis.

Dari Syekh Jumadil Kubro inilah dimulainya kaderisasi Walisongo sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa dan Nusantara.

Dadie W. Prasetyoadi

Sumber: Ahmad Baso, Islam Nusantara, Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia (Jilid I), (Pustaka Afid,2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *