Wednesday 05th August 2020,

Tokoh Penyebar Awal Islam Di Bali: Klungkung, Badung, Denpasar, Buleleng dan Tabanan

Tokoh Penyebar Awal Islam Di Bali: Klungkung, Badung, Denpasar, Buleleng dan Tabanan
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Suatu hal yang tidak kalah pentingnya untuk diketahui oleh ummat Islam Bali adalah para tokoh yang terlibat dalam penyebaran awal agama Islam di Pulau Bali baik mengenai asal daerahnya, sukunya maupun daerah di mana mereka menyebarkan agama Islam di Bali dan tentunya ketokohannya di tempat mereka berada antara lain:

Di daerah Klungkung

Jika dirunut kedatangan mereka tentu yang pertama kali tokoh yang menyebarkan Islam di Bali adalah tokoh yang masuk di kerajaan Gelgel di masa pemerintahan Dalem Ketut Ngelesir (1380 dan seterusnya). Ketika Dalem ke Majapahit dan kemudian kembali lagi ke Gelgel dari Majapahit, beliau dikawal oleh 40 orang muslim dua di antaranya adalah pimpinan mereka yang termasuk ahli agama Islam yaitu Kiyai Abdul Jalil dan Raden Modin. Dua orang inilah yang pertama kali mengawali dalam menyebarkan agama Islam di Bali (daerah Klungkung sekarang) yaitu di awal abad masuknya Islam di Bali.

Kedatangan rombongan yang kedua di masa Dalem Waturenggong ada sekitar 100 orang sebelum keruntuhan kerajaan Majapahit dan berlanjut dengan kedatangan rombongan yang kedua di masa Dalem Waturenggong ada sekitar 100 orang muslim dipimpin oleh Dewi Fatimah, maka Dewi Fatimah tentunya juga termasuk penyebar awal munculnya agama Islam di Klungkung.

Periode berikutnya yaitu Habib Ali Bin Umar Bin Abu Bakar Al Hamid sebagai penyebar agama Islam di Klungkung. Beliau juga sebagai juru penerjemah bahasa Melaju ke dalam bahasa Bali di Kerajaan Gelgel. Yang terakhir adalah KH. Ismail Bin Muhammad sebagai penulis Al Qur’an tulis tangan yang ada di kampung Muslim Kusamba adalah salah satu ulama besar pada abad XIX di Kusamba Klungkung. Pada awal abad ke XX ada seorang Ulama yang cukup terkenal yang muridnya berasal dari berbagai daerah di Bali ulama itu bernama KH. Badaruddin adalah menjadi guru agama Islam utama masyarakat kampung Gelgel.

Di daerah Badung dan Denpasar

Adapun Tokoh penyebar Agama Islam pertama di daerah Denpasar adalah Raden Mas Sastroningrat. Beliau datang ke Bali sebagai utusan dan berasal dari kerajaan Mataram Islam (Yogyakarta) namun beliau merupakan bangsawan suku Madura dan lahir di Madura datang ke Bali menyebarkan agama Islam di lingkungan kerajaan Badung. Beliau mengadakan pendekatan ke Keraton melalui cara mengawini purti raja Pemecutan yang bernama Islamnya Ida Ayu Siti Hadijah sekaligus beliau juga sebagai penyebar agama Islam di daerah Kepaon Denpasar.

Di samping itu ada juga seorang muballigh yang datang kemudian dari Gujarat bernama Haji Abdurrahman beliaulah yang memberikan nama masjid di kampung Kepaon dengan nama masjid Jamik Al Muhajirin. Demikian juga ulama yang bernama Pua Matoa atau lebih dikenal dengan H. Mukmin suku Bugis Bone beliau menyebarkan agama Islam di daerah kampung Serangan dan juga dikenal dengan nama Tuan Guru Bungin. Demikian pula Isa Rafiek seorang Bangsawan suku Bugis Bone di daerah kampung Bugis Suwung Denpasar, dan di daerah Tuban dan Tanjung Benoa Badung.

Ada pula seorang Pendekar dari Kampung Bugis Suwung yang bernama Brahima dalam dialek Bugis yang sebenarnya bernama Ibrahim, dengan dibantu oleh anak buahnya bernama Daeng Mapilih dan Daeng Mangeneng serta Haji Jamaluddin adalah penyebar agama Islam di daerah Angantiga Petang Badung.

Di Daerah Buleleng

Penyebar agama Islam di daerah Buleleng yang paling awal adalah kedatangan sunan Prapen sebagai utusan dari Kesultanan Giri Kedaton Gresik juga dikenal dengan Sunan Giri IV ( 1660 ) yang menyebarkan Islam di daerah Buleleng. Bahkan beliaulah pertama kali membangun Musholla di Buleleng yang menjadi cikal bakal masjid Agung Singaraja Buleleng dengan dibantu oleh salah seorang putra raja Buleleng Anglurah Panji Sakti sebelum beliau melanjutkan perjalannya ke Lombok.

Dari aspek arkeologi memang masih ada bukti sejarah yang lainnya mengatakan bahwa ada peninggalan kuburan Cina muslim kuno di daerah Labuhan Haji Desa Temukus Kecamatan Banjar yang bernama The Kwin Lie yang dikenal dengan nama Syekh Abdul Qodir Muhammad. Diperkirakan bahwa beliau itu adalah bagian dari anak buah Laksamana Cheng Ho utusan Kaisar Ming yang dalam ekspedisinya mampir di Buleleng dan merupakan bagian penyebar Islam di Buleleng khususnya di daerah pesisir utara Bali.

Demikian pula H. Muhammad Yusuf Saleh di akhir abad ke 18 pernah menjadi Takmir Masjid yang pertama di Singaraja yang berhasil mengislamkan seorang putra mahkota kerajaan Buleleng bernama I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi. Beliau ini merupakan keturunan ke IV  Raja Agung Panji Sakti sebagai Raja Buleleng dan pendiri Kota Singaraha dan atas bimbingannya maka I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi merupakan orang muallaf petama di Bali yang mampu menulis Al Qur’an dengan tangan yang menjadi pusaka penting perkembangan Islam di Bali sekarang tersimpan rapi di Masjid Agung Jami’ Singaraja.

Dan termasuk penyebar agama Islam di Buleleng adalah seorang ulama besar yang pernah menjadi ulama terkenal di Buleleng adalah KH. Ahmad Dahlan berasal dari desa Pegayaman.

Di Daerah Tabanan

Di daerah Tabanan juga bisa kita temui tentang kuburan kuno yang berarti di masa itulah Islam masuk di daerah Tabanan dan sekaligus bahwa  merekalah penyebar pertama agama Islam di daerah Tabanan. Seperti kuburan orang Muslim yang terdapat di puncak pengunungan di Bedugul kuburan ini adalah dua bersaudara yang diperkirakan datang dari kerajaan Karangasem (tidak diketahui sukunya). Namun diperkirakan sukunya adalah suku Sasak Karangasem bernama Syekh Hasan yang berada di puncak dan kuburan Syekh Husein yang ada di lereng disebut juga dengan langgar jangkar emas.

Nama Nur Alam adalah bagian dari penyebar agama Islam di lingkungan kerajaan Tabanan nama  aslinya  Aryo Nur Alam suku Jawa asal Desa Temenggungan Blambangan Banyuwangi datang ke  Tabanan Bali (1808 M). Beliau diangkat sebagai juru bahasa kraton dan sempat dikawinkan oleh Raja Tabanan Batara Nguluhur dengan salah seorang putrinya serta diberi tanah pelungguhan yang kini dikenal dengan kampung Jawa atau Banjar Tunggal Sari.

Bersambung…

Oleh: Drs. H. Bagenda Ali, M.M/Penulis Buku AWAL MULA MUSLIM DI BALI

Leave A Response


Translate »