Wednesday 08th July 2020,

Tradisi Khas Umat Islam di Bali yang Menguatkan Kerukunan Beragama

Tradisi Khas Umat Islam di Bali yang Menguatkan Kerukunan Beragama
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi diartikan adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Setiap daerah di seluruh Nusantra pasti masing-masing memiliki tradisi. Contoh di daerah penulis di Kubu Raya Kalimantan Barat, setiap hari-hari besar Islam ada tradisi ngerem (mengirim atau mengantarkan). Di Hari Raya Idul Fitri misalnya, setiap rumah di kampung penulis mengirim makanan kepada tetangga sekitar.

Di Bali ternyata juga ada tradisi yang sama seperti tradisi di kampung penulis. Hanya istilahnya saja yang berbeda. Di Bali mengistilahkan mengirim makanan kepada tetangga dengan ngejot. Tradisi ini merupakan kebiasaan masyarakat di Bali yang sudah turun-temurun dilakukan. Namun ada perbedaan antara kampung penulis dengan di Bali. Jika di kampung penulis mengirim makanan kepada tetangga yang sama-sama muslim, tetapi di Bali mengirim makanan juga kepada tetangga yang Hindu.

Di dalam Islam memang ada istilah sedekah yang artinya berbagi kepada orang lain. Selain berpahala, sedekah dengan cara berbagi merupakan bentuk kepedulian kepada sesama, serta sebagai cara untuk menjaga persaudaraan dan menjunjung tinggi kebersamaan. Menjaga persaudaraan dan menguatkan kebersamaan menjadi sesuatu yang sangat penting di dalam Islam. Maka, shalat yang paling utama adalah berjamaah.

Megibung

Tradisi magibung merupakan salah satu perwujudan dari konsep Tri Hita Karana (Parahayangan, Pawongan dan Palemahan) yang menjadi landasan berkehidupan bagi masyarakat di Bali, khususnya yang berikatan dengan keharmonisan/kerukunan hubungan antara manusia dengan sesama manusia (Pawongan). Dalam masyarakat Hindu di Karangasem, magibung dilakukan apabila ada upacara-upacara tertentu, misalnya upacara perkawinan, ngaben, potong gigi/mepandes, dan upacara keagamaan lainnya. Dalam kegiatan upacara tersebut masyarakat sekitar diundang oleh pemilik hajatan untuk membantu persiapan dalam melaksanakan upacara dan pada akhir kegiatan akan dilakukan makan bersama yang disebut megibung.

Tradisi megibung juga menjadi salah satu sarana terciptanya intergrasi sosial di kalangan penduduk Muslim dan Hindu, sehingga dapat dijumpai juga pada komunitas-komunitas muslim di berbagai daerah muslim di Bali. Di kampung Dangin Sema maupun kampung Kecicang, demikian Gelgel, Kepaon. Meski Megibung lahir dan berkembang di kalangan Hindu, namun terjadi peminjaman budaya untuk memperkuat interaksi inter atau sesama muslim sehingga bisa dikatakan megibung sesama muslim dan umat Hindu juga diundang ikut serta megibung.[1]

Ngejot

Tradisi lainnya untuk menumbuhkan integrasi sosial antara kaum muslim dan masyarakat Hindu, yaitu tradisi ngejot (mengantar makanan ke tetangga). Kegiatan ngejot bisa berwujud tindakan mengantarkan makanan berupa nasi dengan lauknya dan jajan dalam rangka perayaan upacara keagamaan. Misalnya Hari Raya Nyepi dan Galungan/Kuningan pada umat Hindu dan Hari Raya Idul Fitri pada umat Islam. Melalui aneka kegiatan ini umat Hindu dan Islam mengakui adanya perbedaan dan bersamaan dengan itu, mereka pun menciptakan praktik sosial yang mendukung keberadaan masing-masing berasaskan toleransi.[2]

(Buku Fikih Muslim Bali)

[1] I Made Pageh, Wayan Sgiartha, dan Ketut Sedana Artha, Nayama Bali-Nyama Selam: Belajar dari Enclaves Muslim di Bali, (Denpasar: Pustaka Larasan), hal. 65-67

[2] I Made Pageh, Wayan Sgiartha, dan Ketut Sedana Artha, Nayama Bali-Nyama Selam, hal. 75

Leave A Response


Translate »