Friday 25th September 2020,

10 Nasihat Kiai Azaim Bagi Insan Pesantren yang Berpolitik

10 Nasihat Kiai Azaim Bagi Insan Pesantren yang Berpolitik
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Kali ini, saya akan mengangkat obrolan asyik dan inspiratif dari channel you tube Val Hasan. Obrolan atau bahasa pesantrennya ngaji santai tapi penuh makna dan hikmah ini membahas tema “Santri Harus Berpolitik”.

Kiai Azaim yang menjadi nara sumber tunggal dalam ngaji santai tersebut, menyampaikan banyak hal terutama tentang santri berpolitik sesuatu tema yang diangkat dalam program face talk di channel you tube milik Gus Boy.

Dari sekian dawuh yang disampaikan oleh Kiai Azaim terkait santri dan politik, saya berupaya memetik pesan-pesan sebagai nasihat bagi kita sebagai santri, khususnya santri yang telah hidup di tengah-tengah masyarakat yang tentunya sedikit banyak berhadapan dengan politik.

Tentang politik, yang mungkin selama ini diartikan sebagai sesuatu yang negatif, menurut Kiai Azaim kita perlu membedakan politik yang baik dan buruk. Menurut Kiai Azaim, “Kita perlu mengklasifikasi siyasah yang bagaimana seharusnya. Ada sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Sayyidil Walid Abuya Sayyid Ahmad Al-Maliki bahwa politiknya Nabi, siyasahnya Nabi adalah siyasah shalihah“.

Kiai Azaim mencontonkan para tokoh yang menggunakan politik yang baik atau siyasah shalihah, yaitu para ulama sebagai penerus Nabi. “Kalau Nabi mewariskan penerusnya al’ulama waratsatul anbiya’, maka para ulama yang berkarakter khas inilah yang kemudian bisa melanjutkan siyasah shalihah itu. Dimana kita menemukannya? Alhamdulillah, para masyaikh kita, guru-guru kita di dunia pesantren telah meneladankan bagaimana Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ri, Kiai Hasan Sepuh bagaimana kemudian menjadi sosok cah angun bagi masyarakatnya”

Ada beberapa poin yang mungkin penulis bisa memberi catatan dari dawuh Kiai Azaim tentang maksud politik yang baik atau siyasah shalihah:

Pertama, jika berpolitik, gunakanlah politik perjuangan. Bukan memperjuangkan politik demi kepentingan materi. Pesan Kiai Azaim, “Politik perjuangan bukan memperjuangkan politik. Politik perjuangan itu ya siyasah shalihah. Sementara memperjuangkan politik ya sudah tendensinya sudah pragmatis. Olle berempa (dapat berapa)”

Kedua, cah angun dalam berpolitik wajib menjadi karakter dan prinsip. Sehingga tujuan politik tidak lain hanya demi kemaslahatan umat semata. Dawuh Kiai Azaim, “Dengan ‘arif bijaksana menjadi cah angun bagi masyarakatnya”.

Ketiga, perbuatan yang sudah ditetapkan haram oleh agama, jangan sampai dihalalkan dengan segala cara atau dalih, hanya demi kepentingan politik. Kiai Azaim mengingatkan “Kita juga harus mengukur bahwa selain ada konsep Islam, Iman dan Ihsan. Kan ada ‘aysratus sa’ah, fenomena menjelang akhir zaman. Kenyatannya begitu, istilah maduranya “buruh ke patthuh”. Kalau nggak begini, kiamat tambah lama. kan begitu ya? Ini kan bahasa untuk menenangkan saja. tetapi jangan kemudian dianggap sah-sah saja. Hal yang tidak boleh, hal yang haram meskipun dilakukan banyak orang tetap haram. Bukan kemudian berubah menjadi sah-sah saja”

Keempat, sepertinya sudah lumrah, para politikus mengucapkan yang benar tetapi memiliki maksud tertentu. Atau kata-katanya suci karena menggunakan ayat Alquran dan Hadits tetapi terselip ambisi. Atau juga janji-jani manis semata. Dawuh Kiai Azaim, “Bisa jadi seperti statemen Sayyidina Ali bahwa kalimatu haqqin  urida bihal bathil, kalimatnya benar tapi kemudian ada tujuan yang terselubung yang nggak bener”.

Kelima, dunia politik memang rawan dan penuh dengan ambisi dan main sikut saja. Tentu ini politik yang tidak baik, yang tujuannya hanya demi jabatan dan materi. Sehingga setiap ada kesempatan, sebenarnya tidak memiliki kemampuan atau tidak benar, karena berambisi langsung saja main sikat. Sebagaimana dawuh Kiai Azaim, “Ada bahasa, kalau nggak ngambil sekarang, kapan lagi?”

Keenam, muhasabah atau evaluasi diri itu sangat penting dalam berpolitik. Terlebih jika berpolitik diduga tidak sesuai dengan prinsip siyasah shalilhah. Pesan Kiai Azaim, “Bagi yang masih ada kesempatan untuk mengevaluasi diri, tolong segera dievaluasi sebelum ditegur oleh Sang Maha Penegur. Tapi kita masih tetap beharap bahwa dia akan menajdi orang baik. Evaluasi yang kedua, kalau tidak, ya ada yang Maha Pengadil.”

Ketujuh, jangan menjadikan seorang kiai atau pesantren hanya sebagai sandaran politik demi meraup suara.Dengan teriakan “saya sudah dapat restu dari kiai”. Tapi kemudian meninggalkannya. Dawuh Kiai Azaim, “Ketika datang ke kiai atau pesantren. Karena bahasa tubuh tidak bisa dipungkiri. Datang ke pesantren hanya jadi atau mencari sandaran dan kemudian akan ditinggalkan”

Kedelapan, Nilai-nilai pesantren wajib menjadi prinsip dalam berpolitik di masyarakat. Kiai Azaim berpesan, “Muhasabah bagi mereka yang berpolitik, sudah terjawab di pesantren ada dzikir dan wirid. Ketika kembali kepada habitatnya, dia akan menemukan jati dirinya. Wahai insan pesantren, Anda itu mulia dengan kemulian pesantren. Karena pesantren adalah benteng agama Islam. Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih. Jadi, insan pesantren, marilah kita kembali kepada nilai pesantren yang sangat luhur itu, bentengnya agama. Tentunya sangat luhur, sangat mulia. Tidak ada yang menandinginya. Maka jangan direndahkan oleh kita sebagai bagian darinya.”

Kesembilan, politik, terutama politik praktis, jangan sampai dijadikan ajang pemecah belah persaudaraan, persatuan dan merusak keutuhan bangsa dan negara. Apalagi seorang muslim, jangan sampai sikap politiknya malah merusak nilai-nilai Islam. Kiai Azaim sangat menegaskan, “Tetapi ketika al-islam mahjubun bilmuslimin, oknum-oknum inilah yang kemudian merendahkannya. Terakhir kali ini bagaimana umat islam dipecah belah. Karena persolan pilkada, pilpres dan semacamnya. Seolah-olah ini adalah suatu kebenaran sejati. Begitu tersadarkan bahwa ini kepentingan sesaat. Apa? Sudah kadung putus silaturahim, sudah kadung mencela kemaren-kemarennya, sudah kadung sakit hati. Untuk menyambung kaca yang retak itu sulit.”

Kesepuluh, berpolitik tidak harus politik praktis. Kiai Azaim menaruh harapan besar bahwa akan ada generasi dari pesantren yang akan menjadi pejuang yang siap mengadi demi agama, negara dang bangsa. Sebagaimana harapan Kiai Azaim, “Karena berpolitik tidak harus di politik praktis. Ketika Anda menjaga ekonomi, menjaga ketahanan pangan. Ini politik yang luar biasa. Bahkan ketika Anda menjaga rumah tangga aman, itu juga politik sosial kemasyarakatan. Sehingga tidak terjadi dekadensi moral dan semacamnya. Kita punya harapan dengan lahirnya generasi baru. Kesalahan-kesalahan kemarennya, sudahilah. Kita lahirkan generasi yang lebih baik, dengan pengkaderan yang lebih baik. Politik atau siyasah yang shalihah. Mungkin hari ini masih sebuah mimpi, tapi optimis. Dengan ketekunan, dengan pengawalan yang baik, dengan pendidikan yang baik ada harapan yang besar. Kelak di masa depan lahir panglima pejuang-pejuang agama, negarawan, politisi yang betul-betul memperjuangkan nilai agama di segala lini kehidupan ini”.

Demikian yang bisa penulis petik dari dawuh Kiai Azaim tentang santri dan politik. Semoga kita semua, khususnya para santri bisa mengamalaknnya. Amin. Wallahu a’alam. (Gus Tama)

Like this Article? Share it!

Leave A Response


Translate »