Friday 22nd October 2021,

Abad 21, Transisi dari Peradaban Analog ke Digital

Abad 21, Transisi dari Peradaban Analog ke Digital
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Oleh: Dadie W. Prasetyoadi

Semakin sering kita mendengar perdebatan publik tentang hal-hal yang membuat hati gundah akhir-akhir ini. Entah berupa komentar yang saling bersahutan melakukan pembenaran pendapat pribadi, maupun tanggapan pro dan kontra dari orang/kelompok lain.

Sejak perdebatan mulai dipanggungkan di media dengan teknologi baru melalui pertunjukan komersial televisi hingga perang bantahan di status media sosial, masyarakat semakin mudah beropini dan cepat menilai sesuatu dengan spontan. Walaupun jika ditelaah lebih dalam, terlihat bahwa sangat minim manfaat yang didapat. Bahkan cenderung membawa lebih banyak pertentangan melelahkan yang tak berujung. Ini karena semangat perdebatan itu bukan untuk mencari solusi bersama, melainkan lomba aktualisasi olah pikir dengan tujuan meningkatkan nilai jual profesi, jasa, ataupun sekedar trend gaya hidup.

Lagi-lagi alih teknologi dengan segala perkembangannya yang pesat menjadi pintu menuju peradaban baru manusia di bumi. Jika kita mau sebentar saja saling menahan diri dan menyimaknya, akan sangat mudah memahami mengapa fenomena tersebut menjadi marak saat ini.

Era digital, lahirnya kecerdasan buatan, hingga teknologi nano dari setiap produk kebutuhan dasar manusia pelan-pelan membangun peradaban baru. Sangat jelas terasa sejak usia peradaban itu menginjak abad ke-21. Migrasi pola pikir manusia dari generasi analog ke generasi digital ini memunculkan berbagai perbedaan persepsi dalam menyikapi setiap situasi dan kondisi sosial. Di sini lah manusia membutuhkan mediasi dari generasi transisi. Ya…generasi transisi inilah kunci dari sinkronisasi dua generasi yang sangat berbeda.

Layaknya gadget, secanggih apapun dia akan selalu membutuhkan perangkat converter (alat pengalih) sebagai jembatan agar teknologi sebelumnya yang memang bagus dan masih layak digunakan dapat tetap berguna. Kadang dari persilangan dua teknologi itu malah menghasilkan hasil yang unik dan bernilai. Perangkat pendukung ini berfungsi sebagai interface atau layanan yang mempertemukan dua titik yang berbeda.

Generasi transisi ini bisa dikatakan sebagai generasi jembatan yang bakal mampu membawa keseimbangan. Tugas yang tidak mudah karena harus menjalani dua sisi peradaban sekaligus tanpa bisa menolaknya. Generasi ini juga dituntut harus fleksibel dan bersedia mengerahkan segala daya upaya serta pengetahuan yang dimiliki, untuk menghindarkan residu hasil revolusi teknologi yang berserakan. Agar tidak menjadi bahan yang bisa meciptakan gesekan berbahaya dalam proses hijrah manusia menuju peradaban baru, yaitu sebuah peradaban dimana siapapun dituntut untuk dapat menaklukkan sembari berdamai dengan teknologi.

Setiap kita hendaknya membuka mata dan segera sadar bahwa di zaman keterbukaan sekarang ini tidak melulu menyediakan informasi yang sesuai dengan harapan dan pendapat kita. Kemampuan masyarakat untuk menyaring dan selektif terhadap data atau informasi yang tersedia harus selalu dimutakhirkan. Butuh usaha bersama dari semua komponen bangsa untuk dapat meredam tumbuhnya benih perpecahan antar sesama anak bangsa, sehingga tidak menguras energi dan mengikis rasa persaudaraan yang telah dibangun sejak seabad lebih dengan susah payah penuh cucuran keringat dan darah oleh para pendahulu negeri.

Seperti dikutip dari seorang penyair yang mengatakan bahwa, “Pekerjaan yang paling melelahkan adalah mengurus kebencian.”

Like this Article? Share it!

1 Comment

  1. Om aming hammer Street December 10, 2019 at 1:10 pm

    Keren. Jangan lelah menulis bil!

Leave A Response

Translate »