Friday 23rd October 2020,

Awal Mula Berdirinya NU Pertama di Bali, Terletak di Jembrana

Awal Mula Berdirinya NU Pertama di Bali, Terletak di Jembrana
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Berdirinya Organisasi Nadhatul Ulama (NU) di Loloan Jembrana merupakan ormas Islam NU pertama berdiri Di Bali. Ormas ini berdiri murni ketika itu dikarenakan bermula dari adanya muncul gerakan “Islam Puritan” (klaim langkah pemurnian ajaran Islam) yang terorganisir. Maka dipandang tidak cukup hanya dengan perlawanan personal saja, tetapi harus ada wadah persatuan yang dapat mengamankan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) dari serangan kelompok-kelompok Islam lain itu yang lebih tersohor dengan nama gerakan Wahabisme.

Wahabisme adalah ideologi keagamaan resmi Arab Saudi. Ia secara umum digambarkan sebagai gerakan puritan, fanatik, anti-modern, berorientasi ke masa lalu, literal dan skriptural, dengan indoktrinasi dan intoleransi sebagai cirinya yang menonjol. Sikap takfiri dan tabdi’i (klaim membid’ahkan dan selanjutnya mengkafirkan) terhadap pihak lain. Paham ini mewakili sekte Islam paling puritan dari ekspansi gerakan dakwah salafi kontemporer di seluruh dunia.

Pada abad 20 lalu, dan kini di awal abad 21 diuntungkan berkat melambungnya harga minyak dunia meskipun sekarang harga minyak dunia sedikit merosot namun Arab Saudi tetap melenggang untuk mendukung penyebaran Wahabisme di seluruh dunia Islam termasuk Indonesia dengan finansial dalam jumlah yang tidak sedikit.

Pada saat itu sekitar tahun 1930-an di Pulau Jawa termasuk di Bali bagian barat mulai terasa keberadaanya. Banyak tokoh tokoh Wahabi Salafi yang berdatangan dan kadang mengajak berdebat tentang klaim kesesatan ajaran ASWAJA menurut mereka. Sengaja mencari dan melawan berdebat dengan ulama-ulama ASWAJA ketika itu. Hal yang dipermasalahkan (digugat) oleh mereka antara lain tradisi umat Islam ASWAJA. Yakni tentang yasinan, tahlilan, tawasshulan, kirim fatihah, maulidan, nuzulul qur’an, isra’ mi’rajan, qunut, talaffudz niyat bil-lisan, ta’wil ayat, ziarah kubur, iman kepada qadha’ dan qadar, mengamalkan tasawwuf dan tarekat. Semua amaliyah ini dibid’ahkan dan disesatkan oleh merek.

Hal inilah yang menyebabkan Kyai Wahab Hasbullah ketika itu terpaksa didatangkan ke Bali (Loloan) sekitar tahun 1930-an. Menurut Kyai Haji Ahmad Damanhuri  (tokoh sejarawan Loloan), bahwa sebenarnya yang datang pertama Ke Loloan Jembrana saat itu atas permintaan tokoh tokoh Agama di Loloan adalah utusan KH. Wahab yang berasal dari Pasuruan Jawa Timur bernama KH. Fathurrahman pada sekitar Maret 1933. Dengan hanya mengendarai sebuah perahu Jukung, utusan Kyai Wahab Hasbullah itu menyeberangi selat Bali dan mendarat di pelabuhan Jembrana di daerah Cupel. Sebab waktu itu pelabuhan yang digunakan untuk menghubungkan pulau Jawa dan pulau Bali terletak di daerah Cupel Kec. Negara.

Setelah beristirahat sejenak di Desa Cupel, beliau melanjutkan perjalanan menuju kampung Timur Sungai (Kelurahan Loloan Timur sekarang). Tepatnya di samping Masjid Agung Baitul Qadim Loloan Timur. Utusan Kyai Wahab ini mengenalkan ormas NU yang telah didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 -sekitar 7 tahun lewat- kepada para alim ulama dan masyarakat Islam Jembrana. Dalam Kesempatan itu, utusan Kyai Wahab berpidato antara lain isinya: “Kalau boleh diibaratkan sebagai penjual obat, saya ingin menjajakan saya punya obat kepada tuan-tuan, jika cocok alhamdulillah jika tidak cocok tidak apa-apa” obat yang dimaksud adalah Jam’iyah Nahdhatul Ulama.

Dalam pertemuan tersebut sempat terjadi tanya-jawab seputar masalah-masalah agama antara lain tentang menghadapi serangan dari tokoh tokoh yang berpaham Wahabi ini. Para ulama dan tokoh lokal Jembrana merasakan ada kecocokan antara ajaran Islam tradisional yang hidup di Jembrana saat itu dengan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah ( ASWAJA ) yang dikembangkan oleh Jam’iyah NU yang baru berdiri ini (masa itu). Oleh karena itu, diplomasi utusan Kyai Wahab dalam menawarkan NU ini dengan cepat dapat direspon dan diterima serta dapat menarik minat para ulama, para tokoh serta masyarakat setempat untuk bergabung ke dalam Ormas NU yang akan didirikan itu.

Mulai saat itulah organisasi NU ini berdiri dan memiliki struktur keorganisasian yang jelas. Saat itu diketuai oleh H. Azra’i sementara KH. Ahmad Dahlan terpilih sebagai wakil ketua dan sebagai Ketua Tanfidziyahnya oleh Supardi serta Bendaharanya adalah Bapak H. Habib Ahmad sekaligus menjadi cabang NU pertama di pulau Bali.

Di bawah kepemimpinan H. Azra’i dan KH. Ahmad Dahlan , gerakan NU di Jembrana segera mendirikan sejumlah madrasah di daerah-daerah sekitar Loloan yang menjadi basis umat Islam Jembrana. Walhasil, pada masa ini NU berhasil mendirikan madrasah di kampung Barat Sungai, Cupel dan Tukadaya sedangkan di kampung Timur Sungai sendiri telah berdiri madrasah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan yang dirikan sebelum terbentuknya NU.

Mengapa NU di Bali pertama kali berdiri di Jembrana? Perlu diketahui bahwa di Jembrana /Kampung Loloan sejak zaman kerajaan dahulu sampai di masa penjajahan Belanda sudah menjadi lumbung lahirnya ulama-ulama ternama dan beberapa ulama pendatang yang juga ikut bermukim di kampung ini. Beberapa ulama ternama asal kampung ini yang pernah puluhan tahun berguru di tanah suci Mekkah antara lain: seperti KH. Agus Salam, KH. Muhammad Said, dan KH. Muhammad As’ad, serta KH. Abdurrahman bin KH. Ishaq. Bahkan yang terakhir ini sempat pula melanjutkan belajarnya  dan menetap di Mesir, dan sempat menjadi guru di Mekah yang muridnya antara lain: TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid pendiri Nahdhotul Watan (NW)  Pancor di Lombok Timur NTB dan TGH. Muhammad Shaleh Bengkel Labu Api Lombok Barat NTB kedua tokoh yang cukup masyhur di Lombok ini.

Adapun generasi berikutnya adalah  KH. Abdurrahman Yusuf  (ayahanda KH. Imron Tuwed) dan terakhir KH. Abdurrahman Mahmud (Ayahanda KH. Muhammad Zaki HAR) ketua MUI Kab. Jembrana saat ini. Para ulama asal Loloan ini mereka sempat mondok di sekitar Masjid al-Haram di awal pengaruh Wahabi infiltrasi masuk ke daerah Hijaz (Arab Saudi). Sedang Ulama Pendatang yang bermukim di Loloan /Jembrana yang pernah juga mengenyam pendidikan agama di Arab Saudi antara lain KH. Ahmad Dahlan (asal Semarang) dan KH. Habib Ali Bafaqih (asal Banyuwangi)

Pada umumnya ulama-ulama ini pernah juga beguru kepada Kiyai-kiyai ternama di Jawa dan Madura sebelum mereka berguru ke Mekah antara lain mereka berguru kepada KH. Kholil Bangkalan KH. Hasyim Asy’ari Jombang dan lainnya.

Maka tidak mengherankan jika kemudian di Kampung Loloan Jembrana ini sudah lebih dahulu tersohor sebagai tempat bermukimnya Ulama-ulama (ASWAJA) zaman dahulu dibandingkan dengan daerah lainnya di Bali. Di samping itu, tokoh-tokohnya pun memang juga bagian dari murid-murid ulama-ulama besar di Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU dan seterusnya. Itulah sebabnya tokoh-tokoh ulama Jembrana ketika itu dengan segera dapat merespon keinginan guru-gurunya di Jawa untuk mendirikan ormas Islam seperti NU ini di Bali sebagai wadah perjuangan mereka terutama di daerah mereka berada. Wallahu a’lam bis-shawab

Oleh: Drs. H. Bagenda Ali, M.M/Penulis Buku AWAL MULA MUSLIM DI BALI

Like this Article? Share it!

Leave A Response


Translate »