Tuesday 26th January 2021,

Gus Baha’: Ada Kebodohan di Balik Ego

Gus Baha’: Ada Kebodohan di Balik Ego
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Gus Baha’ mengisahkan tentang Imam Ahmad, Imam Syafi’I dan ulama’ yang sangat rileks menghadapi persoalan yang dialaminya. Semisal Imam Ahmad yang tidak terprovokasi menjadi emosi karena diperlakukan tidak baik oleh tetangganya. Imam Syafi’i yang dibilang dibenci oleh orang-orang di kampungnya, tetapi Imam Syafi’i menyikapinya dengan santai.

Menurut Gus Baha’, karena ulama atau para sufi dulu tidak mengedepankan ego. Karena ketika ego itu bangkit akan muncul kebodohan di situ. Sementara kita tidak, gampang terprovokasi ketika ada orang yang tidak berlaku baik kepada kita karena ego yang muncul menjadi emosi.

Di saat ego bangkit dari diri kita, maka kita akan tampak menjadi bodoh. Bahkan seorang ustadz atau tokoh sekalipun menampakkan egonya secara otomatis dia menjadi bodoh. Misal, ada orang menfitnah lalu ditanggapi dengan ego sampai melakukan sesuatu yang tidak pantas karena untuk membalas orang yang menfitnah. Maka di saat itulah kebodohannya menjadi tampak jelas.

Terlebih di zaman yang serba media sosial seperti saat ini. Orang-orang sangat mudah melakukan sesuatu untuk menyulut emosi yang disebabkan keegoan. JIka kita mudah juga menanggapi kelakuan orang-orang itu, ya kita akan kelihatan sangat bodoh. Namun terkadang kita tidak sadar, karena sudah dikuasai oleh emosi yang didorong ego.

Media sosial saat ini sudah dipenuhi oleh para netizen yang sengaja memang memancing emosi. Dengan cara-cara provokasi, kalau egonya tinggi, sangat mudah sekali tersulut emosinya. Padahal mereka begitu itu memang sengaja untuk memprovokasi.

Ciri orang yang egois itu, merasa benar sendiri, merasa orang terdepan, merasa orang yang harus dipandang, merasa paling pinter, merasa paling ‘alim. Meskpin memang benar dan ‘alim, tetapi jika merasa maka dengan merasa itu ego menjadi bangkit. Kalau sudah ego bangkit mudah terprovokasi. Kalau sudah terprovokasi, bener dan ‘alimnya jadi hilang lalu yang tampak gobloknya.

Makanya harus hati-hati menjadi orang yang merasa benar atau pinter. Lebih baik pinter merasa dari pada merasa pinter. Begitu pesannya seorang yang bijak.

Tulisan ini disarikan dari ngaji bereng Gus Baha’ pada link you tube https://www.youtube.com/watch?v=Rbyvjf6rqJI

(Gus Tama)

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »