Saturday 24th October 2020,

Ketua MUI Pertama Provinsi Bali: Ada Empat Faktor Melandasi Toleransi Beragama di Bali

Ketua MUI Pertama Provinsi Bali: Ada Empat Faktor Melandasi Toleransi Beragama di Bali
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Sejarah dalam hubungan sosial antara Muslim dan Hindu di Bali pada zaman dahulu kala yang perlu dipahami oleh generasi milenial sekarang adalah betapa toleransi menjadi suatu keniscayaan yang kemudian harus terus dijaga dan dibangun. Menurut KH. S. Habib Adnan (alm) mantan pendiri dan ketua MUI pertama provinsi Bali bahwa ada empat faktor penting yang melandasi toleransi antar umat beragama di Bali sejak dahulu antara lain:

Pertama, agama Islam dapat berkembang baik di Bali sehingga antara Islam dan Hindu dapat menjalin hubungan yang harmonis oleh karena agama Hindu (Bali) adalah asli bangsa Indonesia yang mengacu dengan pola pikir bangsa Indonesia. Sehingga yang tumbuh dan berkembang di Bali adalah Hindu yang khas Bali dan bukan Hindu yang berlatar India. Juga sebaliknya, agama Islam yang berkembang di Indonesia adalah agama Islam dengan pola pikir yang khas milik bangsa Indonesia. Sehingga Islam yang tumbuh dan berkembang di sini bercirikan budaya yang kita miliki, dan juga bukan

Islam yang berciri kultur Arab atau Afrika. Kesamaan pandang yang bercirikan budaya dan berpola pikir sebagai bangsa Indonesia ini, kemudian menciptakan suasana rasa penuh kekeluargaan dan keharmonisan. Ini merupakan landasan kokoh yang tak mungkin ditiru atau ditemukan di Negara mana pun di dunia. Inilah kemesraan dan keharmonisan masyarakat Muslim dan Hindu di Bali, yang hingga kini tetap terjalin baik.

Kedua,  sejak awal berkembangnya agama Islam di Indonesia, dapat dikatakan bahwa dari dulu Bali belum pernah mendapat sentuhan langsung dari para wali (Wali Songo) di Jawa. Hal ini dikarenakan bahwa pada masa itu Bali tak pernah masuk “hitungan” dalam jalur perniagaan baik itu dari arah Tuban maupun dari pelabuhan Gersik justru jalur perdagangan terkonsentrasi di kawasan pelabuhan Bone, Sulawesi Selatan atau Bima karena itulah, umat Islam yang hijrah ke Bali  cenderung mengembangkan Syiar Islam dalam suasana persuasif.

Ketiga, sejak masa kerajaan-kerajaan dulu yakni pada masa jayanya kerajaan Bali di Gelgel, tidak pernah terjadi konflik dengan raja-raja Jawa. Artinya dari sejak dulu kala antara kerajaan Jawa dan Bali tidak pernah saling menyakiti.

Keempat, agama Hindu (Bali) dan Islam memiliki kemiripan dalam cara pandang kulturalnya. Dalam budaya Hindu dikenal apa yang disebut “Patra, Kala… dst di mana manusia mengapresir alam atas dasar ruang dan waktu atau zaman dan tempat di sisi lain budaya Jawa juga mengenal apa yang dinamakan” guyub”. Dari hal-hal yang demikian – sampai batas-batas tertentu Islam menunjukkan toleransinya dalam memahami itu semua.

Oleh: Drs. H. Bagenda Ali, M.M/Penulis Buku AWAL MULA MUSLIM DI BALI

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response


Translate »