Friday 23rd October 2020,

Kiai Afifuddin: Khalifah Umar Sebagai Pemimpin yang Menyukai Kritik

Kiai Afifuddin: Khalifah Umar Sebagai Pemimpin yang Menyukai Kritik
Share it

ASWAJADEWATA.COM

Khalifah Umar ibn al-khatthab r.s.  sering dijadikan contoh sebagai pemempin yang menyukai kritik. Beliau punya kebiasaan belusukan ke kampung-kampung. Salah satu tujuannya mencari tahu tentang aib dan kekurangan dirinya. Hal  itu membuat masyarakat  berani dan tidak segan untuk mengeritiknya.

Dikisahkan bahwa S. Umar pada suatu ketika dicegat di jalan oleh seorang perempuan tua bernama Khaulah binti Tsa’labah dan dimintanya berhenti. Cukup lama beliau berhenti di jalan seraya menyimak kalimat-kalimat yang meluncur dari lisan Khaulah binti Tsa’labah yang berisi nasihat nasihat sebagai berikut:

يا عمر ، كنتَ تدعَى عُميرا ثم صرتَ عمر ، ثم قيل لك أميرُ المؤمنين ، فاتق الله يا عمر ، فإنه مَن أيقن بالموت خاف الفوتَ ، و من أيقن بالحساب خاف العذاب

Wahai Umar, engkau dulu dipanggil Umair (Umar kecil), kemudian berubah menjadi Umar, lalu sekarang engkau dipanggil dengan julukan “amirul mukminin”. (Pesan saya): takutlah engkau, wahai Umar kepada Allah, karena barangsiapa meyakini adanya kematian, ia pasti  khawatir akan hilangnya kesempatan, dan barangsiapa yang meyakini adanya hisab, ia pasti takut menghadapi adzab.

Pertemuan di jalan antara Khalifah dan perempuan tua itu menjadi tontonan dan sekaligus membuat orang orang yang melihatnya keheranan. Maka di antara mereka ada yang terpaksa bertanya: wahai amirul mukminin, mengapa njenengan rela berhenti di sini  hanya untuk mendengarkan omongan perempuan tua itu?

Khalifah Umar menjawab: “Seandainya  perempuan itu meminta agar saya  berhenti di tempat ini  dari awal siang sampai akhir siang, pasti saya tidak akan beranjak kecuali untuk shalat. Tahukah kalian, siapakah perempuan tua itu?”

Mereka mejawab: kami tidak tahu.

Umar menjelaskan, Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah, seorang perempuan yang perkataannya didengar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dari atas langit yang tujuh. Apa pantas Umar tidak mau mendengarkan ucapan perempuan itu, sementara Allah Ta’ala mau mendengarkannya.

Kisah tentang Khaulah binti Tsa’labah secara singkat difirmankan oleh Allah sbb:

قد سمع الله قول التي تجادلك في زوجها و تشتكي إلى الله ، و الله يسمع تحاوركما ، إن الله سميع بصير

(المجادلة : ١)

Tentu Allah mendengar perkataan wanita yang mengajukan permasalahan  kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah.  Dan Allah mendengar soal-jawab kamu  berdua.   Sesungguhnya,  Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.

KH. Afifuddin Muhajir

Like this Article? Share it!

Leave A Response


Translate »