Wednesday 21st April 2021,

Kisah Surat Ajaib Saidina Umar Kepada Sungai Nill

Kisah Surat Ajaib Saidina Umar Kepada Sungai Nill
Share it

ASWAJADEWATA.COM | 

Oleh: Qowi Alaska

Namanya Umar bin Khattab bin Naufal bin Abd Uzza bin Raba’ah bin Abdillah bin Qurth bin Huzaul bin Ady bin Ka’ab bin Luway bin Fihr bin Malik atau lebih dikenal dengan nama Umar bin Al-Khattab.

Umar adalah seorang sahabat nabi Muhammad yang di jamin masuk surga dan juga sebagai mertua baginda nabi. Di dalam catatan sejarah islam nama Umar bin khattab tercatat sebgai khalifah kedua. Setelah menggantikan posisi Sayyidina Abu bakar As Sidiq

Selain itu, sejarah juga mencatat bagaimana pola dan sikap Umar bin Khattab. Dari Keberanian, ketegasan, sikap keadilan dan rasa tanggung jawab serta loyalitas yang tinggi. Dari itu beliau menjadi orang yang amat sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah.

Dari segudang kelebihan yang dimiliki oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Ada satu hal yang memantik perhatian penulis. Yakni ; cara beliau Sayyidina Umar dalam menanamkan tauhid kepada masyarakat mesir.

Kisah beliau ini masyhur. Di informasikan oleh buku – buku sejarah. Sebelum islam menyebar di Mesir. Konon ada peristiwa aneh dan lazim dilakukan oleh masyarakat Mesir, persisnya. di Sungai Nil. kegiatan menumbalkan seorang wanita yang masih muda , perawan yang cantik jelita

Hal itu di lalukan dengan maksud dan tujuan sebagai penghormatan kepada penunggu sungai nil, atau tanda terimakasih karena telah mengaliri dan mencukupi hajat hidup masyarakat sekitar. “sedekah sungai” kira – kira begitulah istilahnya

Namu setelah Amru bin Ash .ra, datang dan memimpin Mesir. Dengan menerapkan tradisi yang islami, ternyata sungai nil menunjukan ke-“takberpihak”-an nya, sedikit demi sedikit aliran sungai mulai menyusut, dan akhirnya benar benar surut nyaris tanpa aliran

Kekeringan yang terjadi di sungai Nil. Berdampak buruk terhadap masyarakat sekitar. Lebih – lebih para petani yang tak dapat lagi melakukan kegiatan pertaniannya karena tak ada air untuk mngaliri pertaniannya

Selain itu yang paling teragis dampak dari keringnya sungai nil adalah keimanan masyarakat mesir yang mulaih goyah. Tak sedikit Masyarakat yang ingin mengembalikan tradisi “tumbal prawan” itu

Tak tahan dengan dampak dari mengeringnya sungai nil akhirnya masyarakat mesir memutuskan untuk menghadap ke kediaman gubernur Mesir. Amr bin al-ash. Untuk mengadu dan meminta solusi

“Wahai gubernur, Sungai Nil kami ini telah mengering. Dia tidak akan mengalir jika tradisi “tumbal perawan” atau “sedekah sungai” tidak dilaksanakan,” ujar salah seorang dari penduduk Mesir kepada Gubernur Amr bin Al-ash

“Ini tidak mungkin dilakukan dalam Islam. Karena sesungguhnya Islam tidak pro terhadap tradisi “tumbal perawan,” kata Amr bin Al-Ash.

Melihat kondisi yang demikian pelik. Amr bin Al-Ash memutuskan untuk menulis surat kepada khalifah Umar bin Khattab yang berada di kota Madinah. Dalam surat itu dia menerangkan bahwa masyarakat mesir ditimpa musibah akibat apa yang dia katakan.

“tidak mungkin dilakukan dalam Islam. Karena sesungguhnya Islam tidak pro terhadap tradisi “tumbal perawan,” kira -kira begitulah cuplikan surat Amr bin Al-Ash.

Sejenak Sayyidina Umar tafakur ke pada Allah setelah membaca surat dari Amr bin al-Ash. Lalu Sayyidina Umar bin Khattab membalas surat ke pada Amru bin al-Ash yang memerintahkan untuk melemparkan surat Sayyidina Umar tersebut ke Sungai nil

“Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri maka janganlah kamu mengalir,  namun jika Allah yang maha perkasa lagi maha kuasa yang mengalirkan mu, maka kami meminta kepada Allah untuk membuatmu mengalir ” kira – kira begitulah isi surat Umar kepada Sungai Nil

Dan Alhamdulillah berkat rahmat Allah. Setelah surat Sayyidina Umar bin Khattab di lemparkan kepada sungai Nil. Saat itu juga Airnya sungai Nil melimpah ruah dan sungai Nil tak lagi mengering

Cuplikan kisah di atas dan isi surat Sayyidina Umar bin Khattab tersebut seolah menegaskan bahwa yang mengatur hajat hidup manusia dan kehidupan di alam ini hanyalah Allah Swt semata. Dalam bahasa Al-qur’an “Iyyakana’ budu wa iyyakanas ta’in”

Kisah Sungai Nil dan surat Sayyidina Umar bin Khattab tersebut seolah mengabarkan kepada kita. Bahwa kisah tersebut tidak hanya berlaku bagi masyarakat Mesir kuno. Melainkan hikmahnya juga sangat relevan sampai di kehidupan kita sekarang

Karena hari ini tak sedikit dari kita yang masih menghamba pada rasa takut. Takut tak makan,  takut anak tak sekolah, takut tak punya jodoh,  takut tak punya pekerjaan dll. Itu semua terjadi karena rasa iman kita kurang mantap bertuhan kepada Allah

Padahal Allah dengan tegas menyatakan dalam firmannya “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. [Ath-Thalaq/65 : 3]

Like this Article? Share it!

Leave A Response

Translate »