Friday 23rd October 2020,

Kita Pernah Ada, Sebuah Catatan Pulang

Kita Pernah Ada, Sebuah Catatan Pulang
Share it

ASWAJADEWATA.COM |

Oleh Dadie W. Prasetyoadi

Saat aroma angin timur pantai Narathat di sisi selatan Negara Gajah lambat laun menghilang dari rongga hidungku, saat itu pula perjalananku menuju akhir. Berleha menunda waktu yang sudah pasti akan berlalu tidaklah berguna. Hanya akan jadi rantai yang mengekang semakin kencang dan memberi luka. Tinggalkan nama dan rasa bersama mereka, entah hingga kapan akan jumpa kembali…

Susuri jalan demi jalan untuk cari tahu jawaban dari pertanyaan yang tak berujung. Seperti jalur labirin yang terlihat sama disetiap sudutnya dan selalu membuat terkejut.

Aku belajar untuk berhenti bertanya dan tetap berjalan. Tiap lorong makin lama semakin cepat beranjak seakan tak ingin kususul atau sekedar kusamakan iramanya. Hingga kadang aku tergopoh-gopoh untuk bisa terus mengikuti.

Namun dengan begitu langkahku terasa lebih ringan, karena hanya menerima jawaban yang tak pernah kutanya, dan tak perlu lagi berheran-heran untuk memaknainya. Tugasku kini hanya mengunyah dan merasakan, kemudian menelannya untuk disimpan sebagai bekal perjalanan.

Pertemuan-pertemuan luar biasa dengan orang-orang luar biasa itu tak sepantasnya kutanyai lagi maknanya. Tak ada yang salah dari sebuah perjalanan, begitu juga dengan apa yang kutemukan ditengahnya. Jika pun ada yang mengganjal hanyalah karena aku tak kuasa menahan heran, bahwa semua seperti porsi yang sudah ditakar.

Tanyongmat, Narathiwat, dan tawa murid-murid bermuka bedak bukan hal mudah buat dilupakan. Belum lagi dekapan hangat kawan-kawan terdekat layaknya keluarga. Lima bulan penuh cinta terlalu cepat berlalu seperti mimpi indah semalam saja. Enggan sekali untuk bangun dan kehilangan.

Pernahkah kita bayangkan apa yang akan dibicarakan orang tentang kita setelah kita pergi? pertanyaan ini sebenarnya sudah lama terjawab oleh kita sendiri, lewat jejak yang tertinggal sejak kita pertama kali menginjak kaki disini.

Jika kita dulu sempat mencatatnya, maka catatan itu akan menjadi jawaban di kemudian hari, lalu kita gunakan untuk mengingat orang-orang yang kini akan kita tinggalkan. Jika tak berkesempatan untuk bertemu lagi.

Di setiap tempat yang pernah kusinggahi selalu ingin coba tinggalkan rasa, yang pantas untuk disimpan agar tak lekang dihapus masa, hingga akhirnya terlupa bahwa kita pernah ada.

Lubok Kayoh, Southern Thailand Maret 2018

 

Like this Article? Share it!

Leave A Response


Translate »